Infomalangraya.net Kolese Kanisius kembali menghadirkan Canisius Expo (CaniExpo) 2026, sebuah rangkaian kegiatan yang menjadi ruang bagi kaum muda untuk belajar, bereksplorasi, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.
Mengusung tema “Innovating for Human Dignity”, CaniExpo 2026 hadir melalui dua kegiatan utama, yaitu The 26th Canisius Education Fair (Edufair) dan Canisius Talent Spotting (CTS) XVIII.
Melalui Edufair, peserta didik dan orang tua diajak memperluas wawasan mengenai berbagai pilihan pendidikan sekaligus memperoleh bekal untuk menentukan langkah studi lanjut secara lebih matang. Sementara itu, CTS menjadi wadah bagi peserta didik sekolah dasar untuk menemukan, mengeksplorasi, serta mengembangkan minat dan bakat mereka melalui berbagai cabang perlombaan yang diselenggarakan.
Tema “Innovating for Human Dignity” merespons perkembangan teknologi digital dan AI yang membawa peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan dan pendidikan. Melalui tema ini, Kolese Kanisius mengajak generasi muda untuk memanfaatkan inovasi secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab, dengan tetap menempatkan manusia dan martabatnya sebagai pusat.
Semangat ini sejalan dengan pendidikan Jesuit yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang dipanggil untuk berkembang secara utuh dan memberikan kontribusi bagi sesama. Para Kanisian diharapkan mampu membaca perkembangan zaman dengan wawasan yang terbuka dan nilai yang kuat, sehingga pengetahuan dan teknologi dapat diarahkan untuk kebaikan bersama.
CaniExpo 2026 hadir dengan nuansa kebudayaan Kalimantan yang mewarnai berbagai elemen acara, mulai dari dekorasi hingga atmosfer keseluruhan kegiatan. Kekayaan budaya dan alam Kalimantan juga dihadirkan melalui teatrikal kolosal “Penjaga Rimba Borneo” yang melibatkan sekitar 500 penari, terdiri atas siswa kelas 7, kelas 10, serta guru-guru Kolese Kanisius. Pertunjukan tersebut menjadi bagian utama dalam pembukaan (opening) dan penutupan (closing) CaniExpo 2026 sekaligus menjadi ruang bagi para Kanisian untuk mengekspresikan kreativitas dan mengapresiasi kekayaan budaya Indonesia melalui pengalaman langsung.
CaniExpo 2026 secara resmi dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M. melalui simbolisasi pemotongan pantan, sebuah tradisi Dayak dalam menyambut tamu kehormatan. Dalam tradisi tersebut, bambu yang dipotong melambangkan berbagai bahaya dan hambatan yang perlu dihadapi dan dilewati. Prosesi pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung sebagai simbol kebebasan serta komitmen untuk menjaga kehidupan dan kelestarian alam.
Dalam sambutannya, Pramono Anung mengungkapkan kekagumannya terhadap para siswa Kolese Kanisius yang membawakan teatrikal kolosal “Penjaga Rimba Borneo” di tengah teriknya matahari.
“Saya kagum melihat anak-anak Kanisius yang rela berjemur di bawah matahari untuk membawakan teatrikal kolosal ‘Penjaga Rimba Borneo’. Ini menunjukkan semangat dan kesungguhan anak-anak Kanisius dalam berkarya.”
Pramono juga menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas pendidikan dan para lulusan Kolese Kanisius yang menurutnya memiliki kiprah kuat di berbagai bidang. Ia menyinggung pengalamannya melihat banyak lulusan Kanisius di Institut Teknologi Bandung (ITB), termasuk dalam bidang olahraga.
“Saya kagum dengan Kanisius. Di ITB, anak-anak lulusan Kanisius banyak yang menonjol. Dan kalau bicara basket, anak-anak Kanisius juga jago bermain basket.”
Lebih jauh, Pramono menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun Jakarta sebagai kota yang terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat, tanpa membedakan agama, etnis, maupun ras. Ia melihat semangat tersebut memiliki kesamaan dengan karakter Kolese Kanisius yang selama ini menjaga keberagaman.
“Jakarta harus menjadi kota untuk semua kelompok, semua agama, semua etnis, dan semua ras. Kanisius, seperti halnya Jakarta, harus terus menjaga semangat multikulturalisme.”
Pramono juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kolese Kanisius. Ia mengajak Kolese Kanisius untuk bersama-sama membangun kolaborasi dalam menyambut dua momentum penting, yakni 100 tahun Kolese Kanisius pada 2027 dan 500 tahun Jakarta pada 2027.
Menurutnya, kedua perayaan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk menghadirkan kegiatan yang mempertemukan generasi muda, keberagaman, dan semangat kebersamaan sebagai bagian dari wajah Jakarta.
Ia juga menegaskan bahwa ruang-ruang publik Jakarta terbuka untuk dimanfaatkan oleh berbagai kelompok dan golongan sebagai ruang ekspresi, termasuk oleh komunitas pendidikan dan generasi muda.
“Silakan gunakan ruang-ruang yang ada di Jakarta, termasuk Bundaran HI. Bundaran HI terbuka untuk semua kelompok dan golongan. Pemerintah DKI siap mendukung dan hadir dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak muda.”
