Indonesia Dijuluki “Ikan Besar yang Bersahabat” oleh Swiss
Di tengah persaingan industri global yang semakin ketat, Indonesia mendapat pengakuan istimewa dari Swiss sebagai “ikan besar yang bersahabat”. Pengakuan ini muncul setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Swiss dalam pemrosesan logam dan mineral pada akhir Juni 2026 di Kota Basel, Swiss. MoU ini digelar dalam rangka perhelatan Swissmem Industrietag 2026, sebuah acara besar yang dihadiri oleh sejumlah perusahaan terkemuka.
Swissmem adalah asosiasi industri terkemuka di Swiss yang beranggotakan sekitar 1.400 perusahaan. Perusahaan-perusahaan anggota Swissmem bergerak di sektor-sektor industri berteknologi tinggi, seperti teknik mesin, teknik listrik, logam (industri MEM), serta sektor teknologi terkait. Acara ini menjadi momen penting bagi kedua negara untuk memperkuat kerja sama di bidang hilirisasi mineral, transfer teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi serta pertukaran profesional muda.
Metafora Kuda Troya dan Ikan Besar yang Bersahabat
Dalam pidato sambutan, Presiden Swissmem Martin Hirzel menggunakan metafora strategi Kuda Troya dan ikan-ikan kecil yang harus bertahan hidup di samudera lepas dari ancaman ikan-ikan predator. Di tengah narasi tersebut, ia memberikan label khusus bagi Indonesia yang hadir sebagai tamu kehormatan. Indonesia disebutnya sebagai “ikan besar yang bersahabat”.
“Swiss selalu menjadi ikan kecil yang mencari celah pasar begitu cara Swiss bertahan. Ikan besar seperti Indonesia dipandang sebagai ikan yang bersahabat karena kita memiliki perjanjian kemitraan,” ujar Hirzel menjawab pertanyaan Infomalangraya.net dalam sesi wawancara bersama jurnalis KG Media seusai MoU.
Di sisi kiri Hirzel, tampak Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Ngurah Swajaya, serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Swiss Chamber, Francis Wanandi, tersenyum mendengar pengakuan tersebut. Menurut Hirzel, Indonesia memiliki populasi yang muda dan pasar yang terus bertumbuh. Ia berharap iklim investasi yang menarik semakin terwujud bagi perusahaan-perusahaan Swiss.
Kemitraan yang Saling Melengkapi
Hirzel menekankan bahwa Swiss dan Indonesia memiliki hubungan yang saling melengkapi. “Apa yang Anda miliki adalah persis seperti apa yang kami cari. Kami mencari diversifikasi,” tambahnya. Tim jurnalis KG Media termasuk Infomalangraya.net hadir di Swiss dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan bilateral Republik Indonesia-Konfederasi Swiss yang digelar KBRI Swiss dan Kadin Indonesia Swiss Chamber.
Dalam wawancara bersama KG Media, Martin Hirzel menambahkan bahwa Indonesia dan Swiss bukanlah kompetitor, melainkan mitra yang saling melengkapi secara sempurna. “Swiss dengan presisi teknologinya, dan Indonesia dengan kekayaan sumber daya serta pasar yang dinamis,” ujarnya.
Strategi Kuda Troya untuk Menghadapi Raksasa Predator
Saat Martin Hirzel berdiri memberikan pidato di belakangnya, sebuah layar raksasa memutar ilustrasi dramatis, kawanan ikan predator besar berbendera Amerika Serikat (AS), China, dan Uni Eropa tampak mengepung seekor ikan kecil bersimbol bendera Swiss. Visual ini menggambarkan realitas geopolitik dunia yang semakin keras dan proteksionis.
Untuk menghadapi para “raksasa predator” ini, Hirzel menegaskan bahwa Swiss tidak boleh sekadar berenang mengikuti kawanan ikan besar karena berisiko tersingkir atau ditelan. Ia menggaungkan strategi “Kuda Troya”, sebuah taktik yang mengandalkan kecerdikan dan inovasi daripada ukuran semata.
“Kuda (Troya) itu menang bukan karena ukurannya yang besar, ia menang karena berhasil menembus tempat yang tidak bisa dicapai oleh kepungan militer selama sepuluh tahun,” ujar Martin Hirzel merujuk pada kisah legendaris Yunani.
Kemitraan Mineral Kritis dan Pengembangan SDM
Duta Besar Ngurah Swajaya menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan langkah nyata yang saling menguntungkan (win-win). Ia menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas sumber daya manusia sebagai tulang punggung kerja sama ini melalui program pertukaran profesional muda (Young Professional Exchange Program).
“Kami berharap akan ada banyak pemuda Indonesia yang belajar sambil bekerja (learning by doing) di sini,” ujar Dubes Ngurah Swajaya. Ia menambahkan bahwa hal ini akan mempermudah perusahaan Swiss berinvestasi di Indonesia karena akan tersedia tenaga kerja yang sudah familiar dengan efisiensi dan inovasi khas Swiss.
Terobosan Hilirisasi dan Pendidikan Vokasi
Ketua Kadin Indonesia Swiss Chamber, Francis Wanandi, menyambut positif kerja sama ini sebagai terobosan baru bagi program hilirisasi nasional. Ia menekankan bahwa Indonesia harus mendapatkan nilai tambah dari kekayaan mineralnya dan tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah.
“Pemerintah kita sudah mulai sadar bahwa hilirisasi itu penting, nilai tambah (added value) dari mineral dan logam yang dimiliki Indonesia harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa melalui kemitraan dengan Swiss, Indonesia akan memperoleh akses ke teknologi canggih, pembiayaan, hingga pendidikan industri.
Salah satu bukti nyata keberhasilan kolaborasi ini adalah di sektor pendidikan. “Sampai sekarang ini sudah ada kira-kira 5 politeknik di Indonesia yang menerapkan sistem Swiss dan selalu lulusannya ini sudah dipesan sebelumnya,” ungkap Francis. Kadin berharap kerja sama ini dapat direplikasi di luar pulau Jawa guna menciptakan ekosistem industri yang kokoh dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.





