Ringkasan Berita:
- Anak yang susah makan setelah berhenti ASI perlu mendapat perhatian pada kualitas dan keberagaman asupan, bukan sekadar jumlah makanan
- Orangtua perlu memastikan kebutuhan protein, zat besi, zinc, kalsium, vitamin D, serta nutrisi lain terpenuhi melalui makanan beragam dan seimbang
- Kebiasaan makan sehat juga perlu dibangun sejak dini agar anak mampu memilih makanan dengan lebih baik saat memasuki usia sekolah
Infomalangraya.net, JAKARTA – Anak mulai susah makan setelah berhenti mengonsumsi ASI menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi orang tua.
Memasuki usia dua tahun, anak semakin aktif bergerak dan mengeksplorasi lingkungan, tetapi pada saat yang sama bisa mulai pilih-pilih makanan hingga melakukan gerakan tutup mulut (GTM).
Kondisi tersebut sering membuat orang tua khawatir. Makanan yang sudah disiapkan justru hanya disentuh, dimuntahkan, atau ditolak anak.
Padahal, setelah memasuki usia dua tahun, kebutuhan gizi anak tetap perlu dipenuhi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan.
Karena itu, perhatian orang tua sebaiknya tidak hanya tertuju pada seberapa banyak anak makan, tetapi juga seberapa beragam dan berkualitas makanan yang masuk dalam pola makan hariannya.
Sumber protein, karbohidrat, sayur, buah, lemak, serta berbagai mikronutrien seperti zat besi, zinc, kalsium dan vitamin D perlu menjadi bagian dari pola makan anak.
Zat besi menjadi salah satu mikronutrien yang penting diperhatikan karena berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk perkembangan otak dan fungsi kognitif. Sementara vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan.
Dalam konteks produk pangan atau susu yang dikonsumsi anak, kombinasi zat gizi seperti zat besi dan vitamin C juga kerap menjadi perhatian.
Salah satunya dikenal dengan istilah IronC, yakni kombinasi zat besi dan vitamin C yang dirancang untuk mendukung penyerapan zat besi.
Namun, susu tetap bukan satu-satunya sumber nutrisi anak. Pola makan beragam dan seimbang tetap menjadi dasar pemenuhan kebutuhan gizi.
Susu Bukan Pengganti Makan
Bagi sebagian keluarga, susu masih menjadi bagian dari pola makan anak, terutama ketika anak sedang berada dalam fase sulit makan.
Meski demikian, orang tua perlu memahami bahwa susu tidak seharusnya menjadi pengganti seluruh makanan utama. Ketika memilih produk susu, kandungan zat gizi perlu menjadi pertimbangan, bukan hanya rasa yang disukai anak.
Kandungan zat besi, vitamin C, protein, kalsium, vitamin D, zinc, DHA serta asam lemak Omega 3 dan 6 dapat menjadi bagian yang diperhatikan sesuai kebutuhan anak.
Hal ini menjadi semakin penting ketika anak sedang memiliki nafsu makan yang tidak stabil atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu.
Dalam kondisi tersebut, orang tua tetap perlu berusaha menyediakan makanan yang beragam dan memperhatikan kecukupan zat gizi anak sepanjang hari.
Tantangan Berlanjut Saat Anak Masuk Sekolah
Persoalan pola makan tidak berhenti ketika anak melewati usia balita. Memasuki usia sekolah, anak justru mulai memiliki lebih banyak kesempatan untuk menentukan sendiri makanan yang dikonsumsi.
Ada jajanan di sekitar sekolah, makanan yang ditawarkan teman, hingga berbagai makanan dan minuman manis yang mudah ditemukan.
Karena itu, memastikan anak makan sampai kenyang saja tidak cukup. Orang tua juga perlu memperhatikan apa yang dimakan anak dan seberapa sering makanan tertentu dikonsumsi.
Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan yang beragam, termasuk sumber protein, sayur dan buah. Sebaliknya, konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula, garam, atau lemak yang tinggi perlu dibatasi.
