Konsolidasi Arema One Blood: Membangun Sepak Bola yang Lebih Baik

Di tengah persiapan laga besar antara Arema FC dan Persebaya Surabaya pada 28 April 2026, sebuah acara konsolidasi yang berjudul “Arema One Blood” digelar di Pendopo Panji, Kantor Pemkab Malang. Acara ini dihadiri oleh ribuan Aremania, yang berkumpul untuk memperkuat kebersamaan dan menjaga suasana kondusif dalam pertandingan nanti.

Pertemuan ini tidak hanya sekadar silaturahmi biasa, tetapi juga menjadi langkah konkret untuk memastikan bahwa pertandingan di Stadion Kanjuruhan berjalan dengan lancar dan aman. Acara ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Malang Raya, perwakilan korlap suporter dari berbagai daerah seperti Malang, Blitar, hingga Pasuruan, serta petinggi kepolisian dari Polres Malang dan Polresta Malang Kota.

Membangun Ekosistem Sepak Bola yang Sehat

General Manajer Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyampaikan bahwa kolaborasi antara klub, pemerintah, dan suporter adalah fondasi utama bagi kemajuan sepak bola Malang Raya. Ia menegaskan bahwa sepak bola harus menjadi instrumen pemersatu bangsa.

“Sinergi lintas elemen ini bersifat mutlak. Kami ingin sepak bola di Malang hadir sebagai ruang yang membawa persaudaraan, bukan perpecahan. Arema adalah tentang menjaga martabat dan warisan persaudaraan kita semua,” ujar Yusrinal.

Ia juga berharap pemerintah terus memberikan dukungan melalui perbaikan infrastruktur stadion serta pembinaan usia dini guna menunjang prestasi Singo Edan di masa depan.

Imbauan: Stop Kekerasan

Momen emosional terjadi saat tokoh legendaris sekaligus pendiri Arema, Ovan Tobing, memberikan orasi. Dengan suara yang khas dan penuh penekanan, ia meminta seluruh Aremania untuk menunjukkan kedewasaan dalam mendukung tim kebanggaan.

Ovan menekankan pentingnya menjamin keamanan tim tamu selama berada di Malang. “Kita harus membuktikan bahwa Arek Malang mampu berubah. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjamin kenyamanan lawan sejak mereka tiba hingga pulang. Jangan biarkan peristiwa kelam terulang kembali,” tegas Ovan yang disambut riuh tepuk tangan.

6 Poin Nota Kesepahaman “Arema One Blood”

Puncak dari konsolidasi ini adalah penandatanganan nota kesepahaman oleh Presidium Aremania, Ali Rifki, bersama para koordinator lapangan. Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana dan Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdianto.

Adapun 6 poin utama yang disepakati adalah:

  • Larangan segala bentuk kekerasan di dalam dan luar stadion.
  • Penghormatan terhadap tim tamu, ofisial, dan wasit.
  • Koordinasi ketat antara panpel, suporter, dan aparat keamanan.
  • Partisipasi aktif Aremania dalam menjaga ketertiban.
  • Sanksi tegas bagi pelanggar komitmen bersama.
  • Penguatan edukasi sportivitas di kalangan generasi muda suporter.

Harapan Pemerintah Kabupaten Malang

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, yang mewakili Bupati Malang, mengapresiasi inisiatif ini. Menurutnya, stadion harus menjadi ruang publik yang membanggakan, aman, dan nyaman bagi siapa saja.

“Malang Raya harus dikenal karena kedewasaan dan sportivitas suporternya, bukan sekadar fanatisme buta. Kami ingin sepak bola menjadi penggerak sosial dan ekonomi yang sehat bagi masyarakat,” ungkap Firmando.

Melalui semangat Arema One Blood, seluruh elemen di Malang Raya optimistis bahwa laga melawan Persebaya pada akhir April nanti akan menjadi tonggak baru kebangkitan sepak bola Indonesia yang lebih bermartabat dan damai.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version