Pengalaman Pilu Meylani, Pekerja Migran Indonesia di Libya

Meylani Madalombang (28), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kelurahan Paal Empat, Kecamatan Tikala, Kota Manado, Sulawesi Utara, kini terjebak dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Alih-alih mendapatkan kesejahteraan di negeri orang, ia justru mengalami penderitaan akibat dugaan penganiayaan dan eksploitasi kerja.

Tribunmanado melakukan kunjungan ke kediaman keluarga Meylani pada Jumat (23/1/2026) sore. Di sana, Olivia, adik kandung Meylani, membagikan isi pesan singkat yang dikirimkan sang kakak melalui aplikasi chatting. Pesan tersebut menggunakan Bahasa Melayu Manado, bahasa kreol berbasis Melayu yang digunakan sehari-hari di Manado dan Sulawesi Utara, dengan serapan bahasa Belanda dan Portugis yang kuat.

Pesan tersebut menggambarkan penderitaan fisik dan batin yang dialami Meylani:

“Qt dbking rupa robot ksyg Krja nd brnti Kong krja bkg cma 1 rumh Dy pigi pdpe mm mntu dy bwa pqt suru krja leh Pigi pdpe mm perumh krja leh ksyg Qt nd kuat Tpe bdn” smua ini so saki Saki” Smpe dirumh jmm 12 mlm msih mo kse bersih dpe dapur Bru mo nae k kmr msih di pangge” leh ksyg,” tulis Meylani dalam pesan tersebut.

Terjemahan:
Saya dibikin seperti robot kasihan kerja tidak berhenti dan kerja bukan hanya satu rumah. Dia pergi ke rumah mama mantunya dia bawa saya kerja lagi. Perki ke rumah mamanya kerja lagi kasian, tidak kuat badan saya. Semua ini sudah sakit-sakit. Sampai di rumah jam 12 malam masih lagi bersihin dapurnya, bahkan saat hendak naik ke rumah masih dipanggil lagi.

Awal Perjalanan yang Berujung Pahit

Perjalanan pahit Meylani bermula dari keinginannya untuk mencari penghasilan tambahan. Olivia menceritakan bahwa awalnya Meylani mendaftar melalui perusahaan resmi, namun seorang penyalur datang menawarkan keberangkatan instan. Kejanggalan mulai muncul saat pengurusan dokumen. Meylani hanya diberikan paspor wisata.

Saat tiba di bandara, rute penerbangan dialihkan ke Dubai, padahal janji awalnya adalah Turki. Olivia menjelaskan bahwa Meylani hanya berkata “ya saja” karena diminta ganti rugi oleh penyalur tersebut.

Setelah sempat tertahan di Dubai selama dua minggu, Meylani dipaksa berangkat ke Libya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. Penolakan Meylani justru berujung kekerasan fisik dari pihak agen di sana. Meylani mengeluh, tapi malah ditampar agen. Ponselnya pun sempat diambil.

Pelarian dan Majikan Baru yang Kejam

Selama di Benghazi, Libya, Meylani mengalami penganiayaan dari majikan perempuannya. Ia kerap dilempari barang tajam hingga terluka, namun luka tersebut tidak pernah diobati. Dalam kondisi putus asa, Meylani nekat melarikan diri hanya dengan pakaian di badan. Beruntung, ia sempat dibantu oleh seorang pria bernama Mohammad yang dikenalnya saat di pesawat, hingga akhirnya berhasil mencapai Tripoli.

Namun, saat berada di KBRI, masalah tak kunjung usai. Meylani diminta membayar sejumlah uang kepada agen yang tidak mungkin sanggup ia penuhi. Kini, Meylani ditempatkan pada majikan baru di Tripoli, namun kondisinya tidak jauh berbeda. Ia dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan fisiknya hingga menderita sakit punggung dan kaki yang hebat.

“Waktu kerja kakak sudah melebihi, jam tidurnya hanya sedikit, ia kerja dari pagi hingga malam sampai majikan pulang, ia dipaksa bekerja,” ujar Olivia pilu.

Harapan Keluarga pada Pemerintah

Pihak keluarga mengaku sudah buntu dalam mengupayakan kepulangan Meylani. Kini, satu-satunya harapan mereka adalah campur tangan langsung dari pemerintah pusat dan daerah.

“Harapan kami kini pada Pak Presiden Prabowo Subianto, Menteri serta pak Gub YSK,” pungkas Olivia menutup pembicaraan.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version