Mohtar Efendi, seorang pria berusia 42 tahun, telah mengabdikan setengah dekade untuk mendampingi para penyandang tuli di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, dalam belajar membaca Al-Qur’an. Ia menjalani peran ini secara sukarela tanpa menerima upah.
Tangan Mohtar terlihat lincah bergerak di udara, menerjemahkan setiap kata yang ditulis di papan tulis melalui gerakan tangan. Sesekali, ia mengangkat alis dan menggerakkan bibirnya untuk memberikan penekanan pada makna yang ingin disampaikannya. Di depannya, belasan pasang mata menatap setiap gerakan yang diperagakannya. Terkadang mereka merespons dengan anggukan atau gerakan tangan.
Pemandangan ini terjadi di Masjid Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Kantor Kementerian Agama, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, pada hari Minggu (19/04) pagi. Di tengah suasana yang tenang, Mohtar memandu belasan penyandang tuli dalam proses belajar mengaji.
Aktivitas ini sudah dilakukan Mohtar sejak tahun 2021. Meski tidak digaji, ia sering berpindah dari masjid ke masjid di Kota Pamekasan untuk mengajar penyandang tuli setiap akhir pekan. Ia juga siap datang ke rumah anak didiknya jika dibutuhkan.
Di Masjid Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Mohtar biasanya memulai kegiatan sekitar pukul 09.30 WIB. Selama dua jam, ia mengajarkan ilmu agama dan membaca Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat Bisindo, yang lebih mudah dipahami oleh peserta didiknya. Setelah itu, ia mengajak mereka untuk salat zuhur berjamaah. Makan bersama di beranda masjid menjadi penutup pertemuan mereka setiap akhir pekan.
“Senyum mereka adalah kebahagiaan saya. Ketika saya bisa memahami bahasa mereka, saya bisa menyampaikan ilmu agama, saya bisa mendampingi mereka mengaji, belajar Al-Qur’an bahasa isyarat, ada kebahagiaan tersendiri dalam hati saya, yang tak ternilai harganya. Makanya saya semangat, tidak saya tukar dengan rupiah,” ujar Mohtar.
Belajar Bahasa Isyarat di Pesantren
Mohtar Efendi adalah seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Pamekasan. Ia mengajar bahasa Inggris setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Madura pada 2004.
Ketertarikannya untuk mendampingi penyandang tuli bermula dari sebuah momen saat ia bertemu dengan tiga santri penyandang tuli yang sedang berdakwah di masjid dekat rumahnya di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan Pamekasan pada 2021. Mereka didampingi oleh penerjemah bahasa isyarat.
Sejak saat itu, Mohtar memiliki rasa kagum dan tekad untuk menguasai bahasa isyarat. Ia kemudian memutuskan untuk belajar di salah satu pondok pesantren di Magetan, Jawa Timur. Di sana, ia belajar dasar-dasar bahasa isyarat selama tiga hari, lalu mengembangkannya secara mandiri.
Bekal tersebut menjadi pintu masuk bagi Mohtar untuk lebih dekat dengan penyandang tuli di Pamekasan. Ia ikut membantu membentuk komunitas hingga mendampingi mereka dalam berbagai kegiatan sosial.
Perjalanan Awal Mengajar
Mohtar pertama kali mengajar penyandang tuli di Monumen Arek Lancor Pamekasan dengan jumlah peserta empat sampai lima orang. Setelah lima tahun berlalu, jumlah peserta meningkat menjadi sekitar 45 orang.
Namun, awalnya, banyak dari mereka kesulitan membaca Al-Qur’an. Bahkan, sebagian belum bisa mengaji meskipun pernah belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). “Jadi sebelumnya mereka tidak bisa mengaji sama sekali. Artinya yang mereka pahami hanya huruf abjad saja,” kata Mohtar.
Kesulitan Mendapatkan Tempat
Perjalanan Mohtar Efendi dalam mendampingi penyandang tuli tidak selalu mulus. Ia sempat kesulitan mencari tempat. Pada awalnya, rumah salah satu anak didiknya disulap menjadi lokasi kegiatan belajar mengajar sementara.
Ia kemudian mengajukan tempat ke Dinas Sosial Kabupaten Pamekasan dan disediakan musala. Namun, lokasinya kurang memadai dan setiap hari minggu, kantornya tutup karena libur.
Hingga akhirnya, setahun lalu, Mohtar bersama penyandang tuli datang ke Kemenag Pamekasan. Mereka difasilitasi untuk menempati Masjid Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari hingga sekarang.
Keinginan Menyusun Buku Panduan
Setelah lima tahun berlalu, jerih payah Mohtar mulai membuahkan hasil. Beberapa peserta didiknya secara perlahan mampu membaca Al-Qur’an dengan fasih.
Salah satu yang lancar membaca Al-Qur’an bahasa isyarat adalah Izas. Setelah belajar kepada Mohtar sejak 2022, perempuan 21 tahun tersebut juga semakin paham ilmu agama.
Kini, setelah mendampingi penyandang tuli selama lima tahun, Mohtar berkeinginan menyusun buku pembelajaran khusus bagi mereka. Harapannya, buku yang disusunnya bisa dijadikan panduan bagi sekolah atau madrasah, khususnya SLB dalam mengajarkan ilmu agama bagi penyandang tuli.
