Pengumuman Pemenang Tender Pembangunan Armada Kapal Selam Baru Kanada
Kanada resmi menetapkan perusahaan Jerman, Thyssenkrupp Marine Systems (TKMS), sebagai pemenang tender pembangunan armada kapal selam baru. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney dalam sebuah acara di Halifax, Senin (7/7/2026), sebelum menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki. Pemilihan TKMS dilakukan karena penawaran mereka dinilai lebih unggul dalam hal teknologi siluman, manfaat ekonomi yang lebih besar, serta dukungan terhadap kerja sama pertahanan dengan NATO.
Keputusan ini juga mencerminkan strategi Kanada untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat di tengah perubahan dinamika keamanan global. Meskipun Hanwha Ocean dari Korea Selatan menjadi pesaing utama selama beberapa bulan, proposal mereka tidak mampu mengungguli penawaran dari Jerman.
Alasan Kanada Memilih Jerman
Tender tersebut merupakan bagian dari program modernisasi Angkatan Laut Kanada yang bertujuan menggantikan armada kapal selam kelas Victoria yang diperkirakan pensiun pada pertengahan 2030-an. Kanada sebelumnya mengumumkan rencana pengadaan hingga 12 kapal selam baru, meski jumlah akhirnya masih dapat berubah.
Menurut Carney, pemerintah menetapkan sejumlah syarat utama dalam proses seleksi. Di antaranya adalah kemampuan teknologi, manfaat ekonomi bagi industri dalam negeri, serta jaminan kendali penuh Kanada terhadap pengoperasian dan pemeliharaan kapal selam.
TKMS menawarkan kapal selam 212CD, generasi terbaru yang dikembangkan bersama Jerman dan Norwegia. Desain tersebut menggunakan lambung berbentuk berlian untuk mengurangi deteksi sonar, sistem propulsi sel bahan bakar yang sangat senyap, serta tiang optronik modern sebagai pengganti periskop konvensional. Selain itu, TKMS juga menawarkan skema pembagian biaya pemeliharaan jangka panjang bersama negara-negara NATO yang menggunakan platform serupa.
Perusahaan itu mengklaim kerja sama tersebut mampu memberikan nilai ekonomi hingga 160 miliar dolar Kanada dan menciptakan sekitar 650.000 tahun kerja bagi Kanada.
Hanwha Tawarkan Pengiriman Lebih Cepat
Di sisi lain, Hanwha Ocean menawarkan kapal selam KSS-III yang telah beroperasi di Angkatan Laut Korea Selatan. Perusahaan tersebut menjanjikan pengiriman empat unit pertama pada 2035, satu tahun lebih cepat dibandingkan proposal TKMS. Hanwha juga menawarkan paket senilai sekitar 24 miliar dolar Kanada untuk pembangunan kapal serta sekitar 100 miliar dolar Kanada untuk biaya pemeliharaan selama 50 tahun.
Sebagai bagian dari kampanye memenangkan tender, Hanwha bahkan mengirim satu unit KSS-III ke Vancouver pada Mei lalu. Perusahaan Korea Selatan itu juga menandatangani nota kesepahaman dengan Algoma Steel untuk investasi sekitar 345 juta dolar Kanada serta penggunaan baja Kanada dalam proyek pertahanan.
Namun, proposal tersebut tetap belum mampu mengungguli penawaran dari Jerman.
Faktor Politik dan NATO
Laporan SCMP menyebutkan bahwa keputusan Kanada juga dipengaruhi oleh perubahan lanskap geopolitik. Di tengah meningkatnya kritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap NATO dan hubungan dagang dengan sekutu, sejumlah negara mulai memperkuat kerja sama pertahanan di luar ketergantungan terhadap Washington.
Analis senior International Crisis Group, Ali Wyne, menilai keputusan Ottawa mencerminkan upaya negara-negara menengah untuk memperluas jaringan keamanan dengan mitra yang memiliki kepentingan serupa. Sementara itu, ahli geopolitik Abishur Prakash mengatakan banyak negara kini berupaya membangun “otonomi strategis” melalui kerja sama pertahanan dan ekonomi baru.
Hanwha Gagal, Kanada Masih Buka Opsi
Meskipun Hanwha Ocean gagal dalam tender, pemerintah Kanada menyatakan bahwa perusahaan asal Korea Selatan tersebut tetap berstatus sebagai pemasok cadangan. Apabila negosiasi dengan TKMS tidak mencapai kesepakatan akhir, Ottawa masih dapat beralih kepada perusahaan asal Korea Selatan tersebut.
CBC melaporkan bahwa Hanwha sebenarnya menawarkan manfaat ekonomi yang besar bagi wilayah Ontario utara. Investasi perusahaan Korea Selatan diperkirakan dapat membantu pemulihan industri baja Kanada yang terdampak tarif Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi.
Profesor ekonomi pertahanan dari Universitas Lakehead, Karl Skogstad, menilai Hanwha telah menyusun proposal yang sangat kompetitif. Menurutnya, status TKMS sebagai perusahaan dari negara anggota NATO menjadi nilai tambah yang sulit disaingi. Ia menyebut pengadaan alutsista tidak hanya ditentukan faktor teknis, tetapi juga pertimbangan politik dan aliansi keamanan.




