Infomalangraya.net.CO.ID, JAKARTA — Di kawasan Setu Babakan, terasa aroma yang berbeda pada hari Jumat siang. Bukan sekadar bau masakan biasa, melainkan wangi legit yang menyebar perlahan dari rumah-rumah warga, dicampuri kepulan asap kayu bakar yang keluar dari dapur-dapur tradisional.
Di salah satu rumah di Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, asap lebih tebal lagi. Di sana, Dodol Nyak Mai, salah satu warisan kuliner Betawi yang masih bertahan di tengah gempuran zaman, sedang menjalani ritual tahunannya: membuat dodol untuk menyambut Ramadhan dan Idulfitri.
Juani (65) berdiri di depan kuali besar, mengamati para pekerjanya yang sibuk mengaduk adonan berwarna cokelat pekat. “Saya penerus ibu saya, sudah generasi kedua,” katanya. Matanya menyipit, setengah tersenyum mengenang ibunya, Nyak Mai, yang merintis usaha ini pada awal 1990-an. Meski akar usaha ini jauh lebih dalam: sejak sekitar tahun 1950-an, saat ibunya masih muda dan dodol buatannya mulai dikenal tetangga.
Kini Juani, bersama generasi kedua lainnya seperti Mpok Djuanih dan Bang Udin, menjaga api tradisi itu tetap menyala. Sepuluh pekerja silih berganti mengaduk adonan di atas kuali-kuali besar yang dipanaskan dengan kayu bakar. Bahan-bahannya sederhana: gula merah, gula pasir, santan, dan tepung beras ketan. Tanpa pengawet, tanpa bahan kimia. Hanya kesabaran dan otot yang kuat, karena adonan ini harus diaduk tanpa henti selama delapan hingga sepuluh jam.
“Rupanya tidak ringan,” sebuah suara terdengar dari ambang pintu. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo baru saja tiba, dan langsung terkesima melihat proses pengadukan yang dilakukan para pekerja dengan keringat bercucuran. Ia mencoba sendiri mengaduk dodol di atas kuali. Beberapa menit kemudian, lengannya sudah terasa pegal. Ia tertawa kecil, membayangkan para pekerja yang melakukannya bergantian berjam-jam.
“Karenanya, perlu tiga sampai empat orang untuk melakukan pengadukan secara bergantian,” ujar Pramono, yang kemudian duduk berbincang dengan Juani dan para pekerja. Di balik proses melelahkan itu, sang Gubernur menangkap sebuah nilai luhur: gotong royong. “Inilah kekhasannya, keunggulannya, kelebihannya dodol. Yang kita sebut dengan gotong royong ini,” katanya.
Pramono punya rencana. Ia ingin dodol khas Betawi ini hadir di setiap acara di Balai Kota. Bukan sekadar camilan, melainkan simbol bahwa Jakarta masih peduli pada warisan budayanya. “Saya minta untuk acara-acara di Balai Kota, kita pesan di tempat ini,” katanya tegas.
Ia bahkan mengaku kerap membawa dodol Nyak Mai untuk keluarganya. Cita rasanya khas, tak tergantikan. Dan ia ingin lebih banyak orang merasakannya. Karena itu, Pramono mendorong agar para pelaku usaha dodol mendapatkan dukungan dari Pemprov DKI, termasuk modernisasi peralatan produksi, tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi ciri khas. “Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi jangan sampai yang tradisionalnya hilang. Justru di situlah kekhasan dan keunggulannya,” pesannya.
Keberkahan Ramadhan di Dapur-Dapur Bekasi
Aroma yang sama, namun di tempat berbeda, juga tercium di Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Di sini, Wulan (39) tengah kalang-kabut menghadapi banjir pesanan. Dapur produksinya nyaris tak pernah sepi sejak awal Ramadhan.
“Pesanan dodol Betawi untuk Ramadhan melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan hari biasa. Produksi meningkat 100 persen,” katanya di tengah kesibukan.
