Pemulihan Harga Emas Berdampak Positif pada Emiten Produsen Emas
Harga emas global kembali mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memberikan angin segar bagi sejumlah perusahaan produsen emas di Indonesia, terutama setelah sebelumnya mengalami penurunan.
Mengacu pada data dari Trading Economics, harga emas dunia berada di level US$ 5.035,42 per ons troi pada Jumat (20/2) pukul 17.35 WIB. Sejak awal Februari lalu, harga emas telah naik sebesar 8,05%. Pada 2 Februari silam, harga komoditas ini sempat turun ke level US$ 4.660 per ons troi. Dengan tren positif ini, harga emas sejak awal tahun 2026 mencatat kenaikan sebesar 16,46% secara year to date (ytd).
Tidak hanya harga emas yang meningkat, tetapi sebagian besar saham-saham emiten produsen emas juga kembali pulih. Contohnya, harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tumbuh 4,20% ke level Rp 4.220 per saham dalam sepekan terakhir hingga Jumat (20/2/2026). Sementara itu, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengalami kenaikan sebesar 11,49% menjadi Rp 3.590 per saham. Anak usaha MDKA, yaitu PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), juga mencatat kenaikan harga saham sebesar 8,22% ke level Rp 7.900 per saham.
Selain itu, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 4,51% menjadi Rp 30.725 per saham. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mengalami kenaikan sebesar 4,64% ke level Rp 7.900 per saham. Sementara itu, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 6,47% menjadi Rp 1.810 per saham. Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) juga mengalami kenaikan 4,63% menjadi Rp 565 per saham.
Di sisi lain, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami penurunan sebesar 1,85% menjadi Rp 1.060 per saham dalam sepekan terakhir.
Perkembangan Harga Emas dan Prediksi Analis
Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo menyatakan bahwa volatilitas harga emas dalam jangka pendek masih tinggi, sehingga harga komoditas ini rentan berbalik arah. Namun, permintaan emas tetap tinggi karena ketidakpastian ekonomi dan prospek suku bunga The Fed yang masih membayangi pasar.
“Hal ini akan berdampak pada kenaikan average selling price (ASP) emiten dan juga berpotensi meningkatkan margin,” ujar dia.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai bahwa pemulihan harga emas belakangan ini menunjukkan bahwa komoditas ini tetap berada di jalur untuk melanjutkan tren bullish secara jangka panjang. Penyebab utama rebound harga emas adalah aksi depolarisasi sistemik oleh bank sentral global. Selain itu, emas masih memiliki posisi kuat sebagai aset safe haven di tengah gejolak geopolitik dan inflasi global.
“Bagi emiten produsen emas dampaknya sangat masif, dengan perkiraan ASP pada 2026 akan lebih tinggi dari 2025,” imbuh dia.
Wafi menyarankan agar emiten fokus pada optimalisasi produksi dan monetisasi komoditas, bukan pengeluaran besar-besaran untuk eksplorasi lahan baru. Meskipun eksplorasi tetap diperlukan, capital expenditure (capex) sebaiknya dialokasikan untuk efisiensi fasilitas pengolahan atau akuisisi tambang yang sudah beroperasi.
Rekomendasi Saham untuk Investor
Praska memprediksi, emiten dengan cadangan emas besar dan tambang grade tinggi berpeluang mencetak kinerja lebih unggul pada 2026. Emiten yang memiliki proyek-proyek ekspansi prospektif juga berpotensi diuntungkan oleh tren melejitnya harga emas dunia.
“ARCI sebagai pure-play gold producer terbesar di Indonesia bisa dipantau tetapi tetap memantau risiko volatilitas harga emas,” kata Praska.
Sementara itu, Wafi menyebut bahwa emiten emas yang mampu menjual komoditasnya di harga spot berpotensi menyerap 100% dari reli kenaikan harga emas dunia. Di luar harga komoditas, dinamika pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting, karena mayoritas pendapatan emiten emas berdenominasi dolar AS, sedangkan biaya operasionalnya dalam rupiah.
“Sentimen lainnya tentu saja kelancaran regulasi, terutama izin RKAB (Rencana Kerja Anggaran Biaya) dari pemerintah,” tutur dia.
Dalam rekomendasinya, Wafi menyebut saham MDKA, ANTM, BRMS, dan AMMN bisa menjadi pilihan bagi investor dengan target harga masing-masing di level Rp 4.200 per saham, Rp 4.625 per saham, Rp 1.125 per saham, dan Rp 10.500 per saham. Di lain pihak, Praska merekomendasikan saham ARCI dengan target harga di level Rp 2.120 per saham. Saham MDKA juga direkomendasikan buy on weakness dengan target harga di level Rp 3.970 per saham.





