Proses Produksi Gelang Haji yang Menjadi Identitas Jemaah
Di sebuah rumah sederhana di Desa Bakalan RT 08 RW 01, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, beberapa pekerja sibuk memproduksi gelang monel khusus sebagai identitas haji. Tahapan demi tahapan dalam pembuatan gelang dilakukan dengan menggunakan alat manual. Mulai dari pemotongan bahan baku, penyablonan, pengeringan, hingga pembentukan pengait agar gelang siap dipakai.
Rumah produksi gelang haji itu milik Subandi (53). Tercatat 17 tahun ini dia dipercaya panitia haji Indonesia untuk membuat gelang identitas haji bagi jemaah asal Indonesia. Tahun ini (2026), Subandi kembali menerima orderan dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) sebanyak 225.462 gelang haji. Terdiri dari 203.320 gelang haji reguler, 17.680 gelang haji khusus (Haji Plus), 2.112 gelang petugas PPIH kloter, dan 2.350 gelang petugas haji PPIH di Arab Saudi.
Pembuatan gelang haji tahun ini dimulai sepekan sebelum Ramadan. Bahan yang digunakan terbuat dari stainless steel 304 yang diimpor dari Jepang. Jenis bahan monel tersebut dipercaya tahan terhadap api sebagai salah satu identitas jemaah haji dan petugas haji asal Indonesia. Saat ini progres pembuatan gelang haji sudah mencapai 90 persen. Melibatkan sekira 300 pekerja dari semua proses pekerjaan, ditarget pesanan selesai sebelum pertengahan April 2026.
Rencananya, gelang-gelang haji tersebut dikirim ke 22 embarkasi di Indonesia pada 15 April 2026. “Saat ini proses pekerjaan terus kami kebut. Secara keseluruhan sudah 90 persen, namun masih ada beberapa barang di tempat pemotongan.” Kendala yang dihadapi adalah hujan, yang seharusnya proses pengeringan sablon dengan panas matahari dilanjutkan mesin oven, kalau hujan hanya mengandalkan oven dan lebih lama.
Di rumah produksi gelang haji Subandi, para pekerja merampungkan pekerjaan masing-masing secara shifting. Setiap produk gelang yang sudah jadi berukuran panjang 21,5 sentimeter dan ketebalan 1,2 milimeter. Setiap gelang sudah mencantumkan identitas tulisan Indonesia dalam bahasa Arab, kode embarkasi, bendera Merah Putih, kloter pemberangkatan, nomor paspor, maktab, nama, dan nomor urut jemaah, juga tahun pemberangkatan. Tercantum pula identitas Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia pada sisi yang lain.
Konsep Tahan Api
Proses pembuatan gelang haji ini dimulai dengan pemilihan bahan baku berkualitas jenis stainless steel 304 yang diimpor dari Jepang. Pada mulanya, bahan baku dipesan sekira tiga pekan dalam bentuk lembaran besar. Kemudian dilakukan pemotongan sesuai kebutuhan dalam bentuk plat-plat kecil ukuran 20,5 x 22,5 sentimeter. Lembaran monel yang sudah disesuaikan selanjutnya diamplas dan pembersihan barang dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembersihan permukaan monel.
Setelah dipastikan benar-benar halus dan kering, plat-plat lembaran tersebut masuk pada tahap penyablonan dengan menggunakan cat khusus. Proses pengecetan ini berfungsi untuk menyiapkan desain pada proses etching. Setelah disablon, semua lembaran kecil monel dikeringkan dengan memanfaatkan panas matahari selama sekira setengah hari. Panas matahari dinilai paling optimal dalam rangka membuat cat sablon benar-benar kuat menempel pada monel.
Ditambah proses pengovenan produk sekira lima menit untuk semakin memperkuat cat sablon dengan kondisi suhu 200 derajat Celcius. “Kalau kondisi hujan, proses penjemuran dengan panas matahari ini tidak bisa dilakukan. Risikonya pengeringan harus menggunakan mesin oven, tentunya prosesnya lebih lama dan biaya produksi jadi lebih mahal.”
