Daftar Harga BBM Terbaru di Seluruh Indonesia, Minggu 26 Juli 2026
Mengetahui harga bahan bakar minyak (BBM) sangat penting agar dapat menyiapkan anggaran terlebih dahulu. PT Pertamina (Persero) telah memperbarui daftar harga BBM yang berlaku di seluruh SPBU Indonesia. Harga BBM di seluruh SPBU Pertamina pada Minggu (26/7/2026) masih belum mengalami perubahan. Seluruh tarif tetap mengacu pada penyesuaian yang mulai berlaku sejak 1 Juli 2026.
Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM terutama nonsubsidi yang mengalami penurunan. Dalam penyesuaian kali ini, tiga produk BBM nonsubsidi mengalami penurunan harga. Sementara BBM subsidi tetap dijual dengan tarif yang sama. Sebelumnya, Pertamina menurunkan harga tiga jenis BBM nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Sementara harga Pertamax, Pertamax Green 95, Pertalite, dan Biosolar tetap dipertahankan.
Perbedaan harga BBM di berbagai daerah dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang ditetapkan pemerintah daerah. Selain itu, penyesuaian harga BBM juga mempertimbangkan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, kondisi pasar energi, serta kebijakan pemerintah.
Meski harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu terakhir cenderung melandai, Pertamina belum melakukan penyesuaian harga untuk seluruh jenis bahan bakar yang dijual di SPBU.
Rincian Tarif Eceran Harga BBM 26 Juli 2026
Berikut adalah rincian tarif eceran harga BBM terbaru yang berlaku Minggu, 26 Juli 2026 di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina seluruh Indonesia:
Provinsi Aceh
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
FTZ Sabang
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp15.250
- Dexlite: Rp18.450
Sumatera Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Sumatera Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp20.150
- Pertamina Dex: Rp22.100
- Dexlite: Rp20.550
Riau
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp20.150
- Pertamina Dex: Rp22.100
- Dexlite: Rp20.550
Kepulauan Riau
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp20.150
- Pertamina Dex: Rp22.100
- Dexlite: Rp20.550
FTZ Batam
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp15.500
- Pertamax Turbo: Rp 18.350
- Pertamina Dex: Rp20.100
- Dexlite: Rp18.700
Jambi
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Bengkulu
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Sumatera Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Bangka Belitung
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Lampung
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
DKI Jakarta
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Green: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Banten
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Green: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Jawa Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Green: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Jawa Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Green: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
DI Yogyakarta
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Green: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Jawa Timur
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Green: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Bali
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Nusa Tenggara Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Nusa Tenggara Timur
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar (subsidi): Rp6.800
- Biosolar (nonsubsidi): Rp22.900
- Pertamax: Rp16.250
- Pertamax Turbo: Rp19.300
- Pertamina Dex: Rp21.150
- Dexlite: Rp19.700
Kalimantan Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Kalimantan Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Kalimantan Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp20.150
- Pertamina Dex: Rp22.100
- Dexlite: Rp20.550
Kalimantan Timur
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Kalimantan Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp17.000
- Pertamax Turbo: Rp20.150
- Pertamina Dex: Rp22.100
- Dexlite: Rp20.550
Sulawesi Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Gorontalo
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Tenggara
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Sulawesi Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Maluku
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Dexlite: Rp20.150
Maluku Utara
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Dexlite: Rp20.150
Papua
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamax Turbo: Rp19.750
- Dexlite: Rp20.150
Papua Barat
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Papua Selatan
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Dexlite: Rp20.150
Papua Pegunungan
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Dexlite: Rp20.150
Papua Tengah
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp12.600
- Dexlite: Rp20.150
Papua Barat Daya
- Pertalite: Rp10.000
- Biosolar: Rp6.800
- Pertamax: Rp16.650
- Pertamina Dex: Rp21.650
- Dexlite: Rp20.150
Penjelasan Ekonom tentang Harga Pertamax
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti menjelaskan bahwa keputusan mempertahankan harga Pertamax pada level Rp16.250 per liter sudah dapat diperkirakan. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini diterapkan Pertamina.
“Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi. Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya,” kata Yayan kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Yayan menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan model yang mengacu pada formula penetapan harga pemerintah dan perilaku Pertamina sebagai penentu harga, Pertamax diperkirakan memang akan tetap dipertahankan.
Untuk Agustus, dia menjelaskan formula dasar mengarah pada harga sekitar Rp13.700 per liter, tetapi pendekatan smoothing memperkirakan harga berada di kisaran Rp16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dengan harga sekarang.
Menurut Yayan, jika Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, manfaat utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina, sementara beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.
“Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar−0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen); jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan ke pemulihan margin Pertamina,” kata dia.
Hal senada disampaikan pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono. Menurutnya, keputusan pemerintah belum menurunkan harga Pertamax bukan hanya mengacu pada harga minyak mentah dunia di hari tertentu. Namun perhitungannya didasarkan pada harga rerata periode, nilai tukar rupiah, biaya pengelolaan, distribusi, pajak, hingga cadangan untuk mengantisipasi gejolak.
“Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu harus langsung diikuti dengan penurunan harga jual di dalam negeri,” kata Kristian.
Ia menegaskan, sebagai BBM nonsubsidi, Pertamax memang tidak wajib mengalami penyesuaian harga setiap kali harga minyak dunia bergerak turun. Tolok ukur utamanya adalah apakah harga jual masih mencerminkan biaya ekonomi berdasarkan formula yang berlaku.
“Apabila hasil perhitungan menunjukkan harga yang berlaku masih mencerminkan biaya penyediaannya, maka mempertahankan harga bukan merupakan pelanggaran terhadap prinsip pasar. Namun apabila biaya penyediaan sudah turun secara nyata tetapi harga tetap dipertahankan, pemerintah dan badan usaha perlu memberikan penjelasan yang transparan agar tidak menimbulkan persepsi bahwa konsumen menanggung beban yang tidak semestinya,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak mencampurkan mekanisme harga BBM nonsubsidi dengan kepentingan menutup tekanan defisit anggaran negara. Sebab menurutnya, jika alasan utama mempertahankan harga adalah memperkuat kondisi fiskal, pemerintah harus menjelaskan dasar kebijakan tersebut secara terbuka agar tidak menimbulkan ketidakpastian dan menurunkan kepercayaan publik terhadap tata kelola energi.
“Keberhasilan kebijakan energi tidak hanya diukur dari murah atau mahalnya harga bahan bakar, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen, keberlanjutan penyediaan energi, kesehatan keuangan negara, serta kepercayaan publik terhadap proses pengambilan kebijakan,” tutur Kristian.





