Peran dan Tantangan Gerakan Masyarakat Sipil di Era Baru
Pada masa kuliah, seorang dosen pernah menyampaikan sebuah postulat yang menarik. Ia berkata, “Bagaimana diskusi dan aktivisme mahasiswa bisa berkembang jika ruang interaksinya saja terbatas?” Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan terhadap kebijakan kampus yang saat itu sedang mengalami renovasi. Ruang senat mahasiswa dikurangi ukurannya, area kantin sempit, selasar tempat mahasiswa biasa berkumpul diubah menjadi area komersial, serta pemberlakuan jam malam di kampus. Akibatnya, interaksi antar mahasiswa lintas angkatan dan fakultas semakin berkurang. Pertukaran ide, regenerasi gagasan, dan estafet kepemimpinan pun tak berjalan mulus.
Bertahun-tahun setelahnya, apa yang dikhawatirkan oleh sang dosen benar-benar terjadi. Organisasi mahasiswa mengalami penurunan minat, beberapa bahkan vakum atau bubar. Aktivisme di tingkat kampus maupun nasional juga redup. Setiap kelompok bergerak sendiri-sendiri tanpa menyadari bahwa mereka bagian dari sistem yang sama. Padahal, jika mereka bergerak bersama, potensi untuk menjadi lebih kuat dan berdaya sangat besar.
Peristiwa yang terjadi di kampus mencerminkan kondisi gerakan masyarakat sipil di Indonesia saat ini. Terdapat ketiadaan ruang aman dan nyaman untuk berkonsolidasi, stagnasi regenerasi, serta ekosistem yang belum mendukung kerja-kerja kolaborasi. Banyak orang muda yang bergerak sendiri-sendiri dengan keterbatasan dampak dan daya jangkau. Bahaya lainnya adalah munculnya sikap apatis di kalangan pemuda.
Padahal, peran organisasi masyarakat sipil sangat penting dalam demokrasi kita. Mereka hadir sebagai representasi suara masyarakat, mendorong perubahan sosial, serta menjadi pengawas dan penyeimbang laku kekuasaan. Di berbagai negara, organisasi masyarakat sipil juga aktif memperjuangkan kelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Mereka pula yang terus-menerus bersuara mendorong pemerintahan yang lebih akuntabel, demokrasi yang lebih bermakna, hak asasi manusia, serta mengangkat isu-isu kelompok minoritas dan rentan.
Kepedulian Orang Muda pada Gerakan Sosial
Riset yang dilakukan Harian Kompas menunjukkan bahwa orang muda usia 17-30 tahun sebenarnya memiliki kepedulian dan keinginan untuk terlibat dalam gerakan masyarakat sipil. Namun, seringkali mereka kesulitan menemukan ruang atau wadah yang aman dan nyaman untuk berpartisipasi secara bermakna. Stagnasi gerakan sipil hari ini membutuhkan inovasi dan regenerasi.
Regenerasi tidak hanya tentang usia, tetapi juga tentang pembaruan bahasa, cara, dan cita-cita politik yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Organisasi sipil yang masih menggunakan perspektif usang tidak akan mampu menjawab keresahan orang muda saat ini. Kita perlu wadah yang lebih kreatif, inklusif, dan mampu menciptakan kolaborasi bermakna.
FESTIVIS: Wadah Kreatif untuk Gerakan Sosial
Saya beruntung dapat menghadiri FESTIVIS (Festival Aktivis Muda dalam Gerakan Sosial Indonesia) beberapa waktu lalu. Di sana, beragam isu dan tantangan gerakan sipil dibahas melalui cara yang mudah dipahami, kreatif, dan inklusif. Format teater forum digunakan untuk membahas isu-isu hangat seperti aktivisme performatif, birokratisasi yang menyulitkan gerakan, konflik agraria dan masyarakat adat, kekerasan berbasis gender, hingga tahanan politik.
