Tren Harga Tembaga yang Menggembirakan untuk Emitter Produsen
Pada awal tahun 2026, harga tembaga di pasar global terus meningkat. Hal ini menjadi kabar baik bagi emiten-emiten produsen komoditas tersebut. Berdasarkan data dari Trading Economics, harga tembaga tercatat sebesar US$ 5,86 per pound pada Senin (19/1) sore, naik 0,58% dibandingkan perdagangan Jumat (16/1) lalu.
Dalam satu bulan terakhir, harga tembaga melonjak sebesar 7,84%. Dalam setahun terakhir, kenaikan harga tembaga mencapai 36,47% secara year on year (yoy). Kenaikan ini memberi dampak positif terhadap emiten produsen tembaga karena rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) mereka juga mengalami kenaikan, sementara biaya produksi relatif stabil sehingga margin keuntungan meningkat.
Contoh Emitter yang Mendapat Manfaat
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa kenaikan harga tembaga umumnya menguntungkan emiten produsen. Contohnya adalah PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang berhasil meningkatkan ASP menjadi US$ 4,24 per pound dan meningkatkan margin tunai sebesar 22% yoy meski produksi tembaga turun pada periode Januari-September 2025.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memproduksi tembaga bersama dengan emas. Oleh karena itu, kenaikan harga tembaga sering diikuti oleh peningkatan kontribusi emas yang memperkuat pendapatan. Namun, dalam jangka pendek, dampak kenaikan harga tembaga belum sepenuhnya optimal bagi AMMN karena proyek smelter masih menghadapi kendala dan baru beroperasi sekitar 48% pada tahap komisioning. Emiten ini pun harus mengandalkan ekspor konsentrat selama masa perbaikan smelter.
Izin ekspor konsentrat yang diperoleh AMMN hingga April 2026 sejatinya bisa berdampak pada terjaganya arus kas dan kelangsungan kegiatan pertambangan. “AMMN tetap mendapat manfaat dari harga tembaga yang tinggi, hanya saja nilai tambahnya lebih rendah dibanding jika smelter beroperasi penuh,” ujar Imam.
Perspektif Analis Lain
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai bahwa kenaikan harga tembaga secara umum positif untuk emiten produsen tembaga. ASP yang naik biasanya langsung tercermin ke pendapatan dan EBITDA mereka. Efek lonjakan harga tembaga akan sangat terasa bagi produsen yang menjual konsentrat atau katoda dengan porsi tembaga yang besar.
Di samping itu, banyak tambang tembaga yang mengandung mineral ikutan berupa emas. Alhasil, ketika harga tembaga berada dalam posisi yang tinggi, seringkali diikuti oleh bonus kenaikan kontribusi emas. Namun, produktivitas tidak otomatis naik hanya karena harga tembaga melesat. Volume produksi pada dasarnya tetap bergantung pada kapasitas tambang, rencana penambangan, kadar bijih, serta kesiapan alat atau operasional.
“Harga yang lebih tinggi lebih sering berpengaruh ke sentimen, profitabilitas, dan kelayakan proyek daripada menaikkan produksi secara instan,” kata Ekky.
Prospek Harga Tembaga di Masa Depan
Prospek harga tembaga masih akan ditopang oleh narasi kebutuhan elektrifikasi dan infrastruktur energi, namun pergerakannya tetap berpotensi naik-turun tajam. Ekky menilai reli harga tembaga yang terjadi belakangan ini cukup banyak dipicu arus spekulatif dan berisiko koreksi selama 2026 berjalan. “Jadi ekspektasinya lebih tepat yakni tren besar bisa positif, tetapi jalannya tidak lurus,” ujarnya.
Tantangan utama bagi emiten produsen tembaga pada tahun ini diperkirakan meliputi stabilitas produksi atau kadar bijih, disiplin biaya dan capital expenditure (capex), eksekusi proyek smelter, hingga risiko regulasi dan dinamika permintaan global.
Rekomendasi Investasi
Secara fundamental, tren harga tembaga masih akan konstruktif dalam jangka menengah dan panjang. Hal ini didorong oleh kebutuhan transisi energi, kendaraan listrik, dan infrastruktur yang akan mendukung prospek emiten seperti MDKA dan AMMN.
Imam menyebut saham MDKA layak dilirik oleh investor dengan target harga di level Rp 3.500 per saham. Sementara itu, Ekky menganggap sektor tembaga layak dipertimbangkan oleh investor yang menyukai tema komoditas dan siap menghadapi risiko volatilitas. Saham AMMN bisa jadi pilihan bagi investor dengan target harga di kisaran Rp 9.500–Rp 10.000 per saham. Saham MDKA juga bisa menjadi pilihan bagi investor dengan target harga lanjutan di kisaran Rp 3.400–Rp 3.500 per saham.





