Peran Puasa dalam Mengurangi Stres
Salah satu tantangan besar dalam masyarakat modern adalah stres. Stres sering muncul ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan, terutama jika kebutuhan yang mendesak tidak segera terpenuhi. Dalam situasi seperti ini, puasa memiliki peran penting dalam mengurangi atau bahkan menghilangkan stres.
Kita perlu menyadari bahwa meskipun kenyamanan bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan makanan bisa diperoleh di restoran mewah, dan keindahan bisa dinikmati di objek wisata, tetapi ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Uang, kekayaan, dan jabatan belum tentu membawa ketenangan dan kebahagiaan. Ketenangan bukan hanya milik orang kaya atau pejabat, tetapi juga bisa dirasakan oleh orang-orang miskin.
Ketenangan dan kebahagiaan lebih merupakan hasil dari pengalaman spiritual daripada sesuatu yang bisa dicapai melalui materi. Ketenangan dan kebahagiaan adalah pemberian Tuhan, yang tergantung pada persepsi jiwa seseorang. Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan ketenangan. Di sinilah pentingnya puasa sebagai latihan spiritual untuk mengendalikan keinginan diri secara efektif.
Berpuasa berarti menahan diri dari makan, minum, berhubungan seks, dan perbuatan-perbuatan rendah lainnya. Puasa mengajarkan jiwa untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani. Orang-orang arif sering mengatakan bahwa puncak kebahagiaan adalah ketenangan batin. Nabi Muhammad SAW juga pernah berkata, “Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin).”
Tanpa kekayaan batin, kebahagiaan yang dirasakan hanyalah semu. Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan orang-orang miskin harta, karena banyak di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin. Sebaliknya, kita juga tidak boleh terlalu kagum kepada para pemilik kekayaan materi, karena mereka belum tentu merasa bahagia dan tenang.
Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam tidak melarang seseorang mengumpulkan kekayaan materi, bahkan mengharuskan orang untuk bekerja produktif, tetapi tetap efisien dan efektif. Kata Nabi, “Dunia adalah cermin akhirat.” Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses.
Ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, haji, dan puasa memerlukan biaya. Semua ibadah tersebut membutuhkan dana yang berasal dari dunia. Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin menurut para arifin adalah dengan menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) dalam diri.
Idealnya, setiap orang perlu sesekali melepaskan diri dari kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Goa Hira. Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau meninggalkan keluarga. Yang paling penting adalah menciptakan suasana ’uzlah (pemisahan diri) sementara dari hiruk pikuk pikiran ke tempat yang sejuk dan nyaman.
Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di masjid, seperti yang sering dilakukan selama bulan Ramadan. Salah satu keutamaan Ramadan adalah tersedianya waktu dan tempat untuk beriktikaf, yakni berdiam diri melakukan muhasabah di masjid karena Allah SWT. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Alquran lebih banyak, salat, tafakkur, dan berzikir.
Niatkan bahwa masjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah menjadi tempat para kekasih Tuhan, Nabi Muhammad SAW dan Ashhabul Kahfi, untuk mendapatkan pencerahan. Jika suasana batin dibiarkan terus-menerus terganggu dan disita oleh kehidupan sehari-hari, maka kita akan kehilangan rasa faqir (miskin di mata Tuhan).
Apalagi jika deposito dan kekayaan begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan akan melahirkan generasi lemah di mata Allah. Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak. Kita perlu ingat bahwa jika kehidupan di akhirat setara dengan 1000 tahun dunia, maka usia 70 tahun berarti sekitar 3 menit di akhirat. Maukah kita menukar hanya 3 menit dengan keabadian akhirat?
Harta kita harus dibersihkan dengan zakat dan shadaqah, pikiran kita harus diluruskan dengan zikrullah, dan jiwa kita harus dilembutkan dengan tafakkur dan tadzakkur. Kita juga perlu tangguh dalam pendirian di atas rel shirathal mustaqim.
Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: “La tahdzan innallaha ma’ana” (Jangan khawatir, Allah bersama kita). Semoga dengan berpuasa sebulan penuh, stres kita akan hilang, amin.





