Kehidupan Hendrikus Rahayaan: Dari Perkelahian Jalanan ke Dunia MMA
Hendrikus Rahayaan adalah salah satu atlet Mixed Martial Arts (MMA) yang menarik perhatian publik. Ia lahir di Watran, Kota Tual, Maluku, dan memiliki latar belakang keluarga yang cukup terkenal. Hendrikus merupakan keponakan dari John Kei, mantan preman legendaris yang dikenal sebagai The Godfather Jakarta. Namun, kisah hidupnya tidak hanya berakhir pada reputasi keluarganya, melainkan juga menjadi contoh bagi pemuda Maluku untuk mengubah hobi negatif menjadi prestasi positif.
Dari kecil, Hendrikus memang memiliki sifat agresif dan suka berkelahi. Hal ini sempat diungkapkannya dalam wawancara dengan Tribun Manado pada tahun 2023 silam. Ia menceritakan bahwa sejak kecil ia sering terlibat tawuran dengan teman-temannya. Meskipun hobi itu membuatnya tidak disukai oleh keluarga, ia akhirnya memutuskan untuk mengubah hal tersebut menjadi karier profesional.
Mengubah Hobi Menjadi Karier Profesional
Bertumbuh dewasa, Hendrikus memutuskan untuk menekuni hobinya. Dengan tekad yang kuat, ia mulai berlatih keras dan menjadikan olahraga bela diri sebagai jalan hidupnya. Latihan ini dilakukan di bawah asuhan kakeknya sendiri, yang merupakan pelatih tiga cabang ilmu bela diri, yaitu Muay Thai, Whu Su, dan Boxing.
“Jadi bikin saja, lebih baik kita bikin baku pukul jalanan itu jadi prestasi saja biar jadi kebanggaan keluarga, selain bisa bertahan hidup juga, kita bisa mengharumkan nama daerah,” ujarnya.
Dengan dasar mental yang kuat dan latihan yang intensif, Hendrikus akhirnya terjun ke kelas bantam One Pride MMA. Dari situlah, ia memulai perjalanan karier profesionalnya. Dua pertandingan awalnya berakhir dengan kemenangan yang membanggakan. M. Ricky Syahputra berhasil ditumbangkan dengan perolehan TKO dalam waktu 22 detik, sementara Boido Simanjuntak tunduk pada ronde ketiga.
Harapan untuk Pemuda Maluku
Hendrikus sangat yakin bahwa ia mampu menjadi atlet berprestasi. Ia juga memiliki harapan besar bagi anak muda Maluku yang memiliki hobi serupa. “Untuk mental-mental jalanan anak Maluku itu buat saja, kita itu anak-anak yang dianggap nakal begini, kalau baru mau berjuang itu nanti dapat banyak kritikan dari orang-orang, jadi saya harap selalu bermental baja, lakukan saja apa yang harus kita lakukan untuk terus harumkan nama daerah,” katanya.
Kisah Hendrikus membuktikan bahwa hobi negatif seperti perkelahian jalanan bisa diubah menjadi prestasi jika diarahkan dengan benar. Ia menjadi contoh nyata bahwa pemuda Maluku memiliki potensi besar untuk menciptakan perubahan positif di dunia olahraga dan masyarakat.
Kasus Pembunuhan Nus Kei
Namun, kisah Hendrikus tidak hanya berfokus pada keberhasilannya di dunia MMA. Ia juga menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan Nus Kei, Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara. Aparat kepolisian cepat bertindak setelah mengetahui kasus tersebut. Dua pria, yakni Hendrikus Rahayaan (HR) alias Hendra dan Finansius Ulukyanan (FU) alias Finis, resmi ditangkap sebagai tersangka.
Motif pembunuhan ini diduga terkait dendam lama terkait peristiwa berdarah di Jakarta pada tahun 2020 silam. Kedua pelaku meyakini bahwa korban merupakan otak di balik pembunuhan saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, yang tewas di dekat Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi.
Kronologi Pembunuhan
Nus Kei tewas akibat penikaman di Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu (19/4/2026). Insiden maut ini terjadi sesaat setelah korban mendarat dari penerbangan asal Ambon sekitar pukul 11.10 WIT. Saat sampai di depan pintu keluar bandara untuk menemui keluarganya, Nus Kei langsung ditikam oleh orang tidak dikenal (OTK).
Kakak Nus Kei, Antonius Rumatora, langsung membanting pelaku. Namun, pelaku melawan dan melarikan diri. Selang beberapa menit, seorang pria diduga pelaku memakai jaket merah dan masker langsung menikam Nus Kei. Korban sempat lari ke dalam bandara tetapi terjatuh dan mendapatkan pertolongan dari petugas di lokasi.
Nus Kei kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk penanganan medis. Sayangnya, korban dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit. Ia menderita empat luka tusuk di bagian dada sebelah kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang.
Pada saat itu, Nus Kei sedang berada di Kabupaten Maluku Tenggara untuk menghadiri acara partai. Ia datang untuk mengikuti Musda Partai Golkar Maluku Tenggara yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 22 April 2026.





