Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Kukuhkan Dua Profesor Baru

Politeknik Pertanian Negeri Pangkep kembali memperkuat jajaran akademisi dengan pengukuhan dua profesor baru. Kedua tokoh ini memiliki keahlian di bidang yang berbeda, yaitu Ilmu Pengolahan Hasil Perikanan dan Ilmu Pengembangan serta Optimasi Produk Pangan Inovatif. Pengukuhan tersebut dilakukan dalam sebuah acara resmi yang berlangsung di Hotel Unhas, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, pada Sabtu (18/4/2026).

Prof Arham Rusli: Inovasi Berbasis Rumput Laut

Prof Arham Rusli menjadi profesor ke-7 di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Ia mengemukakan orasi ilmiah dengan judul Rumput Laut Sebagai Pelindung Pangan : Inovasi Kemasan Aktif Untuk Industri Perikanan Berkelanjutan. Dalam orasinya, ia menjelaskan bahwa inovasinya merupakan hasil dari penelitian mendalam yang dilakukan oleh timnya sejak tahun 2015.

Penelitian ini fokus pada pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku sekaligus agen antimikroba dalam pembuatan edible film. Menurut Prof Arham, tema orasi ini disampaikan sebagai bentuk pemikiran dalam bidang pengolahan hasil perikanan, khususnya pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku dan agen antimikroba pada pembuatan edible film untuk mendukung ketahanan dan keamanan pangan.

Ia menyatakan adanya keterkaitan kompleks antara tiga persoalan besar di sektor pangan saat ini, yaitu krisis keamanan pangan, krisis lingkungan akibat sampah plastik, dan menurunnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk pangan yang aman dan sehat. Krisis keamanan pangan muncul dari maraknya kontaminasi pada bahan pangan, terutama adanya kontaminasi dari plastik dan mikroplastik yang masuk ke rantai pangan melalui lingkungan dan kemasan.

Prof Arham memperingatkan bahwa krisis lingkungan yang dipicu oleh sampah plastik kini menjadi ancaman serius bagi sistem pangan global. Ia menegaskan bahwa sebagai seorang guru besar di bidang pangan, harus bertindak sebagai arsitek sistem pangan, inovator teknologi, dan penggerak kebijakan.

“Salah satu jawaban strategis saya terhadap tiga krisis yang saling berkelindan tersebut adalah inovasi edible film antimikroba berbasis rumput laut sebagai kemasan aktif untuk industri perikanan berkelanjutan,” tambahnya. Ia juga mengajak sivitas akademika, peneliti, pelaku industri pangan, hingga pemerintah untuk mendorong kolaborasi lintas sektor guna mempercepat adopsi penggunaan kemasan aktif edible film antimikroba yang menjamin aspek keamanan, kehalalan, serta ramah lingkungan.

Prof Sitti Nurmiah: Pangan Fungsional untuk Kesehatan dan Ketahanan Pangan

Sementara itu, Prof Sitti Nurmiah menjadi profesor ke-8 di institusi tersebut. Ia membawakan orasi ilmiah bertajuk Pengembangan Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kesehatan dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan.

Dalam orasinya, Prof Nurmiah menyoroti transformasi besar dalam paradigma pangan global. Ia menjelaskan bahwa fungsi pangan telah bergeser dari sekadar pemenuh kebutuhan dasar menjadi pilar utama kesehatan serta penentu kualitas hidup generasi masa depan. Di tengah meningkatnya ancaman penyakit tidak menular akibat pola konsumsi modern, lahir kesadaran baru bahwa pangan harus mampu melindungi, bukan sekadar mengenyangkan.

Indonesia, kata dia, memiliki kekayaan yang luar biasa sebagai potensi besar sumber pangan fungsional berbasis lokal. Namun, ia menyayangkan potensi tersebut hingga kini belum terolah secara maksimal menjadi kekuatan nyata bagi bangsa.

“Pengembangan pangan fungsional bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi tentang bagaimana kita membangun kemandirian, meningkatkan kesehatan, dan mengukuhkan kedaulatan bangsa di tengah dinamika global,” ujarnya.

Seiring dengan perkembangan ilmu pangan modern, muncul kesadaran baru bahwa peran pangan telah melampaui batas pemenuh rasa lapar. Pangan kini dipandang sebagai pilar utama yang menopang kualitas hidup manusia secara menyeluruh.

“Jika dahulu pangan dipahami sebatas sumber energi dan zat gizi, maka kini telah bertransformasi menjadi instrumen strategis dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan. Inilah yang kita kenal sebagai paradigma pangan fungsional,” jelasnya. Paradigma ini menegaskan bahwa pangan fungsional memiliki fungsi yang lebih luas, tidak hanya memenuhi kebutuhan fisiologis dasar, tetapi juga berperan dalam pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version