Setelah tahap pengeringan selesai, masuk pada tahap quality control. Berfungsi mengecek kondisi cat sablon, tulisan apakah buram, dan kondisi sablonan secara over all. Produk yang lolos pada tahap ini masuk ke proses etsa atau etching, yaitu proses pengikisan produk logam dengan menggunakan cairan kimia. Pada proses ini menggunakan cairan jenis air keras dicampur dengan beberapa jenis campuran lainnya. Berfungsi membuat pola desain detail dan permanen agar karya yang dihasilkan optimal.
“Setelah itu baru masuk tahap pembersihan cat sablon dengan menggunakan soda api. Baru dilakukan pengecetan sesuai warna embarkasi,” jelasnya. Tahap pembuatan gelang haji tidak hanya itu. Setelah lembaran monel dilakukan pengecetan sesuai warna embarkasi, kemudian dikirim ke tempat pemotongan gelang di Kabupaten Kudus. Proses pemotongan disesuaikan bentuk standar ukuran yang telah ditentukan.
Pada proses ini juga sekaligus dilakukan pembentukan lubang kancing gelang. Setelah itu baru masuk pada tahap pengamplasan atau finishing untuk menghilangkan sisa-sisa potongan agar tidak tajam dan berpotensi melukai tangan. Setelahnya dilakukan pencucian dengan menggunakan citrun yang dicampur menggunakan sabun. Tahap terakhir yang dikerjakan di Jepara adalah penekukan kancing gelang dan pengepakan produk berisi 100 pcs tiap bandel. Selanjutnya dilakukan packaging dan siap dikirim ke embarkasi.
Berdayakan Warga Sekitar
Subandi menyebut, musim haji tidak hanya menjadi berkah bagi dia. Dengan adanya orderan gelang haji, dia bisa memberdayakan sekira 300 warga sekitar untuk membantu proses pekerjaan. Di antaranya dari Kecamatan Kalinyamatan, Welahan, Mayong, Nalumsari, dan sebagian Pecangaan. Pekerja yang digandeng terdiri dari usia pelajar, remaja, dan dewasa sesuai keahlian di bidangnya masing-masing.
Mulai dari tahap persiapan bahan baku, hingga proses di embarkasi. Setiap harinya produksi gelang haji ditarget mencapai 7.000 keping. Namun cuaca musim hujan menjadi kendala tersendiri dalam proses pengeringan, sehingga capaian dari target fluktuatif. Meski demikian, Subandi memastikan bahwa pembuatan gelang haji selesai sebelum batas waktu yang telah ditentukan.
Di sisi lain, selama 17 tahun dipercaya sebagai produsen gelang haji, perjalanan Subandi dalam menyiapkan pesanan tidak sepenuhnya mulus. Satu pengalaman yang saat ini masih tersimpan di kepalanya terjadi pada 2012. Atau tahun keempat dia dipercaya Pemerintah Pusat menyiapkan gelang khusus haji. Kala itu, sejumlah pekerjanya membawa 5.000 gelang untuk dibawa ke Embarkasi Banjarmasin.
Ketika berlayar menggunakan kapal menuju embarkasi, kapal yang mengangkut gelang haji itu bertabrakan dengan kapal tongkang. Kapal pun oleng, semua penumpang dan barang bawaan tercebur ke laut. Termasuk 5.000 gelang haji yang dibawa ke embarkasi. Kata Subandi, beruntung semua pekerjanya saat itu bisa selamat. Sementara gelang haji produksinya terpaksa harus diikhlaskan setelah tercebur ke laut.
“Akhirnya terpaksa bikin baru, untung masih punya waktu lima hari.” 5.000 keping gelang haji dikebut, jadi dalam lima hari. Waktu itu gelang jadi sehari sebelum kloter pertama terbang,” kata dia. Subandi berharap, proses rangkain haji ini diberikan keselamatan dan kesehatan semua orang yang terlibat. Tidak hanya jemaah dan petugas kloter haji, juga petugas di embarkasi hingga petugas-petugas lain yang telah beperan dalam menyukseskan ibadah haji.
“Untuk jemaah dan pendamping haji, doa kami semua selamat berangkat dari rumah sampai rumah kembali,” harap dia.





