Ancaman Serangan AS terhadap Gunung Kolang di Iran

Gunung Kolang, yang dikenal juga sebagai Gunung Pickaxe, menjadi sorotan utama dalam isu keamanan internasional akibat ancaman serangan dari pasukan Amerika Serikat (AS). Dugaan bahwa gunung ini menjadi tempat kompleks nuklir rahasia telah dibantah oleh pihak Iran. Namun, ancaman tersebut tetap muncul, terutama setelah pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan akan menyerang lokasi tersebut “dengan sangat gencar.”

Perkembangan Terkini tentang Aktivitas Nuklir Iran

Pada tahun 2025, media AS seperti The Washington Post dan The New York Times melaporkan bahwa Iran mempercepat pembangunan di lokasi nuklir bawah tanah rahasia di Gunung Kolang. Meski begitu, Teheran secara tegas membantah adanya aktivitas nuklir di area tersebut. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, fokus Washington pada Gunung Kolang tidak lebih dari dalih untuk agresi dan sabotase.

Baqaei menegaskan bahwa aktivitas nuklir Iran sepenuhnya diumumkan kepada badan pengawas atom PBB. Hal ini menunjukkan bahwa Iran mengklaim transparansi dalam program nuklir mereka. Namun, ancaman dari AS tetap berlangsung, meskipun belum ada tindakan nyata yang dilakukan.

Penjelasan dari Ahli Senjata Nuklir

David Albright, seorang ahli senjata nuklir dan pendiri Institute for Science and International Security, menyatakan bahwa Gunung Kolang cukup besar untuk menampung pabrik pengayaan sentrifugal serta kegiatan pembuatan senjata nuklir. Ia menambahkan bahwa situs tersebut tidak diserang dalam dua perang sebelumnya karena tidak ada barang berharga yang terkandung di dalamnya. Namun, penilaian itu mungkin berubah.

Albright juga menyebut kemungkinan bahwa Trump ingin menghindari Iran memiliki situs nuklir yang terkubur dalam-dalam. Ia mengkhawatirkan bahwa rezim Iran sedang membangun kembali kemampuan senjata nuklirnya. Jika AS melanjutkan serangan semacam ini, maka akan dianggap sebagai “ledakan perang di kawasan tersebut,” menurut komando militer Iran.

Respons Militer Iran

Komando militer Khatam Al-Anbiya Iran menegaskan bahwa semua kepentingan Amerika, sekutu, dan pendukungnya akan menjadi sasaran “serangan dahsyat” jika serangan AS benar-benar dilakukan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran bersiap menghadapi konflik yang lebih luas jika ancaman tersebut menjadi kenyataan.

Kesepakatan Nuklir AS dengan Arab Saudi

Sementara itu, Donald Trump telah menyetujui kesepakatan dengan Arab Saudi yang berpotensi memberikan kemampuan pengayaan uranium kepada kerajaan tersebut untuk program nuklir sipilnya. Kesepakatan ini diungkapkan oleh dua sumber yang mengetahui masalah ini. Mereka mengatakan kesepakatan tersebut diperkirakan akan diumumkan secara publik paling cepat pada hari Rabu.

Kesepakatan AS dengan Arab Saudi diperkirakan akan berlangsung selama 30 tahun dan melibatkan perusahaan-perusahaan AS dalam pengembangan program tersebut. Selain itu, kesepakatan ini dapat memungkinkan pembangunan fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi setelah studi bersama AS-Arab Saudi.

Namun, kesepakatan ini dapat menghadapi hambatan di antara para anggota parlemen yang khawatir bahwa membantu Arab Saudi memperkaya uranium sendiri akan membuka babak baru proliferasi dan persaingan nuklir. Arab Saudi adalah negara anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang mempromosikan kerja sama nuklir untuk tujuan damai, tetapi juga melakukan inspeksi terhadap negara-negara untuk memastikan mereka tidak memiliki program senjata atom rahasia.

Menurut salah satu sumber, perjanjian tersebut diperkirakan tidak akan mencakup Protokol Tambahan IAEA, yang memungkinkan pemantauan, inspeksi, dan verifikasi yang lebih intensif. Pengumuman ini muncul di tengah perang melawan Iran yang dilancarkan oleh AS dan Israel, sebagian untuk melenyapkan kemampuan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Iran bersikeras bahwa program pengayaan nuklirnya bersifat damai. Baik Trump maupun mantan Presiden Joe Biden mencoba mencapai kesepakatan nuklir dengan kerajaan tersebut untuk berbagi teknologi Amerika. Namun, para ahli nonproliferasi memperingatkan bahwa setiap sentrifugal yang berputar di Arab Saudi dapat membuka pintu bagi kemungkinan program senjata bagi kerajaan tersebut, sesuatu yang telah diisyaratkan oleh pemimpin de facto yang tegas, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, bahwa ia dapat lakukan jika Teheran memperoleh bom atom.

Menteri Energi Chris Wright melakukan perjalanan ke Arab Saudi tahun lalu tak lama sebelum Trump mengunjungi kerajaan tersebut dan membahas pengembangan industri tenaga nuklir komersial kerajaan itu dengan mitranya dari Arab Saudi.

Uni Emirat Arab, negara tetangga Arab Saudi, menandatangani apa yang disebut sebagai “perjanjian 123” dengan AS untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah dengan bantuan Korea Selatan. Namun, UEA melakukannya tanpa melakukan pengayaan uranium, sesuatu yang oleh para ahli nonproliferasi dianggap sebagai “standar emas” bagi negara-negara yang menginginkan tenaga nuklir.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version