Festival Pegon Jember: Dukungan Anggaran yang Tidak Sesuai Harapan

Festival Pegon di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian masyarakat setelah anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut mengalami pemangkasan signifikan. Dari rencana awal sebesar Rp 200 juta, hanya sekitar Rp 7 juta yang diterima oleh panitia penyelenggara. Hal ini menimbulkan ketimpangan antara perencanaan dan realisasi anggaran yang dinilai tidak sejalan dengan harapan masyarakat.

Kritik dari DPRD Jember

Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, menyampaikan kekecewaannya terhadap besarnya selisih antara rencana anggaran dan realisasi yang diterima. Ia menilai bahwa Festival Pegon bukan sekadar hiburan semata, melainkan memiliki nilai sejarah dan potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat pesisir selatan Jember.

“Festival Pegon memiliki peran penting sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus momentum kebangkitan ekonomi lokal,” ujarnya. Menurutnya, festival yang digelar pasca-Lebaran memiliki makna syukur bagi masyarakat setempat.

Ia juga menyoroti bahwa pada tahun sebelumnya, festival tersebut juga sempat tidak mendapat dukungan anggaran karena kebijakan efisiensi yang merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Oleh karena itu, DPRD berupaya memperjuangkan alokasi anggaran agar festival tetap dapat berlangsung.

Tanggapan Pemkab Jember

Pemerintah Daerah (Pemkab) Jember, meski tidak sepenuhnya memberikan dana dalam bentuk anggaran, tetap memberikan dukungan melalui kolaborasi kegiatan budaya. Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disporaparbud) Jember, Bobby Arie Sandi, menjelaskan bahwa pihaknya akan mendukung penampilan di titik finish di Pantai Watu Ulo.

Selain itu, festival akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang mencerminkan keragaman tradisi masyarakat di wilayah selatan Jember. Pengaruh budaya Ponorogo juga terlihat dalam acara tersebut, termasuk penampilan kesenian Reog.

Swadaya Panitia

Ketua Paguyuban Pelestarian Pegon Jember Selatan, Syamsul Arifin, mengungkapkan bahwa panitia awalnya mengajukan anggaran sebesar Rp 14,5 juta. Namun, hanya sekitar Rp 7 juta yang disetujui oleh pemerintah daerah. Sisanya harus dicari sendiri oleh masyarakat.

Akibat keterbatasan anggaran, peserta festival diminta membawa konsumsi masing-masing karena panitia tidak mampu menanggung seluruh kebutuhan acara. Beberapa kebutuhan lain seperti tumpeng, sound system, hingga jasa kesenian reog juga dipenuhi secara swadaya oleh masyarakat.

Warisan Budaya yang Masih Dipertahankan

Meski dukungan anggaran terbatas, masyarakat tetap berkomitmen untuk menjaga tradisi Festival Pegon agar tidak hilang. Syamsul menyebut kondisi ini mirip dengan tahun sebelumnya ketika festival bahkan tidak mendapat dukungan dana dari pemerintah daerah.

Namun, ia mempertanyakan mengapa Festival Pegon belum menjadi prioritas pemerintah daerah, padahal kegiatan ini telah masuk dalam kalender event tahunan Jember dan diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Tahun ini, festival tersebut akan diikuti oleh 36 Pegon hias yang berasal dari Kecamatan Ambulu, Tempurejo, dan Wuluhan.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version