Mari kita merenungkan bacaan Injil Katolik serta rangkaian liturgi suci untuk Misa harian pada perayaan Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul, yang diperingati dengan balutan warna liturgi merah. Perayaan ini menjadi momen penting bagi umat Katolik di seluruh dunia untuk mengenang kembali keteladanan para rasul pertama yang dengan setia mewartakan Kabar Baik hingga akhir hayat mereka.
Rangkaian Bacaan Liturgi Suci
Dalam perayaan Ekaristi hari ini, susunan bacaan suci yang dipersiapkan untuk umat meliputi Bacaan Pertama dari Surat Efesus, Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, serta Warta Injil menurut Lukas.
-
Bacaan Pertama (Efesus 2:19-22):
Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa status mereka telah sepenuhnya berubah. Mereka bukan lagi orang asing atau pendatang asing, melainkan telah menjadi kawan sewarga dari orang-orang kudus serta bagian resmi dari keluarga Allah. Fondasi bangunan rohani ini diletakkan di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, sebagai batu penjuru yang utama. Di dalam Dia, seluruh struktur bangunan rohani bertumbuh dengan rapi dan teratur menjadi bait Allah yang kudus di dalam Tuhan. -
Mazmur Tanggapan (Mazmur 19:2-3, 4-5):
Pemazmur melantunkan keagungan ciptaan Tuhan di mana hari meneruskan warta kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan kepada malam. Meskipun tidak ada suara atau kata-kata harafiah yang terdengar, gema pujian tersebut terpancar luas hingga ke ujung bumi, mencerminkan kemah megah yang dipasang Tuhan bagi matahari di langit. -
Bacaan Injil Suci (Lukas 6:12-19):
Kisah suci hari ini mencatat momen krusial ketika Yesus pergi ke bukit seorang diri untuk berdoa. Ia menghabiskan waktu semalam suntuk untuk berdoa kepada Allah Bapa sebelum mengambil keputusan besar. Ketika hari mulai terang, Ia memanggil para murid-Nya dan memilih dua belas orang dari antara mereka untuk diangkat menjadi rasul:- Simon yang kemudian diberi nama Petrus
- Andreas, saudara Simon
- Yakobus dan Yohanes
- Filipus dan Bartolomeus
- Matius dan Tomas
- Yakobus anak Alfeus
- Simon yang dijuluki orang Zelot
- Yudas anak Yakobus
- Yudas Iskariot yang kelak menjadi pengkhianat
Setelah memilih mereka, Yesus turun ke tempat yang datar. Di sana telah berkumpul lautan manusia, yakni para murid dan orang banyak yang datang dari wilayah Yudea, Yerusalem, hingga daerah pesisir Tirus dan Sidon. Mereka datang dengan satu kerinduan besar: mendengarkan pengajaran-Nya dan memohon kesembuhan dari berbagai penyakit serta gangguan roh jahat. Kuasa ilahi terpancar keluar dari diri-Nya, menyembuhkan setiap orang yang berdesakan hanya untuk sekadar menjamah jubah-Nya.
Renungan Harian Katolik: Meneladani Semangat Para Rasul
Peristiwa pemilihan dua belas rasul dalam Injil hari ini menyimpan makna teologis dan praktis yang sangat mendalam bagi kehidupan rohani kita sebagai orang beriman di era modern.
1. Kekuatan Doa dalam Mengambil Keputusan
Tindakan Yesus yang naik ke bukit dan berdoa semalam suntuk sebelum memilih para rasul menunjukkan keseriusan-Nya dalam menjalankan misi penebusan dunia. Yesus melibatkan Allah Bapa sepenuhnya dalam proses pemilihan rekan kerja terdekat-Nya. Hal ini memberikan teladan nyata bagi kita agar senantiasa mengandalkan keheningan doa setiap kali kita dihadapkan pada keputusan-keputusan krusial dan persimpangan jalan dalam hidup kita.
2. Menjawab Panggilan Menjadi Berkat
Yesus secara proaktif memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan mereka pun datang menyambut panggilan tersebut dengan kerendahan hati. Sebagai umat berpunya iman, kita semua tentu memiliki kerinduan agar kehadiran kita di tengah dunia ini dapat mendatangkan manfaat dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Bukan sekadar untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok kecil, melainkan untuk kemuliaan yang lebih besar di tengah masyarakat luas. Ketika Tuhan memanggil kita untuk mengemban suatu tugas pelayanan, mari kita belajar untuk menyanggupinya dengan penuh tanggung jawab.
3. Memantaskan Diri Menjadi Murid Kristus
Dua dari dua belas rasul yang dipilih-Nya adalah Santo Simon Zelot dan Santo Yudas anak Yakobus, yang pestanya kita rayakan hari ini. Jika kita merefleksikan diri ke masa lalu, andaikata Yesus memanggil murid-murid dari berbagai kalangan tanpa batasan, apakah nama kita layak masuk dalam daftar tersebut? Lebih dari itu, jika kita sungguh-sungguh dipilih, siapkah kita memikul salib dan kepercayaan yang diberikan-Nya? Mari kita terus memantaskan diri dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Doa Penutup
Ya Tuhan Allah yang maha kasih, semoga kami senantiasa layak disebut sebagai murid-murid-Mu. Doronglah hati kami untuk selalu mengusahakan hidup yang selaras dengan kehendak-Mu, serta kuatkanlah langkah kami agar mampu menghidupi panggilan dan identitas sebagai pengikut Kristus dengan penuh komitmen, keberanian, dan kesetiaan sejati. Amin.
