Peluang Pascasarjana untuk Indonesia dan Malaysia

Kedatangan mahasiswa internasional ke Amerika Serikat (US) mengalami penurunan sebesar 17 persen, menurut Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Hal ini memberikan peluang bagi Indonesia dan Malaysia menjadi tujuan pendidikan pascasarjana yang diperhitungkan di dunia.

Yudi menyampaikan hal tersebut dalam acara World Post Graduate Expo di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, pada Sabtu (9/5/2026). Menurutnya, pergeseran besar dalam peta pendidikan tinggi global telah terjadi, dengan Asia mulai menggeser dominasi Barat dalam sektor pendidikan dan riset.

“Kedatangan mahasiswa internasional di US turun 17 persen. Ini peluang ASEAN, khususnya Indonesia dan Malaysia, untuk jadi tujuan pascasarjana yang diperhitungkan,” ujar Yudi.

Ia menekankan bahwa capaian perguruan tinggi Indonesia di tingkat global menunjukkan peningkatan signifikan. Sebanyak 35 perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk peringkat dunia versi QS World University Rankings (QS WUR). Selain itu, Universitas Airlangga (UNAIR) juga meraih posisi ke-9 dunia dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) Impact Rankings.

“Ini membuktikan perguruan tinggi kita tidak hanya mengejar angka, tetapi juga dampak,” kata Yudi.

Kolaborasi Indonesia dan Malaysia

Menurut Yudi, kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia dalam pendidikan tinggi bukan sekadar hubungan antarnegara berkembang, melainkan kerja sama antarsaudara serumpun untuk memajukan peradaban kawasan.

“Kolaborasi RI-Malaysia dalam memajukan peradaban. Kedua negara bukan sekadar berkembang, tapi serumpun,” ujarnya.

Chairman Education Malaysia Global Services (EMGS), Datuk Ahmad Shalimin Ahmad Shaffie, menegaskan bahwa Malaysia datang ke Indonesia bukan sekadar sebagai negara tetangga. Menurutnya, Malaysia merupakan saudara yang siap mendukung visi Indonesia Emas 2045.

“Jika Malaysia datang ke Jakarta, kami tidak datang sebagai tetangga tapi saudara. Malaysia siap dan berkomitmen berdiri bersama RI menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Ahmad Shalimin.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan ratusan ribu lulusan pascasarjana dalam dua dekade ke depan untuk memperkuat fondasi sumber daya manusia unggul. Oleh karena itu, EMGS hadir bukan sekadar menawarkan pendidikan, melainkan membuka akses bagi mahasiswa Indonesia ke kampus-kampus unggulan di Malaysia.

“Kerja sama kita harus lebih advance lagi. Tidak hanya sekadar pertukaran dosen, melainkan pembentukan jaringan ilmuwan serantau yang fokus pada masalah global,” tambahnya.

Program Pascasarjana di Malaysia

Malaysia menawarkan sistem pendidikan tinggi yang aman, terjamin, dan bertaraf global bagi mahasiswa internasional. Di sana, mahasiswa diberikan perlakuan khusus terkait imigrasi dan layanan lainnya.

Dalam ajang ini, EMGS menghadirkan sejumlah perguruan tinggi untuk mahasiswa Indonesia. Dua di antaranya adalah Universiti Sains Malaysia dan Brickfields Asia College yang menawarkan program pascasarjana berbasis industri dan kebutuhan masa depan.

Pengajar Universiti Sains Malaysia, Dr. Muhammad Amsar, menjelaskan bahwa pihaknya datang ke Jakarta dan Surabaya untuk mempromosikan program Master of Design (MOD) yang ditujukan bagi industri kreatif.

“Hari ini kami di Jakarta dan esoknya di Surabaya mempromosikan Master of Design untuk creative industry,” kata Amsar.

Program magister desain tersebut telah berjalan selama lima hingga enam tahun dan cukup diminati oleh mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti China, Bangladesh, Nepal, Arab Saudi, hingga Yaman.

“Kami mensasarkan Indonesia sebagai salah satu destinasi tumpuan kepada pelajar Indonesia. Sudah ada mahasiswa dari Indonesia, cuma belum seramai dari China,” ujarnya.

Spesialisasi di Brickfields Asia College

Senior Relationship Executive International Sales Brickfields Asia College, Revathesvari Ponnampalam, menjelaskan bahwa BAC Education Group membawa sejumlah kampus dengan spesialisasi berbeda, mulai dari hukum, komunikasi, teknologi, hingga perfilman.

“BAC College Malaysia fokus kepada law. Kalau Google BAC Law Malaysia, kami nomor satu di Malaysia untuk subjek hukum,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa BAC Education Group juga memiliki kampus UniMY yang fokus pada computer science, software engineering, cyber security, dan AI. Selain itu, ada Veritas University College yang menyediakan kuliah daring dan hybrid untuk mahasiswa internasional, termasuk mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi tanpa harus pindah ke Malaysia.

“Program postgraduate seperti MBA, MEd, sampai MA Education bisa ditempuh satu tahun saja dan tersedia online,” ujar Revathesvari.

Ia menambahkan bahwa BAC juga memiliki IACT College yang fokus pada komunikasi, produksi film, digital marketing, desain, dan broadcasting, serta Reliance College untuk bidang perhotelan dan culinary arts.

Menurut dia, Malaysia kini serius membidik mahasiswa Indonesia sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan Madani Malaysia.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version