Anak juga perlu dibekali pemahaman sederhana mengenai makanan yang baik bagi tubuh sehingga secara bertahap mampu membuat pilihan yang lebih sehat.
Pentingnya edukasi tersebut turut menjadi perhatian dalam perayaan 10 tahun Nutrition Goes to School (NGTS) di Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin mengatakan sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan makan sehat pada anak.
Menurut Tatang, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran akademik, tetapi juga dapat berperan sebagai agen perubahan dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai gizi.
“Hal yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini terkait ada kekurangan gizi di anak-anak, juga ada yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi ini bagian penting yang ingin kita respon melalui sekolah sebagai agen perubahan,” kata Tatang.
Menurutnya, edukasi gizi di sekolah perlu diarahkan agar anak mampu mengenali dan memilih makanan sesuai kebutuhannya, termasuk menghindari konsumsi gula dan garam secara berlebihan.
Jangan Keliru Memilih Produk Pangan
Selain membangun kebiasaan makan sehat, orang tua juga perlu memahami fungsi setiap produk pangan yang diberikan kepada anak.
Salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah anggapan bahwa susu kental manis dapat digunakan sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap 2.150 orang tua balita menunjukkan 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.
Pakar gizi IPB University dr. Karina Rahmadia Ekawidyani mengatakan kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi.
Produk tersebut dibuat dengan mengurangi kandungan air dalam susu dan menambahkan gula dalam jumlah besar.
Dalam setiap takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, kandungan gulanya dapat mencapai sekitar 15 gram.
“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujar Karina.
Sebagai gambaran, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan sekitar 50 gram. Karena itu, konsumsi produk dengan kandungan gula tinggi secara berulang dapat membuat asupan gula harian anak cepat bertambah.
Orang tua perlu membedakan fungsi setiap produk pangan dan tidak berasumsi bahwa semua produk yang menggunakan kata “susu” memiliki kandungan dan fungsi yang sama.
Cara Membantu Anak Memenuhi Kebutuhan Gizi
Menghadapi anak yang susah makan membutuhkan kesabaran. Orang tua tidak harus memaksa anak menghabiskan makanan dalam satu waktu.
Yang lebih penting adalah memastikan kecukupan dan keberagaman asupan anak secara keseluruhan sepanjang hari.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan orang tua antara lain:
1. Sajikan makanan beragam
Usahakan menu anak terdiri atas sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan sumber lemak sesuai kebutuhan.
2. Pastikan ada sumber protein
Telur, ikan, ayam, daging, tahu, dan tempe dapat menjadi pilihan sumber protein dalam menu harian anak.
3. Perhatikan mikronutrien
Selain energi dan protein, zat besi, zinc, kalsium, vitamin D, serta vitamin dan mineral lainnya perlu diperhatikan dalam pola makan anak.
4. Jika memberikan susu, perhatikan kandungannya
Jangan memilih produk hanya berdasarkan rasa atau kemasan. Baca informasi nilai gizi dan sesuaikan dengan kebutuhan anak.
5. Batasi makanan dan minuman manis
Biasakan anak mengonsumsi air putih dan tidak menjadikan makanan atau minuman manis sebagai konsumsi harian secara berlebihan.
6. Biasakan sarapan dan bekal
Sarapan dan membawa bekal dapat membantu menyediakan pilihan makanan yang lebih terkontrol ketika anak berada di sekolah.
7. Orang tua menjadi contoh
Anak belajar dari kebiasaan di rumah. Kebiasaan orang tua dalam memilih makanan akan ikut memengaruhi pola makan anak.
Pada akhirnya, fase susah makan tidak perlu dihadapi hanya dengan mengejar anak agar mau menghabiskan makanan.
Orang tua perlu melihat pola makan anak secara keseluruhan, memperhatikan keberagaman makanan, kecukupan zat gizi, serta membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.
Dengan pola tersebut, anak tidak hanya dibiasakan untuk makan, tetapi juga secara bertahap belajar memahami makanan yang dibutuhkan tubuhnya hingga memasuki usia sekolah.





