Perubahan Gaya Hidup Gen Z: Dari Alkohol ke Kopi dan Kafe
Di tengah perubahan tren sosial yang semakin dinamis, Gen Z menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara mereka bersosialisasi. Dari tren minum kopi susu hingga matcha, kafe menjadi ruang utama bagi anak muda untuk berkumpul, lebih santai, fleksibel, dan terjangkau. Hal ini secara bertahap menggantikan budaya minum alkohol yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas sosial.
Kebiasaan Gen Z yang lebih cenderung memilih kopi daripada alkohol tidak hanya berdampak pada gaya hidup pribadi, tetapi juga mencerminkan perubahan pola konsumsi di tingkat nasional maupun global. Salah satu contohnya adalah Agil Ramadhan (24), yang memutuskan untuk berhenti minum alkohol setelah menjalani masa refleksi saat dirawat di rumah sakit karena penyakit lain. Baginya, keputusan ini menjadi titik balik untuk mengubah kebiasaan yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan.
“Kalau otak butuh dopamin, ngopi saja sudah cukup,” katanya. Menurut Agil, alasan utamanya adalah produktivitas pribadi. Ia merasa bahwa alkohol tidak memberi manfaat nyata bagi rutinitas harian. Meskipun ia bukan peminum berat, ia merasakan perubahan dalam pengendalian diri setelah berhenti minum alkohol.
Keputusan Agil sempat menjadi bahan candaan di lingkaran pertemanannya, tetapi ia tetap bersikap tegas. “Saya menolak tanpa memikirkan ‘gak enakan’.” Kini, alkohol tidak lagi menjadi bagian dari aktivitas sosialnya. “Sekarang kalau kumpul ya kopi sama rokok saja.”
Ia juga melihat adanya perubahan yang lebih luas di kalangan Gen Z. “Menurut saya tren Gen Z yang minum lebih sedikit memang ada. Dulu mungkin story dengan botol alkohol terlihat keren, sekarang justru terasa agak norak.”
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan konsumsi alkohol di Indonesia dari sekitar 0,45 liter per kapita pada 2019 menjadi 0,37 liter pada 2023. Secara global, tren serupa juga terlihat. Survei Gallup menunjukkan proporsi orang dewasa di bawah 35 tahun yang minum alkohol turun dari sekitar 72% pada awal 2000-an menjadi sekitar 62% dalam beberapa tahun terakhir. Analisis industri juga mencatat Gen Z mengonsumsi sekitar 20% lebih sedikit alkohol dibandingkan milenial pada usia yang sama.
Kafe sebagai “Rumah Ketiga”
Penurunan konsumsi alkohol berjalan seiring dengan perubahan tempat berkumpul. Di Indonesia, anak muda kini lebih sering memilih kafe karena dianggap lebih nyaman dan fleksibel. Fauziah Sahalehah, pemilik Menepi Coffee di Jakarta Timur, melihat perubahan ini secara langsung.
“Sekarang kalau ada ajakan kumpul, anak muda cenderung ke kafe. Mereka bisa lebih lama karena suasananya santai, bahkan sambil mengerjakan tugas,” ujarnya. Menurutnya, fungsi kafe juga ikut berubah. “Kafe sekarang seperti rumah ketiga. Bisa untuk ngobrol, kerja, bikin tugas, bahkan membuat konten.”
Perubahan ini juga terlihat dari waktu kunjungan. Kafe justru lebih ramai pada malam hari. “Biasanya mulai ramai setelah jam 7 malam. Bahkan ada yang datang jam 11 malam. Kafe lain yang buka sampai jam 3 pagi justru selalu penuh,” katanya.
Tren ini sejalan dengan perubahan pola konsumsi kopi. Survei Jakpat (2024–2025) menunjukkan sekitar 35% Gen Z mengonsumsi kopi pada sore hingga malam hari. Artinya, kafe kini bukan hanya tempat minum, tetapi juga ruang sosial utama.
Kafe sebagai Ruang Bercengkrama yang Lebih Terjangkau
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara orang mengonsumsi kopi. Dulu orang datang ke kafe untuk membeli minuman. Sekarang, mereka juga mencari pengalaman, waktu, dan kenyamanan. Pengunjung datang lebih lama. Kafe digunakan untuk bekerja, belajar, atau bersosialisasi. Ruang menjadi faktor penting, bukan hanya produk.
Kondisi ini berkaitan dengan finansial Gen Z. Banyak dari mereka masih pelajar, mahasiswa, atau pekerja awal dengan pendapatan terbatas. Survei Jakpat (2024) menunjukkan rata-rata pengeluaran kopi berada di kisaran Rp10.000–Rp25.000 per transaksi, dan sekitar 47% Gen Z menjadikan harga sebagai faktor utama.
Keterbatasan ini tidak mengurangi minat nongkrong, tetapi mengubah cara konsumsi. Mereka memilih tempat yang lebih terjangkau agar bisa berlama-lama tanpa mengeluarkan banyak uang. Hal ini juga disadari oleh pelaku usaha. Fauziah mengatakan bahwa pengembangan ruang kini lebih penting dibanding sekadar menu. “Kami fokus ke seating area. Targetnya anak muda 17–25 tahun yang belum mapan, jadi mereka cari tempat yang tidak terlalu mahal,” ujarnya.
Strategi lain dilakukan melalui pengembangan ruang dan pengalaman. “Saya memperluas area outdoor dan membuat stage untuk live music. Anak muda suka ruang terbuka dan ada hiburan.” Jam operasional juga disesuaikan. “Lebih menguntungkan buka dari siang sampai tengah malam atau dini hari, dibanding buka pagi tapi tutup jam 9 malam.” Dari sisi menu, tren juga berubah. “Sekarang lebih ke kopi susu dan matcha, bukan lagi coffee mocktail.”
Dalam lima tahun terakhir (2021–2025), konsumsi kopi di Indonesia meningkat dari sekitar 4,45 juta menjadi 4,8 juta kantong, dengan pertumbuhan yang banyak didorong oleh generasi muda. Survei Jakpat (2023) menunjukkan sekitar 66% Gen Z minum kopi setiap hari, sementara data 2024 menunjukkan pola konsumsi yang lebih beragam, dari mingguan hingga beberapa kali sehari.
Secara global, tren juga bergerak ke arah yang sama: konsumsi alkohol di kalangan anak muda cenderung menurun, sementara kopi justru makin populer. Data World Health Organization dan survei Gallup menunjukkan semakin sedikit anak muda yang minum alkohol dibanding dua dekade lalu. Sebaliknya, International Coffee Organization mencatat konsumsi kopi global terus naik sekitar 2–3% per tahun, menandakan pergeseran gaya hidup dari minum ke nongkrong.
