Inovasi Pengelolaan Sampah di Kelurahan Bakungan, Banyuwangi

Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi banyak daerah, warga Kelurahan Bakungan, Banyuwangi menunjukkan bahwa sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan pengelolaan yang dilakukan secara mandiri dan melibatkan berbagai elemen masyarakat, sampah rumah tangga di Bakungan mampu diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung kebersihan lingkungan.

Kelurahan Bakungan dikenal sebagai salah satu wilayah yang aktif mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah TPS 3R Omah Olah Sampah. KSM Joger Blambangan mengelola TPS 3R tersebut sejak Juni 2023 dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari warga, pemuda karang taruna, tokoh masyarakat, hingga ibu-ibu PKK.

Warga diajarkan untuk memilah sampah dari rumah, memisahkan mana yang organik dan anorganik. Proses ini dimulai dengan edukasi agar warga terbiasa melakukan pemilahan dari awal. “Sampai sekarang terus kami edukasi. Tidak mudah, tapi harus terus dibiasakan dari skala rumah. Agar memudahkan petugas di TPS untuk mengolahnya,” kata Plt. Lurah Bakungan Prasetyo Suhartono saat mengunjungi lokasi tersebut.

TPS 3R Omah Olah Sampah saat ini melayani sekitar 3.000 warga. Layanan yang diberikan mencakup pengambilan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik dan anorganik, produksi berbagai hasil olahan sampah, hingga edukasi pengelolaan sampah bagi masyarakat. Setiap hari, TPS 3R tersebut menangani sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah rumah tangga.

Dari jumlah tersebut, sekitar dua kuintal sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah. Sampah organik yang telah dipilah digunakan untuk pakan maggot, kompos, dan pupuk organik cair. Maggot kemudian digunakan sebagai pakan ternak seperti ayam, bebek, dan lele yang juga dibudidayakan oleh KSM, serta dijual kepada masyarakat.

Inovasi ini mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Menurutnya, Bakungan menjadi contoh bagaimana persoalan sampah bisa diselesaikan dari tingkat kelurahan. “Kuncinya ada pada kepedulian dan gotong royong warga. Ini adalah praktik baik yang bisa direplikasi di desa lain,” ujar Ipuk.

Bupati Ipuk mengatakan pihaknya terus mendorong agar desa dan kelurahan di Banyuwangi memiliki pengolahan sampah secara mandiri untuk mendukung TPS 3R kapasitas besar yang telah ada. Banyuwangi telah memiliki TPS 3R berkapasitas pengolahan puluhan ton tiap harinya di Balak Songgon, TPS Tembokrejo Muncar, hingga TPS 3R Kareta yang tengah dibangun.

“Ini adalah langkah penting agar sampah bukan lagi menjadi problem serius, bahkan bisa menjadi sumber manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga,” kata Ipuk.

Selain TPS 3R, inovasi lain yang dikembangkan Bakungan adalah sistem bank sampah digital melalui aplikasi Abank Sayang (Bank Sampah Masyarakat Bakungan). Aplikasi tersebut berisi pencatatan tabungan sampah warga, mulai dari pendaftaran, penimbangan, hingga konversi menjadi saldo. Saat ini tercatat sekitar 140 warga menjadi nasabah aktif bank sampah, mulai dari ibu-ibu PKK hingga siswa sekolah dasar.

“Warga cukup membawa sampah yang sudah dipilah ke TPS 3R untuk ditimbang. Nilainya langsung tercatat dalam aplikasi sebagai saldo tabungan. Saldo tersebut dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai maupun ditukar dengan berbagai hadiah,” jelas Prasetyo.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version