Sejarah Hari Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia
Hari Polisi Wanita (Polwan) diperingati setiap 1 September. Pada 2026, peringatan Hari Polwan memasuki usia ke-78, dihitung dari tonggak sejarah ketika enam perempuan Indonesia mulai mengikuti pendidikan kepolisian di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 1 September 1948. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan para perempuan yang menjadi perintis polisi wanita sekaligus melihat perkembangan peran Polwan dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, memberikan perlindungan serta menghadirkan pelayanan yang humanis kepada masyarakat.
Sejarah Hari Polwan 1 September
Sejarah Polwan Indonesia berawal dari situasi pascakemerdekaan. Pada masa itu, aparat kepolisian menghadapi kesulitan ketika harus melakukan pemeriksaan terhadap perempuan, terutama dalam kasus yang melibatkan perempuan dan anak. Di Bukittinggi, kebutuhan terhadap polisi perempuan semakin dirasakan karena banyak pengungsi perempuan yang harus diperiksa. Pemeriksaan fisik terhadap perempuan oleh polisi laki-laki menimbulkan persoalan tersendiri.
Organisasi perempuan dan organisasi perempuan Islam di Bukittinggi kemudian mengusulkan agar perempuan diberikan kesempatan mengikuti pendidikan kepolisian. Usulan tersebut mendapat respons dari jajaran kepolisian dan akhirnya dibuka kesempatan bagi perempuan untuk mengikuti pendidikan polisi. Pada 1 September 1948, enam perempuan secara resmi mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi bersama 44 siswa laki-laki.
Keenam perempuan tersebut kemudian dikenal sebagai perintis Polisi Wanita/Polwan Indonesia, yakni:
- Mariana Saanin Mufti
- Nelly Pauna Situmorang
- Rosmalina Pramono/Loekman
- Dahniar Sukotjo
- Djasmainar Husein
- Rosnalia Taher
Terdapat variasi penulisan nama beberapa perintis dalam sejumlah sumber kepolisian, tetapi keenam nama tersebut merupakan tokoh yang dikenal sebagai enam perempuan pertama yang mengikuti pendidikan kepolisian di Bukittinggi.
Pendidikan mereka sempat terhenti setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Setelah situasi memungkinkan, keenam calon Polwan tersebut melanjutkan pendidikan di Sekolah Polisi Negara Sukabumi, Jawa Barat. Mereka kemudian menyelesaikan pendidikan dan pada 1 Mei 1951 dilantik sebagai Inspektur Polisi wanita pertama di Indonesia.
Sejak peristiwa 1 September 1948 tersebut, tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Polisi Wanita Indonesia.
Hari Polwan 2026 Memasuki Usia ke-78
Pada 1 September 2026, Polwan Indonesia memperingati Hari Jadi ke-78. Perjalanan selama 78 tahun menunjukkan perubahan besar. Jika pada 1948 hanya enam perempuan yang membuka jalan bagi kehadiran perempuan dalam institusi kepolisian, kini Polwan telah menjalankan berbagai tugas di lingkungan Polri. Peran tersebut tidak lagi terbatas pada penanganan perkara yang melibatkan perempuan dan anak, tetapi berkembang ke berbagai bidang kepolisian.
Peringatan Hari Polwan ke-78 tahun 2026 dikaitkan dengan semangat pengabdian, profesionalisme dan pelayanan kepada masyarakat. Tema Hari Jadi Polisi Wanita (Polwan) ke-78 Tahun 2026 adalah “One Police Woman, Extraordinary Impact” atau dalam bahasa Indonesia “Satu Polwan Membawa Dampak Signifikan bagi Masyarakat”.
Peran Polwan dalam Berbagai Bidang
Perjalanan Polwan menunjukkan bahwa polisi wanita bukan hanya berperan dalam perkara yang berkaitan dengan perempuan. Seiring perkembangan kebutuhan masyarakat dan kompleksitas tugas kepolisian, Polwan telah terlibat dalam berbagai bidang.
