Kehidupan dan Perjalanan Karier Alvin Pattisahusiwa di Dunia Manajemen Aset
Alvin Pattisahusiwa adalah sosok yang telah membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih melalui ketekunan, kepercayaan pada prospek masa depan, serta kemampuan mengambil peluang dengan perhitungan yang tepat. Sebagai Direktur Utama Recapital Asset Management, ia telah menempuh perjalanan panjang dalam industri manajemen aset (MI) Indonesia.
Awal Mula Kariernya
Awal kariernya dimulai pada tahun 1997 ketika ia bergabung dengan Batavia Prosperindo Aset Manajemen (kala itu bernama Bira Asset Management). Keputusan untuk masuk ke dunia ini semata-mata karena ajakan seorang teman. Saat itu, Alvin belum memiliki pemahaman mendalam tentang reksadana, yang masih merupakan produk baru di Indonesia.
Namun, ia tidak ragu untuk mencoba. Pengalaman “iseng” saat kuliah, seperti mengikuti antrean IPO saham Telkom pada tahun 1995, memberinya dasar awal tentang pasar saham. Meski masih butuh belajar lebih lanjut, ia berusaha mengikuti alur pekerjaannya dengan penuh dedikasi.
Dalam waktu satu setengah tahun, Alvin naik jabatan menjadi fund manager. Namun, posisi tersebut disambut dengan suasana yang cukup menyedihkan karena banyak rekan kerjanya bermigrasi ke industri lain akibat ketidakpastian ekonomi.
Menghadapi Krisis dan Berjuang Sendirian
Di tengah krisis, Alvin mulai belajar mengelola dana investasi, membuat keputusan penting di tengah ketidakpastian, dan akhirnya diakui kemampuannya. Pada tahun 1999, ia menerima tawaran dari MessPierson Finas Investment Management, yang kini berubah nama menjadi BNP Paribas Asset Management.
Meskipun di perusahaan yang lebih besar, situasi industri tetap tidak kondusif. Nasabah sering bertanya, “Kapan bisa keluar dari pasar?” Alvin terus meyakinkan mereka bahwa situasi akan membaik. Dan benar saja, ekonomi Indonesia mulai pulih seiring meredanya tensi politik.
Namun, krisis tak pernah berhenti. Gelombang redemption akibat inflasi dan suku bunga pada 2005, krisis keuangan global 2008, hingga berbagai tantangan lainnya selalu hadir. Dari sini, Alvin menyadari bahwa krisis akan selalu ada, dan satu-satunya cara adalah menghadapinya.
Kesuksesan di BNP Paribas AM
Setelah melewati tiga krisis di BNP Paribas AM, Alvin berhasil menamatkan perjalanan kariernya di sana pada 2011. Selama sepuluh tahun, dana kelolaannya meningkat dari Rp 15 miliar menjadi Rp 25 triliun.
Pada 2011, Alvin berencana untuk istirahat sejenak dan melanjutkan studi ke Prancis. Namun, sebelum masa sekolahnya selesai, ia menerima tawaran sebagai direktur investasi di Manulife Investment Management. Ia pun kembali ke Jakarta pada 2012.
Kariernya di Manulife dan Posisi Baru
Setelah lima tahun menjabat sebagai direktur di Manulife, Alvin kembali menerima tawaran-tawaran yang membuat level kariernya semakin meningkat. Ia sempat menjabat sebagai Direktur Utama Mandiri Investasi dan Komisaris Utama Bank Aladin Syariah.
Jabatan komisaris ini memberinya ruang untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Dengan beban kerja yang lebih longgar, Alvin menjadi advisor di sejumlah perusahaan, termasuk dalam program usungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana ia menjadi penasihat untuk pembiayaan hijau.
Berlabuh di Recapital Asset Management
Pada tahun 2025, Alvin resmi menjadi Direktur Utama Recapital Asset Management. Di sini, target utamanya adalah membangkitkan kembali perusahaan dan memperluas kiprahnya di industri manajemen aset.
Recapital AM telah berdiri sejak tahun 2000 dan pernah mengalami masa kejayaan di pertengahan 2000–2010. Di bawah kepemimpinan Alvin, ia ingin perusahaan kembali ke masa itu.
Selama setahun menjabat, dana kelolaan Recapital AM meningkat dari Rp 200 miliar menjadi hampir Rp 2 triliun. Untuk tahun ini, Alvin menetapkan target ambisius: Rp 7,2 triliun dana kelolaan.
Target Jangka Panjang
Alvin optimistis target tersebut dapat dicapai dengan kerangka teamwork yang telah ia terapkan. Ia juga terus melakukan pengembangan bisnis, termasuk menambah sumber daya manusia dan mitra distribusi.
Saat ini, jumlah karyawan Recapital AM sudah bertambah sekitar 50% dibanding tahun lalu. Mitra distribusi juga berkembang, hingga kini memiliki lebih dari 10 agen penjual efek.
“Target saya dalam lima tahun masa jabatan, pada 2030 nanti, kami sudah bisa duduk di 10 besar MI di Indonesia,” ujar Alvin.





