Pangan Lokal Desa Wogo Diapresiasi dan Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Perwakilan Yayasan Bambu Lestari (YBL), Susi Arya, menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Desa Wogo yang masih menjaga budaya sekaligus mempertahankan pangan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Ia menilai bahwa keberadaan pangan lokal ini sangat penting dalam menghadapi arus modernisasi yang semakin menggantikan berbagai jenis makanan cepat saji.

“Terima kasih untuk masyarakat Kampung Wogo yang masih mau mengenal dan memelihara budaya yang sudah diwariskan oleh nenek moyang dan leluhur,” ujar Susi dalam Festival Pangan Lokal dan Budaya di Kampung Adat Nua Wogo, Minggu (8/3/2026). Ia juga menyoroti pentingnya menjaga pangan lokal di tengah gempuran era modern.

Menurut Susi, festival ini menjadi ajakan kepada masyarakat untuk terus menggali dan mengembangkan potensi pangan lokal yang tersedia di tanah sendiri. “Kegiatan ini mengajak kita untuk terus mengembangkan pangan lokal, menggali potensi yang ada di tanah kita untuk digunakan sebagai menu makanan sehari-hari, atau bisa juga menjadi makanan bagi para pelajar di sekolah-sekolah, baik di NTT maupun di Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, berbagai olahan pangan lokal tersebut berpotensi direkomendasikan sebagai bagian dari menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Hasil pangan lokal ini bisa kita rekomendasikan ke dapur-dapur MBG,” tambah Susi.

Festival pangan lokal dan budaya tersebut diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata Desa Ekowisata Wogo dengan dukungan penuh dari Yayasan Bambu Lestari dan Yayasan Kehati. Dalam festival tersebut, perhatian pengunjung tertuju pada sajian menu lokal hasil karya kelompok ibu rumah tangga setempat. Berbagai makanan disajikan secara kreatif, mulai dari olahan ubi, beras lokal, beras jagung hingga sagu.

Menu-menu tersebut dilombakan dengan konsep menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terinspirasi dari program MBG yang kini telah berjalan di sejumlah sekolah di Kabupaten Ngada. Ibu Diana, Ursula, dan Ibu Lis, peserta festival pangan lokal, mengatakan menu yang mereka sajikan sangat layak untuk dimasukkan dalam program MBG.

Menurut Diana, pangan lokal yang mereka olah lebih alami karena berasal langsung dari kebun masyarakat. “Contoh menu MBG yang kami sajikan ini sangat alamiah. Kami sajikan sendiri, bahan dari kebun sendiri, prosesnya juga alamiah seperti yang kami masak sehari-hari,” ungkap Diana. Ia berharap menu lokal bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari program MBG dengan pengukuran gizi oleh tenaga ahli. “Menu lokal menurut saya baik untuk gizi, mungkin takarannya bisa disesuaikan dengan aturan yang berlaku,” tambahnya.

Penjabat Kepala Desa Wogo, Ida Kandida Longa, juga mendukung jika pangan lokal didorong masuk dalam sajian MBG. Ia menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Bambu Lestari yang terus konsisten mendukung pengembangan potensi lokal di desa tersebut. “Kita mendorong agar menu lokal masuk ke dapur MBG sehingga ibu-ibu di desa bisa terlibat langsung. Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Bambu Lestari karena terus mendukung warga Desa Wogo untuk berkembang,” ungkap Ida Longa.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Ngada, Blandina Mamo, mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat Desa Wogo yang telah menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dan kebersamaan. Ia mendorong Desa Wogo untuk terus menjadi role model bagi desa lain dalam mengembangkan potensi lokal. “Saya mengapresiasi masyarakat Desa Wogo dan sekitarnya yang telah menginisiasi kegiatan ini. Pameran pangan lokal dan kreativitas seperti ini sangat baik untuk kemajuan desa dan bisa menjadi daya tarik wisata,” ujar Blandina.

Ia juga menyambut baik usulan masyarakat agar pangan lokal diberi ruang dalam program MBG. “Saya setuju jika menu lokal karya mama-mama masuk menu MBG di Ngada, tetapi kita juga perlu memperhatikan kadar gizi dari setiap olahan,” ujar Blandina.

Peran Penting Pangan Lokal dalam Kesejahteraan Masyarakat

Pangan lokal tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga menjadi sumber gizi yang penting bagi masyarakat. Dengan adanya festival seperti ini, kesadaran akan pentingnya pangan lokal semakin meningkat. Berbagai olahan yang dihasilkan oleh ibu-ibu di desa dapat menjadi alternatif makanan bergizi yang lebih alami dan ramah lingkungan.

Selain itu, pangan lokal juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari program-program nasional seperti Makan Bergizi Gratis. Dengan penyesuaian gizi dan cara penyajian yang sesuai, pangan lokal dapat menjadi bagian dari menu harian di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pelayanan kesehatan.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk yayasan dan pemerintah setempat, sangat penting dalam upaya ini. Dengan kolaborasi yang baik, pangan lokal dapat terus bertahan dan bahkan berkembang menjadi bagian dari identitas budaya dan ekonomi masyarakat.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version