-
Perlindungan Perempuan dan Anak
Salah satu peran yang sangat penting adalah menangani kasus yang melibatkan perempuan dan anak, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, perdagangan orang dan berbagai bentuk tindak pidana terhadap kelompok rentan. Kehadiran Polwan dapat membantu menciptakan suasana pemeriksaan yang lebih nyaman bagi korban perempuan maupun anak. Peran tersebut juga terus diperkuat melalui pengembangan unit atau direktorat yang menangani perlindungan perempuan dan anak serta tindak pidana perdagangan orang. -
Penegakan Hukum
Polwan juga menjalankan fungsi penegakan hukum sebagaimana anggota Polri lainnya. Mereka dapat bertugas dalam bidang reserse, penyidikan, intelijen, lalu lintas, hingga fungsi operasional lainnya sesuai kompetensi dan penugasan. -
Menjaga Keamanan dan Ketertiban
Polwan juga dapat terlibat dalam pengamanan berbagai kegiatan masyarakat, pengamanan agenda nasional, pelayanan kepolisian hingga kegiatan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Kemampuan profesional, disiplin dan pendekatan komunikasi yang humanis menjadi modal penting dalam menghadapi masyarakat dengan berbagai latar belakang. -
Pendekatan Humanis kepada Masyarakat
Salah satu kekuatan Polwan adalah kemampuan menghadirkan pendekatan yang lebih humanis dalam situasi tertentu. Pendekatan tersebut penting ketika berhadapan dengan anak-anak, perempuan korban kekerasan, keluarga korban, masyarakat yang membutuhkan pendampingan maupun kelompok rentan lainnya. Dalam sejumlah peringatan Hari Polwan, kegiatan sosial seperti bakti kesehatan, bantuan sosial, kunjungan kepada masyarakat dan kegiatan edukasi juga menjadi bagian dari pengabdian Polwan. -
Berperan dalam Misi Perdamaian
Pengabdian Polwan juga telah berkembang hingga tingkat internasional. Polwan Indonesia mendapat kesempatan berkontribusi dalam misi perdamaian internasional dan kerja sama kepolisian antarnegara. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi polisi wanita Indonesia tidak hanya dibutuhkan dalam tugas domestik, tetapi juga dalam kerja sama keamanan internasional. -
Bidang Pendidikan, Kehumasan dan Manajemen
Polwan juga menjalankan tugas di bidang pendidikan dan pelatihan, sumber daya manusia, kehumasan, administrasi, pelayanan publik serta berbagai fungsi pendukung kepolisian lainnya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa ruang pengabdian Polwan semakin luas seiring transformasi organisasi dan kebutuhan masyarakat.
Dari Enam Perintis Menjadi Srikandi Bhayangkara
Perjalanan Polwan selama 78 tahun merupakan bagian dari sejarah perkembangan perempuan dalam institusi penegak hukum Indonesia. Enam perempuan yang mengikuti pendidikan polisi di Bukittinggi pada 1948 menjadi pembuka jalan bagi generasi berikutnya. Pada masa awal, tugas mereka memang sangat berkaitan dengan pemeriksaan perempuan dan penanganan perkara perempuan serta anak. Namun, perkembangan zaman membuat tugas Polwan semakin beragam.
Polri mencatat bahwa sejak dekade-dekade berikutnya kesempatan bagi Polwan untuk menduduki berbagai jabatan dan menjalankan tugas strategis semakin terbuka. Kini, Polwan dapat ditemukan dalam berbagai bidang tugas kepolisian, mulai dari pelayanan masyarakat hingga fungsi operasional dan manajerial.
Total personel Polri (±2025–2026) kurang lebih 440.000 – 470.000 personel. Dari jumlah tersebut jumlah Polwan aktif berkisar 24.000 – 30.000 personel. Persentase Polwan dari total Polri Target proporsi ideal (PBB) 20 persen. Proporsi Polwan Indonesia masih di bawah rata-rata kepolisian dunia. PBB merekomendasikan minimal 20 % personel perempuan dalam pasukan keamanan.
Tantangan Polwan di Masa Depan
Peringatan Hari Polwan juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi. Tantangan kepolisian semakin kompleks. Kejahatan berbasis teknologi, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kejahatan siber, radikalisme, narkotika serta berbagai persoalan sosial membutuhkan sumber daya manusia kepolisian yang profesional dan adaptif. Polwan juga dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan di bidang teknologi, hukum, komunikasi, investigasi dan pelayanan masyarakat.
Di sisi lain, kesempatan pengembangan karier dan peningkatan kompetensi menjadi bagian penting agar Polwan dapat berkontribusi secara optimal di seluruh bidang kepolisian.
Makna Hari Polwan 1 September 2026
Peringatan Hari Polwan ke-78 dapat menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang Polwan bermula dari keberanian enam perempuan yang mengikuti pendidikan kepolisian di Bukittinggi. Dari enam perempuan tersebut, kini Polwan telah menjadi bagian penting dalam tubuh Polri. Semangat yang diwariskan para perintis bukan hanya tentang keberanian perempuan memasuki dunia kepolisian, tetapi juga tentang pengabdian, profesionalisme, keberanian, kepedulian dan pelayanan kepada masyarakat.
Hari Polwan 1 September 2026 diharapkan menjadi momentum untuk terus memperkuat peran polisi wanita dalam memberikan perlindungan dan pelayanan yang profesional, berkeadilan serta humanis.