Lima kuali besar berjejer di dapur rumahnya. Masing-masing berkapasitas 90 kilogram adonan. Setiap hari, selama Ramadhan, ia menghasilkan 450 kilogram dodol. Jika ditotal hingga menjelang Idulfitri, bisa mencapai 12 ton. “Puncak penjualan biasanya terjadi pada 10 hari terakhir menjelang Lebaran,” tambahnya.
Wulan tak hanya memproduksi dodol original. Ia juga membuat varian rasa cokelat dan ketan hitam. Harganya bervariasi, dari Rp40 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Omzet? Wulan tersenyum. “Ya pasti mengikuti. Semakin tinggi produksi, semakin banyak uang yang masuk.”
Tak jauh dari sana, Dobleh (62) juga merasakan keberkahan yang sama. Ia bahkan harus menambah jumlah pekerja dari empat orang menjadi 10 hingga 20 orang selama Ramadhan. Mereka bekerja bergantian mengaduk adonan di lima kuali besar berkapasitas 80 kilogram masing-masing. Delapan jam penuh, tanpa henti, hingga adonan matang sempurna.
“Alhamdulillah, ada peningkatan sedikit demi sedikit. Yang jelas momentum Ramadhan setiap tahunnya itu selalu mendatangkan keberkahan bagi kami,” kata Dobleh.
Dodol buatannya bervariasi: dodol merah, dodol hitam, wijen, dodol wajik, dan satu primadona yang tak pernah gagal memikat pembeli, dodol rasa durian. Harganya stabil, Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram untuk kualitas super.
Rasa yang Tak Pernah Tidur
Kembali ke Setu Babakan. Juani bercerita tentang pelanggan setianya. Dari warga biasa hingga artis ibu kota. “Raffi Ahmad, pesannya di sini,” katanya bangga. Ia juga bercerita tentang bagaimana dulu, saat ibunya masih hidup, usaha ini berjalan sederhana. “Dulu itu masih sepi, tapi ya jual terus. Kan kalau di Betawi mah orang kalau Lebaran harus ada dodol.”
Kini, di era digital, Juani tetap mempertahankan resep warisan ibunya. Tak ada yang berubah. Gula merah, gula pasir, santan, tepung beras ketan, dan kayu bakar. Tak ada jalan pintas. Ia menolak menggunakan pengawet meski godaan modernisasi begitu kuat. Harga jualnya Rp115 ribu per kilogram, naik sedikit menjadi Rp120 ribu saat Ramadhan dan Lebaran.
Ia berharap usaha ini kelak dilanjutkan oleh generasi berikutnya. “Saya penginnya turun-temurun. Jangan sampai hilang,” katanya lirih.
Pramono mengamini harapan itu. Menurutnya, kuliner Betawi sebenarnya banyak yang enak, tetapi belum dipasarkan dengan baik. “Kita perlu membuat kemasan yang lebih menarik agar siapa pun yang datang ke Jakarta bisa mencoba dodol ini,” ujarnya.
Ia juga meminta Kepala Dinas UMKM untuk turun tangan, mempelajari kebutuhan para perajin dodol, dan menyiapkan dukungan yang diperlukan. “Hal seperti ini memang perlu pemerintah daerah turun tangan agar para pelaku usaha menjadi lebih berdaya.”
Di Ujung Sendok, Ada Jakarta
Malam semakin larut di Setu Babakan. Kuali-kuali masih terus diaduk. Api kayu bakar masih menyala. Para pekerja bergantian mengistirahatkan lengan mereka. Di luar, aroma legit masih beterbangan, dibawa angin malam yang sejuk.
Di balik setiap potongan dodol yang kenyal dan manis, tersimpan cerita tentang ketekunan, tentang gotong royong, tentang warisan yang tak pernah padam. Dan di ujung sendok, saat lidah menikmati legitnya dodol, kita sebenarnya sedang merasakan Jakarta yang dulu, yang kini, dan yang akan terus dijaga.
Karena dodol bukan sekadar makanan. Ia adalah memori yang mengalir dari generasi ke generasi. Ia adalah Jakarta yang tak pernah tidur, yang terus diaduk perlahan, agar tetap manis dan tak pernah kehilangan rasa.




