Infomalangraya.net.CO.ID,JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan transformasi menuju World-Class Railway Operator and Ecosystem Orchestrator melalui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan arah tersebut menggambarkan upaya KAI membangun ekosistem perkeretaapian yang menghubungkan layanan penumpang, logistik, teknologi, aset, dan keberlanjutan dalam satu jaringan yang terintegrasi.

“Transformasi KAI dilakukan untuk menjawab perubahan pola mobilitas masyarakat dan perkembangan kebutuhan ekonomi Indonesia serta diarahkan agar manfaat kereta api semakin luas dirasakan masyarakat,” ujar Anne dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Skala layanan KAI tergambar dari pertumbuhan jumlah pelanggan. Sepanjang Januari-Juli 2026, KAI Group melayani 307.860.743 pelanggan, meningkat 8,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 284.202.884 pelanggan.

Anne menjelaskan pertumbuhan tersebut berasal dari berbagai layanan. KAI Commuter mencatat 242.932.764 pelanggan atau meningkat 6,65 persen, layanan KA Jarak Jauh dan Lokal KAI mencapai 35.257.646 pelanggan atau tumbuh 7,63 persen, sementara LRT Jabodebek melayani 19.079.347 pelanggan dengan pertumbuhan 20,96 persen.

Anne menyampaikan transformasi KAI juga mencakup penguatan peran kereta api dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional melalui layanan angkutan barang. Pada semester I 2026, KAI mencatat volume angkutan barang sebesar 32,50 juta ton, terdiri atas 26,53 juta ton batu bara dan 5,96 juta ton nonbatu bara.

“Kereta api membantu menghubungkan pusat produksi dengan berbagai wilayah distribusi. Angkutan barang menjadi bagian penting dalam mendukung rantai pasok nasional, mulai dari sektor energi, industri, hingga kebutuhan masyarakat,” ucap Anne.

Anne mengatakan perubahan kebutuhan masyarakat juga mendorong KAI memperkuat layanan digital. Hingga 2026, aplikasi Access by KAI memiliki 29,87 juta pengguna dengan Monthly Active User mencapai 8,92 juta pengguna. Pada semester I 2026, transaksi melalui kanal digital mencapai 76,49 persen, menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan layanan digital dalam perjalanan pelanggan.

Dari sisi keberlanjutan, KAI terus mengembangkan operasional yang lebih efisien. Pada 2025, konsumsi energi KAI tercatat sebesar 10.107.302 gigajoule (GJ) atau sekitar 10,1 juta GJ, turun 15,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya. KAI juga telah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi dengan kapasitas mencapai 4.430,65 kWp.

Anne mengatakan perjalanan menuju 2030 merupakan upaya KAI menghadirkan transportasi rel yang semakin relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Transformasi KAI mencakup pengembangan sistem mobilitas yang menghubungkan manusia, ekonomi, teknologi, dan lingkungan. KAI akan terus memperkuat layanan agar kereta api semakin menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia,” kata Anne.

Penumpang menaiki kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (14/3/2026). – (Infomalangraya.net/Thoudy Badai)

Sebelumnya, Anne Purba mengatakan transformasi energi menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi masa depan. Sebagai operator transportasi berbasis rel, kata Anne, KAI terus memperkuat efisiensi energi melalui inovasi operasional dan pemanfaatan bahan bakar dengan kandungan biodiesel yang semakin tinggi.

“Seluruh lokomotif dan kereta pembangkit berbahan bakar solar yang dikelola KAI telah menggunakan campuran biodiesel B40 sejak Januari 2026,” ujar Anne dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Selanjutnya, kata Anne, mulai 1 Juli 2026, KAI menerapkan penggunaan B50 pada seluruh lokomotif dan kereta pembangkit berbahan bakar solar untuk operasional KA Jarak Jauh dan KA Lokal yang dikelola KAI.

Anne mengatakan penerapan B50 menjadi bagian dari strategi KAI dalam meningkatkan efisiensi energi operasional sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon dari perjalanan kereta api.

“Transportasi masa depan membutuhkan pengelolaan energi yang semakin efisien dan terukur. Melalui penerapan B50, KAI terus mengoptimalkan penggunaan energi dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi untuk mendukung operasional kereta api yang semakin berkelanjutan,” sambung Anne.

Berdasarkan data penggunaan BBM periode 1 Januari–24 Agustus 2026, lanjut Anne, KAI telah menggunakan sekitar 172.228.585 liter BBM untuk operasional kereta api yang dikelola perusahaan. Anne menyampaikan konsumsi tersebut mencakup kebutuhan lokomotif dan kereta pembangkit berbahan bakar solar pada layanan KA Jarak Jauh dan KA Lokal KAI.

“Selama 55 hari penerapan B50, yaitu periode 1 Juli–24 Agustus 2026, peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 memberikan tambahan manfaat pengurangan emisi karbon,” lanjut Anne.

Berdasarkan estimasi konsumsi BBM operasional KAI pada periode tersebut, kebutuhan BBM diproyeksikan mencapai sekitar 40 juta liter. Anne mengatakan peningkatan kandungan biodiesel sebesar 10 persen dibandingkan penggunaan B40 tersebut diperkirakan menghasilkan tambahan pemanfaatan biodiesel sekitar empat juta liter.

“Dengan menggunakan pendekatan manfaat pengurangan emisi program biodiesel Kementerian ESDM, penerapan B50 selama periode tersebut diproyeksikan memberikan pengurangan emisi sekitar ±9 ribu ton CO₂e dibandingkan skenario penggunaan B40,” ucap Anne.

Anne menyampaikan perhitungan tersebut merupakan estimasi yang difokuskan pada operasional KA Jarak Jauh dan KA Lokal KAI. Setiap moda transportasi memiliki karakteristik energi dan metode penghitungan jejak karbon yang berbeda sehingga perhitungan emisi untuk layanan berbasis listrik maupun moda lainnya menggunakan pendekatan tersendiri.

Dari sisi pelayanan masyarakat, kata Anne, layanan KA Jarak Jauh dan KA Lokal KAI sepanjang Januari–Juli 2026 telah melayani sekitar 29,86 juta pelanggan. Dengan pendekatan estimasi tersebut, manfaat pengurangan emisi dari penerapan B50 selama 55 hari setara sekitar 0,3 kg CO₂e per pelanggan KA Jarak Jauh dan KA Lokal KAI.

Anne menjelaskan efisiensi energi menjadi salah satu bagian dari penguatan kinerja operasional KAI. Selain penerapan biodiesel, KAI terus mengembangkan berbagai upaya melalui optimalisasi penggunaan sarana, pemanfaatan energi terbarukan, serta pengelolaan konsumsi energi berbasis data.

“Kereta api memiliki karakteristik sebagai moda transportasi massal yang mampu melayani masyarakat dalam jumlah besar dalam satu perjalanan,” kata Anne.

Anne menyebut peningkatan efisiensi energi pada operasional kereta api memberikan kontribusi terhadap pengembangan transportasi yang semakin efektif dan berkelanjutan. Anne menambahkan penerapan B50 memperkuat langkah KAI dalam mendukung transformasi energi nasional sekaligus menghadirkan layanan transportasi rel yang semakin efisien, modern, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version