Pada perdagangan hari ini, Senin (25/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan kenaikan yang signifikan. Penguatan IHSG tercatat sebesar 0,29% ke level 6.179,67 pada pukul 09.02 WIB. Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham sedang berada dalam kondisi yang relatif stabil dan optimis.
Dari ratusan saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 384 saham mengalami kenaikan harga, sementara 152 saham mengalami penurunan, dan 423 saham lainnya berada dalam kondisi stagnan. Dengan demikian, pasar saham masih menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis.
Beberapa saham unggulan dari jajaran LQ45 juga mencatatkan kenaikan yang cukup besar. Salah satunya adalah saham PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) yang naik sebesar 2,73% ke level Rp226. Diikuti oleh saham PT Indosat Tbk. (ISAT) yang naik 2,44% ke Rp2.100, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang naik 2,30% ke Rp3.120. Selain itu, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) juga mengalami kenaikan sebesar 2,27% ke Rp675.
Selain saham-saham tersebut, beberapa saham lain juga mengalami kenaikan. Contohnya adalah saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) yang naik 1,56% ke Rp1.305, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) yang naik 1,35% ke Rp1.500, saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) yang naik 1,25% ke Rp810, dan saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) yang naik 1,13% ke Rp1.785.
Namun, tidak semua saham mengalami kenaikan. Beberapa saham mengalami penurunan yang cukup signifikan. Contohnya adalah saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang turun 5,63% ke Rp486, saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang turun 4,23% ke Rp362, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang turun 4,10% ke Rp1.285, dan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang turun 3,78% ke Rp178.
Selain itu, beberapa saham lain seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) yang turun 2,13% ke Rp2.300, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang turun 2,07% ke Rp2.840, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) yang turun 2,05% ke Rp22.700, dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang turun 1,75% ke Rp1.400 juga mengalami penurunan.
Sebelumnya, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari memprediksi bahwa IHSG memiliki peluang untuk rebound secara terbatas selama periode 25—29 Mei 2026. Aktivitas perdagangan pada pekan ini dinilai lebih sensitif karena pasar hanya beroperasi selama tiga hari perdagangan.
Menurut Brigita, sentimen domestik cenderung terbantu oleh hasil review FTSE Russell yang dinilai relatif konstruktif dan meredakan kekhawatiran pasar akan adanya outflow yang besar. Selain itu, kebijakan BI untuk meningkatkan suku bunga acuan dinilai mulai berdampak positif pada stabilisasi nilai tukar rupiah, meskipun penguatannya masih dibatasi oleh kinerja Greenback.
Perhatian investor domestik masih tertuju pada kepastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis melalui Danantara yang tetap efektif mulai 1 Juni 2026. Kepastian ini menyisakan volatilitas pada saham-saham energi dan bahan baku seiring langkah investor dalam menilai dampaknya terhadap struktur distribusi ekspor nasional.
Secara teknikal, IHSG dinilai bergerak jauh di bawah SMA-50 pada area 7.166. Hal ini mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah yang masih dominan. Meskipun IHSG masih mampu menguat 1,10% pada perdagangan Jumat (22/5), potensi pemulihan indeks diprediksi masih dibayangi volatilitas yang tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026.
Dalam jangka pendek, IHSG diprediksi bergerak sideways dengan volatilitas tinggi pada rentang support 5.996—5.899 dan resistance 6.318—6.459. Area 5.899 menjadi level penting untuk menjaga peluang rebound jangka pendek, sementara pergerakan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan.
Meski demikian, tekanan jual diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing berakhir, sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak lebih stabil secara bertahap, terutama apabila nilai tukar rupiah tetap terjaga dan sentimen global membaik seiring perkembangan negosiasi AS–Iran yang berpotensi menurunkan tekanan pada harga energi dan yield US Treasury.
