Kebijakan Insentif Kendaraan Listrik Masih Belum Berdampak pada Industri Komponen Otomotif
Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan kebijakan insentif untuk pembelian kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), baik mobil maupun sepeda motor listrik. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kendaraan listrik serta menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga ketahanan fiskal.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada Juni 2026. Dalam skema insentif, pemerintah akan memberikan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) yang hanya diperuntukkan bagi kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Skema ini akan diterapkan secara bertahap, dengan kuota awal sebanyak 100.000 unit kendaraan.

Pembagian subsidi juga akan disesuaikan dengan jenis baterai yang digunakan. Kendaraan listrik dengan baterai berbasis nikel akan mendapatkan porsi subsidi lebih besar dibandingkan dengan baterai lithium ferro-phosphate (LFP), sesuai dengan strategi hilirisasi nikel nasional. Hal ini dimaksudkan agar nikel dalam negeri dapat dimanfaatkan secara optimal.
Selama tahun lalu, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 12/2025 yang memberikan insentif pajak untuk kendaraan listrik. Kebijakan ini telah mendorong lonjakan penetrasi mobil listrik dalam lima tahun terakhir, dari 687 unit pada 2021 menjadi 103.931 unit pada 2025, atau setara pangsa pasar 12,93%.
Namun, meskipun pasar kendaraan listrik berkembang pesat, industri komponen otomotif domestik belum merasakan dampak positif dari kebijakan tersebut. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki menyatakan bahwa hampir semua anggota GIAMM belum mendapatkan kontrak dari proyek mobil listrik.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai bahwa keberhasilan kebijakan tidak semata diukur dari peningkatan penjualan kendaraan listrik, melainkan dari besarnya nilai tambah yang dapat dipertahankan di dalam negeri. Namun, saat ini, insentif masih lebih banyak mendorong penjualan kendaraan impor utuh atau kendaraan dengan kandungan lokal rendah.
Menurut Josua, dengan struktur kebijakan saat ini, dampak terhadap industri komponen lokal, tenaga kerja manufaktur, kegiatan riset, serta pemasok dalam negeri masih terbatas. Hal ini membuat pelaku industri komponen lokal tertekan, terlebih karena data Kemenperin menunjukkan industri otomotif roda empat memiliki kapasitas produksi 2,35 juta unit per tahun dan menyerap sekitar 69,39 ribu tenaga kerja langsung.
Deretan Pabrik Mobil Listrik di Indonesia
Dari sisi produsen, CEO Aion Indonesia Andry Chiu menyatakan bahwa penggunaan komponen lokal akan dilakukan secara bertahap mengikuti ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Sesuai Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, TKDN mobil listrik produksi lokal ditetapkan minimal 40% pada periode 2022–2026, meningkat menjadi 60% pada 2027–2029, dan mencapai 80% mulai 2030.
Saat ini, Aion memiliki fasilitas produksi di Cikampek, Jawa Barat, dengan kapasitas sekitar 50.000 unit mobil listrik per tahun dan TKDN mencapai 40%. Seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik, sejumlah produsen global juga mempercepat pembangunan basis produksi di Indonesia.
BYD asal China sedang membangun pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 150.000 unit per tahun dan ditargetkan segera beroperasi. VinFast dari Vietnam telah merealisasikan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas awal sekitar 50.000 unit per tahun. Fasilitas produksinya berdiri di atas lahan seluas 171 hektare di Subang, Jawa Barat.
Hyundai dari Korea Selatan juga telah menanamkan investasi sekitar US$3 miliar untuk membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, termasuk tiga fasilitas utama yaitu PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power, PT Hyundai Energy Indonesia (HEI), dan PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI).
Produsen asal Tiongkok, Wuling, telah memiliki fasilitas perakitan seluas 60 hektare di Cikarang, Jawa Barat, dan telah mengekspor sejumlah model kendaraan listrik seperti Air EV, Binguo EV, dan Cloud EV ke berbagai negara.





