Upaya Penanganan Kebakaran Hutan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Kementerian Kehutanan sedang memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Operasi gabungan dilakukan untuk mengendalikan kobaran api dan mencegah dampak lebih besar terhadap kawasan konservasi.

Sampai Rabu (5/8) pukul 18.00 WIB, kobaran api di Blok Watu Gede masih belum sepenuhnya dipadamkan. Manggala Agni bersama personel gabungan terus melakukan upaya pengendalian agar api tidak meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar. Area yang terbakar mencakup berbagai jenis vegetasi seperti savana, cemara gunung, pakis, dan semak belukar.

Proses pemadaman terbilang sulit karena petugas harus menghadapi medan yang curam dan perbukitan terjal. Selain itu, karakter vegetasi yang mudah terbakar serta minimnya sumber air turut menjadi kendala. Untuk memenuhi kebutuhan air, truk tangki dikerahkan ke lokasi-lokasi yang masih dapat dijangkau oleh petugas.

Pemantauan awal terhadap potensi kebakaran dilakukan melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) milik Kementerian Kehutanan. Sistem ini mengolah informasi titik panas atau hotspot yang diperoleh dari sejumlah satelit, salah satunya NASA-MODIS. Pada Selasa (4/8), sistem mendeteksi adanya hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang atau medium confidence. Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui ground check untuk memastikan kondisi di lapangan.

Penanganan kebakaran melibatkan BBTNBTS selaku pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan, bersama Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Operasi tersebut juga diperkuat oleh personel TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api, serta para relawan.

BBTNBTS bertugas memastikan keamanan kawasan, mengidentifikasi wilayah yang terdampak, mengendalikan akses menuju lokasi kebakaran, menjaga kawasan yang memiliki nilai keanekaragaman hayati, dan mengoordinasikan penanganan di dalam wilayah taman nasional. Sementara itu, Manggala Agni menangani aspek teknis pemadaman dengan memusatkan upaya pada titik-titik api yang masih menyala.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menyatakan bahwa dampak kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya mengancam tutupan hutan, tetapi juga berpengaruh terhadap masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada fungsi ekologis kawasan. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam pencegahan kebakaran.

Sejumlah jalur menuju kawasan TNBTS dibatasi demi keselamatan wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk menjalankan proses pemadaman. BBTNBTS menutup sementara jalur wisata dari Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Penutupan berlaku sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditetapkan.

Adapun akses dari Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan masih dapat digunakan secara terbatas, tetapi wisatawan hanya diperbolehkan mencapai kawasan Lautan Pasir. Area Savana ditutup sepenuhnya bagi pengunjung.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Rudijanta Tjahja Nugraha menjelaskan bahwa pengamanan kawasan berjalan bersamaan dengan operasi pemadaman. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah pengunjung berada di area berisiko sekaligus mempertahankan kawasan yang masih aman dari dampak kebakaran.

Tak hanya itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menyampaikan bahwa pola penanganan di lapangan terus diperbarui mengikuti perubahan situasi. Tim pemadam memprioritaskan area yang dinilai memiliki kemungkinan paling besar menjadi jalur penyebaran api.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version