Kenaikan Harga Minyak dan Dampak Global
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Reaksi cepat dari Teheran menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga pada seluruh dunia. Iran dilaporkan melakukan serangan balasan yang menargetkan kepentingan AS dan Israel di sejumlah negara di kawasan tersebut, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Oman.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara AS-Israel dan Iran, otoritas Tehran mengirimkan sinyal keras dengan mengancam menggunakan senjata ekonomi strategis berupa penutupan jalur pelayaran energi paling penting di dunia, yakni Selat Hormuz. Informasi ini dibenarkan oleh pejabat Uni Eropa yang menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menerima transmisi radio frekuensi sangat tinggi (VHF) dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Dalam pesan itu disebutkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz”.
Tidak lama setelah peringatan tersebut disampaikan, setidaknya tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar kawasan selat. Dua kapal disebut terkena serangan secara langsung, sedangkan satu kapal lainnya hampir terdampak ledakan proyektil yang tidak dikenal. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengonfirmasi adanya “aktivitas militer signifikan” di wilayah tersebut, termasuk insiden yang terjadi sekitar dua mil laut di utara Kumzar, Oman.
Akibat situasi itu, aktivitas pelayaran internasional nyaris lumpuh. Data dari platform pelacakan kapal Kpler mencatat sekitar 150 kapal tanker memilih berlabuh di luar perairan Selat Hormuz. Namun demikian, sejumlah kapal berbendera Iran dan China masih dilaporkan tetap melintas.
Minyak Mentah Naik
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya menyebabkan terganggunya jalur distribusi minyak dunia. Dampaknya segera terasa di pasar global dengan meningkatnya harga minyak mentah. Pemerintah Indonesia pun segera mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan efek lanjutan pada pasokan serta cadangan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mengadakan rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) guna membahas kondisi terbaru pasokan minyak dan ketahanan cadangan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/3). Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu melakukan kajian menyeluruh sebelum menetapkan kebijakan lanjutan.
“Saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional. Setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian dari DEN,” ujar Bahlil. Ia menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia kini mulai bergerak naik seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Meski kenaikannya belum terlalu tajam, ia mengingatkan agar tren tersebut tetap diwaspadai.
Dampak di Jambi
Meskipun konflik Iran dan Amerika Serikat secara geografis tampak jauh dari Jambi, Arief menilai situasi tersebut tetap berpengaruh terhadap sektor ekonomi. “Kalau kita pakai perspektif ekonomi politik internasional justru sebaliknya, dampaknya dapat turun secara perlahan hingga level daerah melalui mekanisme pasar global,” ujarnya. Ia menyampaikan bahwa dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung, konflik di Timur Tengah hampir selalu berdampak pertama kali pada harga energi serta biaya logistik internasional.
Dampak tersebut kemudian menjalar ke wilayah berbasis komoditas seperti Jambi. Ketika ketegangan militer meningkat dan risiko terhadap jalur energi dunia bertambah, harga minyak global cenderung terdorong naik. Hal ini pada akhirnya meningkatkan ongkos transportasi, distribusi, dan produksi, termasuk untuk kegiatan ekspor dan impor di daerah.
Pelajaran Geopolitik
Arief menjelaskan bahwa perekonomian Jambi sangat bergantung pada komoditas global seperti CPO, karet, batubara, serta produk turunan perkebunan yang harganya dipengaruhi dinamika pasar internasional. Dalam kondisi konflik global, biasanya muncul dua kemungkinan sekaligus: di satu sisi pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat ekspor terlihat lebih kompetitif. Tetapi di sisi lain kenaikan biaya energi dan ongkos angkut internasional justru menekan margin keuntungan pelaku usaha di daerah.
“Inilah realitas globalisasi kontemporer, perang mungkin terjadi jauh dari kita, tetapi konsekuensi ekonominya bisa terasa sangat dekat,” pungkasnya.