Ajakan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap semangat Kolese Kanisius yang selama ini turut merawat keberagaman dan kehidupan multikultural. Menurut Pramono, semangat tersebut sejalan dengan karakter Jakarta sebagai kota yang menjadi ruang bersama bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dukungan tersebut juga diwujudkan melalui rencana penataan fasilitas publik di sekitar Kolese Kanisius. Mulai September, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan penataan halte di depan Kolese Kanisius agar tampil lebih baik dan representatif, serta menghadirkan pelican crossing di depan sekolah untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan para siswa maupun warga yang melintas.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan kesiapan untuk mendukung program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), termasuk bagi anak-anak Kanisius yang membutuhkan dukungan pendidikan.
Sementara itu, Direktur Kolese Kanisius, Thomas Gunawan Wibowo M.Ed., menegaskan bahwa CaniExpo 2026 tidak hanya menjadi perayaan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk merefleksikan posisi manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Inti dari CaniExpo tahun ini adalah martabat kemanusiaan yang tertinggi di tengah disrupsi AI. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, kita ingin tetap menempatkan manusia dan martabatnya sebagai yang utama.”
Menurut Bapak Thomas Gunawan, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Karena itu, pendidikan perlu memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berjalan bersama dengan pembentukan manusia yang memiliki kepekaan, kepedulian, kreativitas, dan kemampuan untuk hidup bersama dalam keberagaman.
Pesan tersebut mendapat resonansi kuat dari Uskup Keuskupan Palangka Raya, Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, M.S.F., yang turut hadir dalam pembukaan CaniExpo 2026. Dalam sambutannya, ia menyampaikan kebanggaannya terhadap para siswa Kolese Kanisius yang menunjukkan kepekaan terhadap kelestarian alam dan hutan di Kalimantan. Kepedulian tersebut dinilainya sejalan dengan semangat pendidikan Jesuit yang menempatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sebagai bagian penting dari pembentukan manusia.
Nuansa Kalimantan dalam CaniExpo 2026 bukan sekadar elemen estetis, tetapi menjadi bagian dari upaya mengajak para Kanisian untuk mengenal akar budaya, menghargai keberagaman, dan tetap berakar pada identitasnya di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan sebagai bagian dari masyarakat global.
Semangat ini sejalan dengan tema “Innovating for Human Dignity”, yang menempatkan inovasi dan kemajuan sebagai sarana untuk mendukung kehidupan manusia tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan budaya. Hal tersebut selaras dengan pendidikan Jesuit yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang dipanggil untuk berkembang secara utuh dan memberikan kontribusi bagi sesama.
Dengan demikian, para Kanisian diharapkan mampu membaca perubahan zaman dengan wawasan yang terbuka, sekaligus memiliki dasar nilai yang kuat untuk menggunakan pengetahuan, kreativitas, dan teknologi demi kebaikan bersama.
Canisius Expo (CaniExpo) 2026 akan diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu, 29–30 Agustus 2026 di Kolese Kanisius, Jl. Menteng Raya 64, Jakarta, dan terbuka untuk umum, termasuk siswa dari luar Kanisius, orang tua, alumni, serta masyarakat umum.
Rangkaian kegiatan ini menghadirkan Canisius Education Fair (Edufair) yang menyajikan pameran pendidikan dari berbagai universitas ternama dalam dan luar negeri serta perwakilan kedutaan, antara lain UGM, Universitas Airlangga, IPB University, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Tokyo International University, NTU, HKU, Poly U, Kyoto University, dan University of Toronto, bersama perwakilan British Council, Kanada, Amerika Serikat, Taiwan, Belanda, Irlandia, Jepang, Italia, dan Perancis.
Melalui Edufair, pengunjung dapat memperoleh informasi mengenai perguruan tinggi dan berbagai program studi atau jurusan sebagai referensi untuk studi lanjut. Selain itu, Canisius Talent Spotting (CTS) XVIII menjadi wadah kompetisi bagi siswa kelas 4, 5, dan 6 SD dalam bidang akademik (Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris), seni dan seni digital (Lukis dan Coding), serta olahraga (Mini Soccer dan Basket 3×3). CaniExpo 2026 juga menjadi bagian dari Open House Kolese Kanisius bagi calon peserta didik tahun ajaran 2027/2028 dan calon orang tua.
Pada Rabu dan Kamis, 26–27 Agustus 2026, CaniExpo 2026 juga menghadirkan Seminar Pendidikan 100 Tahun Kolese Kanisius dengan tema “Discernment, Dignity, and AI: Pendidikan Jesuit Menjaga Kemanusiaan” di Gedung Ignatius Kolese Kanisius Jakarta. Pada hari pertama, seminar menghadirkan Rm. A. Setyo Wibowo, SJ. dan Rm. Hari Suparwito, SJ. yang berkecimpung dalam bidang filsafat dan pendidikan, serta Sandy Kusuma dan Yohanes Kurnia Widjaja, ST., MM. yang memiliki pengalaman di bidang teknologi dan kecerdasan artifisial. Pada hari kedua, hadir Rm. Paul Suparno, SJ., akademisi dan pemerhati pendidikan, Rm. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., akademisi dan pemikir di bidang humaniora serta pendidikan, serta Dr. Ir. Lukas, S.T., MAI., CISA., IPU. dan Prof. Dr. Ir. M.M. Lanny
W. Pandjaitan, M.T., IPU. yang berkecimpung dalam bidang teknologi, rekayasa, dan profesionalisme. Rangkaian seminar akan ditutup dengan peluncuran “Jakarta Declaration on Jesuit Education in the AI Era” pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Aula Lantai 7 Gedung Ignatius, sebagai bentuk komitmen bersama untuk merespons perkembangan AI dalam dunia pendidikan dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan. (*)
