Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Baru Gresik
Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Baru Gresik mulai mengalami kenaikan akibat berbagai faktor yang memengaruhi ekonomi. Gejolak ekonomi global, kenaikan harga plastik kemasan hingga 50 persen, serta meningkatnya biaya BBM non-subsidi menjadi beberapa penyebab utama kenaikan tersebut. Hal ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat yang semakin melemah.
Di pasar tradisional ini, beras premium jenis Coco mencapai Rp85.000 per 5 kg, sedangkan beras premium Lahap mencapai Rp77.000 per 5 kg. Sementara itu, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap stabil dengan harga Rp60.000 per 5 kg. Pedagang mengeluhkan bahwa keuntungan mereka semakin menipis karena kenaikan harga barang yang terus-menerus, sementara biaya operasional seperti pengangkutan dan plastik juga meningkat.
“Keuntungan semakin sedikit. Lima kilogram ambil untung Rp1.000 sangat susah, sebab belum biasa angkut dan plastik yang ikut naik,” ujar seorang pedagang sembako di Pasar Baru Gresik yang enggan menyebutkan namanya.
Selain beras, harga minyak goreng subsidi “Minyakita” juga terbatas akibat pembatasan pengiriman dari Bulog. Hal ini menyebabkan stok minyak goreng subsidi selalu terbatas. “Minyak kita dari Bulog dibatasi, sehingga tidak bisa melimpah. Sementara, minyak goreng non subsidi harganya lebih mahal,” tambahnya.
Ketua Paguyuban Pasar Baru Gresik, Edy Chumaidi, menyampaikan bahwa stok minyak goreng subsidi masih tersedia. Namun, informasi mengenai kenaikan harga minyak goreng subsidi akan segera diberlakukan. Saat ini, harga minyak goreng subsidi masih bertahan di Rp16.000 per liter. Selain itu, harga daging ayam dan telur juga mengalami penurunan.
“Informasinya, akan ada kenaikan harga minyak goreng subsidi minyak kita. Tapi, sekarang masih harga lama yaitu Rp16.000 per liter. Sementara harga lainnya juga turun,” kata Edy.
Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa daya beli masyarakat saat ini menurun, sehingga pasar semakin sepi. Hal ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Pasar Gresik yang beroperasi dari malam hari hingga sore hari, serta adanya toko online yang semakin diminati.
“Pembelian pedagang di Pasar Gresik ini melemah, sehingga pedagang sepi pembeli. Bisa karena banyak toko online dan PKL di sekitar Pasar,” katanya.