Isu tahanan politik terasa begitu dekat dan relevan. Tempo mencatat bahwa hingga Januari 2026 masih terdapat 652 tahanan politik terkait aksi demonstrasi Agustus 2025. Minggu lalu, Laras Faizati divonis bersalah karena bersuara kritis. Alfarisi bin Rikosen, seorang pemuda di Jawa Timur, meninggal dalam tahanan. Pertanyaan dosen saya dulu kembali terngiang, “Bagaimana diskusi, demokrasi, dan aktivisme bisa berkembang jika ruang geraknya dibatasi demikian rupa?”
Partisipasi yang Berarti
Selain itu, audiens tidak hanya menjadi penonton pasif. Mereka diajak terlibat secara bermakna sebagai “spect-actors” yang bisa mengkritik dan merevisi naskah, bahkan ikut naik ke atas panggung, menjadi aktor, lantas menawarkan solusi versi mereka.
Konsep yang ditawarkan oleh FESTIVIS sejalan dengan konsep Bunga Partisipasi di Buku Saku MIYP (Meaningful and Inclusive Youth Participation) yang dirilis oleh Perkumpulan Pamflet Generasi. Dalam konsep ini, ada lima elemen inti yang dibutuhkan agar partisipasi orang muda bisa maksimal: (1) kebebasan untuk memilih; (2) akses informasi yang utuh; (3) diberi kuasa mengambil keputusan; (4) bisa menyampaikan suara mereka; dan (5) memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas.
Lewat FESTIVIS, kelima hal tadi diusahakan sungguh-sungguh. Pertama: orang muda diberi kebebasan memilih, bukan sekadar jadi penonton. Kedua: mereka diedukasi soal isu-isu pergerakan yang memadai. Ketiga: mereka diajak terlibat mengambil keputusan bahkan ikut menjadi aktor dadakan di panggung. Keempat: suara mereka betul-betul didengarkan. Terakhir: mereka diberikan peran dan tanggung jawab yang bermakna.
Lingkungan yang Mendukung Gerakan Sipil
Selain lima hal tadi, seperti bunga yang tumbuh membutuhkan air, pupuk, dan sinar matahari, gerakan orang muda sipil juga membutuhkan lingkungan dan ekosistem yang tepat. Mulai dari transfer knowledge yang memadai, ruang aman yang ramah bagi orang muda, hingga dukungan keuangan dan kebijakan yang relevan terkait orang muda.
Kreativitas dan cara baru yang ditawarkan FESTIVIS mungkin belum sempurna, tapi ini bisa menjadi langkah awal dan pakem baru yang perlu kita usahakan bersama. Memberi kesempatan bagi orang muda untuk terlibat secara bermakna. Menciptakan ruang-ruang aman dan nyaman yang menjawab kebutuhan zaman. Juga melakukan regenerasi substantif terhadap gerakan sipil yang seringkali terjebak pada paradigma usang masa lampu.
Saatnya Menyentuh Hidup Orang Muda
Sudah saatnya kita tidak lagi meminggirkan orang muda. Merekalah yang akan menjalani dunia yang diciptakan dan ditentukan hari-hari ini, bahkan hingga berpuluh tahun ke depan. Setiap keputusan politik, ekonomi, dan sosial yang diambil hari ini, orang mudalah yang akan mengalami dan merasakan dampaknya paling lama. Sudah waktunya kita memberikan panggung dan lampu sorot ke mereka: untuk menentukan nasib mereka sendiri, menciptakan dunia mereka sendiri, dan mengusahakan masa depan mereka sendiri.
Pada akhirnya, regenerasi gerakan sipil sebagai jantung demokrasi dan episentrum perubahan, wajib kita usahakan bersama. Regenerasi yang bukan cuma soal usia, tapi juga soal pembaruan bahasa, cara, dan cita-cita politik yang sanggup menjawab tantangan zaman. Lewat cara-cara yang kreatif, inklusif, dan kolaboratif sebagaimana yang sudah dicontohkan FESTIVIS. Hanya dengan demikianlah, orang muda bisa terus berpartisipasi dengan lebih bermakna. Sehingga semua suara bisa terdengar, semua pihak bisa terlibat, dan dunia yang lebih baik, bisa tercapai.
