Situs Tondowongso Kembali Dikenal Setelah Viralnya Situs Adan-Adan
Viralnya Situs Adan-Adan di media sosial memberikan dampak positif bagi Situs Tondowongso yang berada di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Sebelumnya, kawasan percandian kuno ini cenderung sepi pengunjung, tetapi kini mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menelusuri jejak peradaban masa lalu.
Imbas dari Viralnya Situs Adan-Adan
Kawasan Situs Tondowongso yang terletak di Desa Gayam, Kecamatan Gurah, kini menjadi daya tarik baru bagi para pengunjung. Juru Pelihara Situs Tondowongso, Edi Saputro, mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ini ada wisatawan yang datang setelah viralnya pembahasan situs purbakala di wilayah barat Kabupaten Kediri tersebut.
“Beberapa wisatawan mulai datang ke sini, imbas dari viralnya Situs Adan-Adan,” jelasnya. Meskipun lokasi Situs Tondowongso berada di tengah area persawahan dan cukup jauh dari jalan raya, jarak antara dua situs tersebut hanya sekitar empat kilometer. Hal ini membuat sebagian wisatawan penasaran untuk melihat langsung peninggalan sejarah lain di Kabupaten Kediri.
Menurut Edi, kondisi ini terasa berbeda dibanding hari-hari biasa yang cenderung sepi pengunjung. “Biasanya sepi, ini tadi ada pengunjung dari Kediri juga,” tambahnya.
Kawasan Situs Kini Lebih Tertata dan Terlindungi
Situs Tondowongso saat ini terlihat lebih tertata dibanding tahun sebelumnya. Area situs sudah dilengkapi pagar pembatas, sementara sebagian struktur percandian telah dipasangi atap pelindung atau cungkup. Keberadaan atap pelindung dinilai penting untuk menjaga struktur batu bata kuno dari ancaman cuaca, terutama panas matahari dan hujan yang berpotensi mempercepat kerusakan situs.
“Sudah sekitar empat bulanan ada pagar dan atap,” ungkap Edi. Di kawasan situs tampak susunan batu bata kuno membentuk struktur candi yang berada di bawah permukaan tanah. Sebagian area masih berupa hasil ekskavasi terbuka dengan jalur pembatas bagi pengunjung.
Setiap hari, Edi rutin membersihkan area situs, terutama lumut yang mulai tumbuh di batu-batu struktur candi agar kondisi peninggalan sejarah tetap terawat. “Setiap hari dibersihkan,” katanya.
Saat ini terdapat tiga bagian utama di kawasan Situs Tondowongso. Pada sisi barat sudah dipasangi cungkup pelindung, sedangkan dua bagian lainnya masih dipagari dan menunggu tahap pembangunan berikutnya.
Jejak Besar Peradaban Kediri Kuno
Situs Tondowongso menjadi salah satu penemuan arkeologi penting di Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Ekskavasi terbaru dilakukan pada Agustus 2025 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.
Dari ekskavasi tersebut ditemukan struktur batu bata dan pondasi bangunan kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 pada masa Kerajaan Kediri. Penelitian di Situs Tondowongso sendiri telah beberapa kali dilakukan, yakni pada 2006, 2007, 2022, dan 2025. Dari serangkaian penggalian itu ditemukan gapura, tiga candi pendamping, serta satu candi induk.
Tak hanya itu, para arkeolog juga menemukan 14 arca dan artefak penting seperti arca Siwa Catur Muka, Durga Mahisasuramardini, lingga, yoni, hingga arca Surya dan Chandra. Artefak tersebut sebelumnya disimpan di Museum Trowulan dan pada 2024 dipulangkan ke Kediri untuk ditempatkan di Museum Joyoboyo kawasan Pamenang.
Para arkeolog memperkirakan luas Situs Tondowongso mencapai lebih dari satu hektare. Karena itu, situs ini disebut sebagai salah satu penemuan arkeologi klasik terbesar dalam 30 tahun terakhir di Indonesia. Kawasan percandian yang diperkirakan dibangun pada abad ke-11 tersebut diyakini mulai ditinggalkan sekitar abad ke-13 seiring runtuhnya Kerajaan Kediri, banjir besar, serta aktivitas letusan Gunung Kelud.
Harapan Masa Depan Situs Tondowongso
Kini, perlahan Situs Tondowongso mulai kembali dikenal masyarakat. Viralnya situs-situs purbakala di Kabupaten Kediri diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran baru untuk menjaga warisan sejarah dan budaya daerah.
“Situs Tondowongso diharapkan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga ikon wisata sejarah baru yang mampu menarik wisatawan dan memperkuat identitas Kabupaten Kediri sebagai daerah kaya akan peradaban masa lalu,” ungkap Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno Triwarso.




