Harga Gabah Stabil, Tapi Biaya Panen Membengkuk
Harga gabah di Kabupaten Tuban terpantau stabil tinggi di angka Rp 7.200 per kilogram pada awal tahun 2026. Meski angka ini cukup menggembirakan, para petani menghadapi tantangan berat dalam menghadapi biaya operasional yang meningkat drastis akibat cuaca ekstrem.
Petani mengeluhkan lonjakan biaya panen karena padi roboh akibat cuaca ekstrem, memaksa penggunaan tenaga manual tambahan. Keuntungan petani menipis meski harga jual bagus, karena harus membayar upah ikat padi agar bisa dipanen mesin.
Kondisi Petani di Tuban
Kabar baik sekaligus tantangan berat menyapa para petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim) pada musim panen awal tahun 2026. Meski harga jual padi (gabah) terpantau stabil dan cukup tinggi, para petani harus memutar otak menghadapi biaya operasional panen yang membengkak drastis.
Hingga Selasa (3/2/2026), harga jual padi dari petani ke tengkulak di wilayah ini bertahan di kisaran Rp7.200 per kilogram. Angka ini dinilai cukup menggembirakan, karena setara dengan harga saat panen raya musim kemarau sebelumnya.
Namun, senyum petani sedikit tertahan. Salim (50), petani asal Desa Compreng, Kecamatan Widang, mengungkapkan bahwa tingginya harga jual tidak serta-merta membuat kantong petani tebal. Faktor cuaca ekstrem di awal tahun menjadi biang kerok utamanya.
Padi Roboh, Ongkos Membengkak
Menurut Salim, intensitas hujan tinggi yang disertai angin kencang di puncak musim penghujan ini menyebabkan banyak tanaman padi roboh sebelum sempat dipanen. Kondisi ini memaksa petani mengeluarkan biaya ekstra yang tidak sedikit.
“Saat ini harga memang bagus di kisaran Rp 7.200 per kilogram. Tapi biaya panen pada musim penghujan ini jauh lebih tinggi karena faktor cuaca,” ujar Salim.
Masalah teknis di lapangan menjadi kendala utama. Tanaman padi yang rebah ke tanah tidak bisa langsung dipanen menggunakan mesin combine harvester. Petani harus memperkerjakan buruh tani tambahan untuk mendirikan dan mengikat padi terlebih dahulu.
Biaya Tambahan:
- Upah tenaga kerja untuk mengikat padi yang roboh (ngiket).
- Efisiensi Mesin: Proses panen mesin menjadi lebih lambat dibanding saat kondisi padi tegak.
- Risiko Susut: Padi yang terendam air hujan berpotensi mengalami penurunan kualitas (kadar air tinggi).
“Banyak padi yang roboh karena hujan dan angin, jadi harus diikat dulu supaya bisa dipanen. Itu biayanya nambah lagi,” bebernya.
Dilema Keuntungan
Kendati harus merogoh kocek lebih dalam untuk operasional, Salim dan rekan-rekannya tetap berusaha bersyukur. Stabilitas harga di angka Rp 7.000-an menjadi penolong sehingga mereka tidak sampai merugi, meskipun margin keuntungan menipis dibandingkan panen musim kemarau.
Situasi ini menjadi gambaran nyata betapa sektor pertanian sangat bergantung pada faktor alam, di mana harga jual yang tinggi kadang harus dikompensasi dengan biaya produksi yang juga tinggi.
Latar Belakang: Tuban Lumbung Pangan
Kabupaten Tuban dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional dan penyangga stok beras utama di Jawa Timur. Berdasarkan data historis pertanian wilayah setempat:
Tren Harga:
- Harga Gabah Kering Panen (GKP) di kisaran Rp 7.200 termasuk kategori tinggi, mengingat Harga Pembelian Pemerintah (HPP) biasanya berada di bawah angka tersebut.
Ancaman Hidrometeorologi:
- Wilayah bantaran Bengawan Solo, termasuk Kecamatan Widang, kerap menghadapi risiko banjir atau genangan saat curah hujan tinggi di awal tahun, yang memicu fenomena padi roboh.
Biaya Panen:
- Dalam kondisi normal, biaya panen mesin borongan relatif terukur. Namun saat padi roboh (lodoh), biaya bisa naik hingga 30-50 persen karena komponen upah manual (HOK) yang mahal.
