Kediri Menarik Perhatian Mahasiswi Amerika Serikat
Kota Kediri, yang dikenal dengan kekayaan budayanya, berhasil menarik perhatian seorang mahasiswi asal Amerika Serikat. Ava Atkinson, peserta dari program intercultural, menghabiskan waktu beberapa hari di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ia terlibat langsung dalam berbagai kegiatan budaya bersama anak-anak setempat.
Ava mengikuti agenda Cultural Visit yang diselenggarakan di area Sanggar Budaya eks Gedung Kawedanan Pare, Jumat (30/1/2026) sore. Dalam acara tersebut, ia antusias mengikuti berbagai aktivitas pengenalan budaya, khususnya seni tari tradisional Jawa yang dibawakan oleh Sanggar Tari Flying Star Dance.
Ava mengaku kagum melihat kemampuan anak-anak sanggar yang mampu menampilkan tarian dengan gerakan dinamis dan penuh makna. Ia bahkan mencoba menari beberapa gerakan bersama para penari cilik. “Sangat menakjubkan. Saya tidak percaya anak-anak kecil itu tahu semua gerakannya. Saya mencoba melakukannya dan jatuh ke sana ke mari. Itu sangat mengagumkan,” ungkap Ava usai ditemui di lokasi.
Menurut Ava, kegiatan tersebut terasa menyenangkan karena budaya disampaikan dengan cara yang tidak kaku. Anak-anak terlihat menikmati proses belajar tanpa tekanan. “Mereka terlihat bersenang-senang. Saya pikir ini luar biasa, melakukan sesuatu yang kultural tapi tetap menyenangkan,” imbuh Ava.
Program Cultural Visit ini digagas oleh BEC Pare sebagai bagian dari program pertukaran budaya internasional. Guru BEC Pare sekaligus Global Intercultural program tersebut, Sri Indayatun, menjelaskan bahwa kolaborasi intercultural ini telah berjalan sejak 2022 dan kini memasuki tahun keempat.
“Intinya intercultural. Kita saling memberi dan saling belajar. Kami ingin menunjukkan Indonesia apa adanya, budayanya, tradisinya dan keramahan masyarakatnya,” ujar Indayatun.
Lebih jauh, Indayatun menyebutkan peserta program berasal dari berbagai latar belakang akademik, termasuk arkeologi dan budaya, sehingga sangat relevan dengan agenda pengenalan tradisi lokal. “Jadi selama program ini juga kita juga belajar wayang, gamelan, makanan dan budaya lokal di sini,” tuturnya.
Sementara itu, Pemilik Sanggar Tari Flying Star Dance, Gelar Gian Crismeril, menjelaskan bahwa sanggar menjadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan seni tradisional tari karena anak-anak terlibat langsung sebagai pelaku budaya, bukan sekadar penonton. Dalam agenda tersebut, anak-anak sanggar menampilkan empat tarian, yakni Tari Payung, Tari Merak Sutra, Tari Balayuda dan Tari Satriopiningit. Setiap tarian memiliki filosofi dan karakter yang berbeda.
“Tadi yang paling menarik perhatian Miss Ava adalah Tari Balayuda. Tarian ini menggambarkan kesatria perempuan dengan tekad kuat, gerakannya cukup atraktif,” kata Meril.
Selain pertunjukan, Ava juga diajak menari bersama dalam tarian kolaborasi modern dan tradisional dengan iringan lagu Kediri Berbudaya yakni sebuah karya yang memadukan unsur tradisi dan sentuhan modern. “Lagu ini menunjukkan bahwa Kediri itu berbudaya, tradisinya tetap ada tapi bisa dikemas secara kekinian,” tambahnya.
Meril berharap kegiatan intercultural semacam ini dapat menumbuhkan rasa bangga anak-anak terhadap budaya daerahnya sendiri. “Kalau orang dari jauh saja tertarik datang ke sini untuk belajar budaya kita, anak-anak seharusnya lebih bangga dan tidak bosan mempelajarinya,” tuturnya.
Sementara itu, Ava mengaku selama berada di Indonesia, ia juga menikmati wisata dan kuliner lokal, khususnya di Kediri. Ia menyebut makanan Indonesia, terutama nasi, sangat berbeda dengan kebiasaan makannya di Amerika. “Saya sangat menikmati nasi di sini. Saya merasa lebih sehat,” ucapnya.





