Mimpi dan Tidur REM: Peran Penting dalam Kesehatan Mental
Selama ini, mimpi sering dianggap sebagai bunga tidur atau gambaran acak yang muncul tanpa makna mendalam. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa fase tidur tertentu, yaitu tidur REM (Rapid Eye Movement), berperan penting dalam bagaimana otak merespons situasi stres.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience pada tahun 2017, karya dari para peneliti Itamar Lerner, Shira M. Lupkn, Neha Sinha, Alan Tsai, dan Mark A. Gluck, menyatakan bahwa orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam tidur REM memiliki aktivitas otak yang lebih rendah terkait rasa takut saat dihadapkan pada situasi yang mengejutkan keesokan harinya.
Temuan ini menunjukkan bahwa tidur REM yang cukup sebelum mengalami pengalaman menakutkan dapat membuat seseorang kurang rentan terhadap gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Meskipun demikian, penelitian ini bukanlah yang pertama yang menunjukkan bahwa tidur REM memberikan manfaat unik.
Beberapa ahli bahkan percaya bahwa kurangnya tidur REM dan mimpi dapat bertanggung jawab atas masalah kesehatan yang diderita oleh banyak orang.
Apa yang Terjadi Selama Tidur REM?
Tidur melibatkan lima fase berbeda yang dilalui oleh otak dan tubuh beberapa kali sepanjang malam. Empat fase pertama melibatkan transisi dari tidur dangkal ke tidur nyenyak, sedangkan fase kelima, yaitu tidur REM, melibatkan peningkatan aktivitas otak dan mimpi yang jelas.
Fase tidur REM biasanya relatif singkat selama dua pertiga pertama malam karena tubuh memprioritaskan tidur gelombang lambat yang lebih dalam. “Karena periode tidur REM yang lebih panjang hanya terjadi selama jam-jam terakhir tidur, yaitu pagi buta bagi kebanyakan orang, tidur ini dapat terputus jika kamu tidak menghabiskan tujuh atau delapan jam penuh di tempat tidur,” kata psikolog Rubin Naiman.
Selama tidur REM, ada lebih banyak aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan visual, motorik, emosi, dan memori otobiografi. Namun, aktivitas di wilayah lain seperti pemikiran rasional menurun. Hal ini menjelaskan mengapa mimpi sering kali jernih tetapi tidak masuk akal.
“Mimpi yang kamu ingat saat bangun tidur hanyalah sebagian dari tidur REM. Pada kenyataannya, otak sangat aktif sepanjang fase tersebut,” ujar Matthew Walker, profesor neurosains dan psikologi di University of California, Berkeley.
Manfaat Kesehatan dari Tidur REM
Lebih Mampu Menilai Ekspresi Wajah Manusia
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidur REM dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk membaca emosi dan memproses rangsangan eksternal. Salah satu penelitian oleh Walker, Ninad Gujar, Steven Andrew McDonald, dan Masaki Nishida pada tahun 2010 menemukan bahwa orang-orang yang telah mencapai tidur REM lebih mampu menilai ekspresi wajah setelahnya daripada mereka yang tidak mencapai tidur REM.
Menenangkan Pikiran Sepanjang Malam
Penemuan lain menunjukkan bahwa orang-orang yang melihat gambar-gambar emosional sebelum tidur nyenyak cenderung memiliki reaksi yang lebih ringan terhadap gambar yang sama keesokan harinya dibandingkan mereka yang tidak tidur nyenyak.
“Saya menganggap mimpi sebagai terapi semalam. Mimpi memberikan penenang di malam hari yang mengurangi dampak negatif dari pengalaman emosional kita, sehingga kita merasa lebih baik keesokan harinya,” jelas Walker.
Reaksi Takut yang Tidak Berlebihan
Penelitian dari Lerner dan kawan-kawan menunjukkan bahwa kualitas tidur sebelum peristiwa traumatis dapat memengaruhi bagaimana otak bereaksi terhadap situasi menakutkan. “Semakin banyak tidur REM, semakin lemah efek yang terkait dengan rasa takut,” tulis mereka.
Lerner dan kawan-kawan tidak yakin mengapa hal ini terjadi. Namun, bagian otak yang mengeluarkan norepinefrin selama terjaga dan tidur non-REM, beristirahat selama tidur REM. Norepinefrin dikaitkan dengan stres dan memengaruhi tingkat sensitivitas amigdala, yaitu pusat rasa takut di otak, terhadap rangsangan.
Salah satu teori, dikenal sebagai hipotesis kalibrasi REM, menyatakan bahwa norepinefrin menumpuk di siang hari dan dapat dikembalikan ke tingkat normal selama tidur REM. “Saat itu terjadi, kami percaya bahwa amigdala mungkin menjadi kurang sensitif terhadap rangsangan, dan cenderung tidak bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti,” lanjut Lerner.




