Penjelasan Kementerian Komdigi Terkait Sistem IGRS di Steam
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memberikan penjelasan mengenai penggunaan sistem rating Indonesia Game Rating System (IGRS) oleh platform Steam tanpa verifikasi resmi dari pemerintah. Hal ini menimbulkan kebingungan di kalangan pemain game, karena klasifikasi usia yang diberikan dinilai tidak sesuai dengan harapan.
Salah satu contoh adalah gim Upin Ipin Universe yang diberi label 18 tahun ke atas, sementara PUBG Battlegrounds dinilai cocok untuk anak-anak berusia tiga tahun. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital dari Direktorat Jenderal Ekosistem Digital, Sonny Hendra Sudaryana, menjelaskan bahwa Steam belum terhubung dengan situs resmi IGRS. “Steam melakukan self assessment. Pagi tadi mereka mengirim email minta maaf karena ada miskomunikasi,” ujar Sonny saat ditemui di Gedung Kementerian Komdigi, Senin (6/4).
Masalah dalam Implementasi IGRS
Sonny menegaskan bahwa Steam melewatkan langkah penting setelah melakukan self assessment. Menurutnya, Steam seharusnya mengirimkan hasil penilaian mandiri tersebut kepada Kementerian Komdigi sebelum menggunakan label rating usia dari IGRS. Saat ini, Kementerian Komdigi masih dalam tahap uji coba kerja sama dengan Steam. “Masih uji coba. Kita belum ada MOU resmi dengan Steam. Bahkan MOU belum ada,” ujarnya.
IGRS dirancang sebagai sistem klasifikasi usia dan konten untuk permainan video yang bertujuan memastikan gim sesuai dengan target umur dan norma lokal. Sistem ini diintegrasikan ke platform untuk membagi gim ke dalam beberapa kategori:
- Usia di atas 3 tahun
- Usia di atas 7 tahun
- Usia di atas 13 tahun
- Usia di atas 15 tahun
- Usia di atas 18 tahun
- Refused Classification (RC): Mengandung unsur pornografi hingga perjudian dengan menggunakan alat pembayaran yang sah. Tidak dapat diedarkan di Indonesia.
Namun, sistem ini menuai kontroversi karena banyak temuan ketidaksesuaian label usia pada judul-judul gim populer di Steam. Contohnya, gim bernuansa dewasa seperti Nukitashi justru mendapatkan klasifikasi 3+, sementara gim naratif lokal seperti A Space for the Unbound dilabeli 18+. CEO Toge Productions, Kris Antoni, mengkritik pemberlakuan sistem ini karena dianggap merugikan ekosistem industri gim.
Kritik dan Kekecewaan dari Komunitas Gamers
Kris menyebutkan bahwa sistem rating ini memberi label gim dengan konten seksual dewasa sebagai cocok untuk usia 3 tahun ke atas. Sementara itu, gim pemenang penghargaan seperti Claire Obscure dan Metal Gear Solid Delta diberi label tidak layak untuk didistribusikan di Indonesia. Selain itu, gim seperti Call of Duty diberi label usia 3+ sedangkan Coffee Talk justru mendapat label 18+.
Akun Instagram @direktorigim juga mengkritik eksekusi sistem IGRS yang dinilai berantakan. Mereka menyoroti standar kurasi IGRS yang dinilai cacat logika secara fundamental. “Sangat konyol melihat game bernarasi kritik politik sekelas Metaphor: ReFantazio dicekik dengan status penolakan maksimal (label RC), sementara gim bermuatan kekerasan brutal atau bahkan eroge justru diloloskan dengan rating anak balita,” tulis akun tersebut.
Dampak Regulasi pada Industri Gim
Pladidus Santoso dari Kokang Gaming mengatakan bahwa gim yang mendapat rating RC tidak akan langsung mati kutu. “Publisher dan developer diizinkan mengubah konten yang dianggap sebagai sumber masalah, melewati proses penilaian ulang, sebelum akhirnya bisa rilis di Indonesia,” tulis Direktori Gim.
Direktori Gim juga menyoroti dampak buruk dari ketidakjelasan sistem rating dari insiden di Jerman pada 15 November 2024. Sekitar 23 ribu gim lenyap dari etalase Steam di wilayah tersebut karena masalah kepatuhan terhadap regulasi rating usia yang baru. Beban birokrasi ini dinilai akan memicu efek domino yang merugikan banyak pihak.
“Jika regulasi yang ada hanya menciptakan kebingungan, mengancam ketersediaan puluhan ribu game di Steam, dan membuat publisher enggan melirik pasar lokal, maka sistem ini lebih baik ditiadakan sama sekali daripada terus-terusan mempersulit komunitas gamer Indonesia,” tulis Direktori Gim.
