Masalah Kualitas Makanan di Program Makan Bergizi Gratis (MBG) HST
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) kembali menjadi sorotan setelah ditemukan adanya masalah dalam kualitas makanan yang diberikan kepada siswa. Beberapa keluhan dari warga dan orang tua siswa menunjukkan bahwa makanan yang disajikan tidak layak konsumsi, seperti roti yang menghitam, telur berbau, serta paket makanan tanpa minuman. Hal ini memicu reaksi keras dari masyarakat yang mempertanyakan pengawasan dan standar kelayakan pangan.
Salah satu orang tua siswa mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi makanan yang diterima anaknya. “Anak kami mendapatkan roti yang sudah menghitam dan telur yang bau. Bahkan ada yang tidak dapat minuman sama sekali. Ini kan untuk anak sekolah,” ujarnya. Keluhan tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial, sehingga semakin memperkuat perhatian publik terhadap program MBG.
Masalah ini tidak hanya terkait dengan menu makanan, tetapi juga menunjukkan adanya kelemahan dalam pengawasan distribusi makanan oleh 11 unit Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) yang tersebar di sejumlah kecamatan di HST. Publik menilai bahwa masalah ini bukanlah kasus kecil, melainkan indikasi lemahnya kontrol mutu dan pengelolaan program.
Dengan anggaran hingga Rp15.000 per porsi, masyarakat mulai mempertanyakan kesesuaian antara biaya dan kualitas yang diterima. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG belum memberikan respons atas berbagai keluhan yang berkembang. Sikap ini memicu desakan agar ada klarifikasi resmi dan langkah konkret perbaikan.
Respons dari Pengelola SPPG
Setelah beberapa hari tidak memberikan tanggapan, pihak pengelola SPPG akhirnya angkat bicara. Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG HST, Sadillah, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima berbagai informasi dan masukan dari masyarakat. Ia menegaskan akan melakukan monitoring dan rapat koordinasi (rakor) untuk membahas persoalan yang mencuat. Namun, hingga kini belum dijelaskan secara rinci langkah teknis evaluasi yang akan dilakukan terhadap 11 unit SPPG yang beroperasi di HST.
Masyarakat berharap rakor tersebut menghasilkan langkah konkret, terutama dalam hal pengawasan kualitas bahan makanan, standar kelayakan konsumsi, serta transparansi pengelolaan anggaran. Publik juga menantikan penyampaian resmi hasil evaluasi sebagai bentuk tanggung jawab kepada orang tua dan pelajar penerima manfaat program.
Permohonan Maaf dan Penjelasan Anggaran
Sadillah akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat atas adanya makanan yang ditemukan dalam kondisi kurang baik. Pihak SPPG mengakui terdapat keteledoran dalam proses distribusi dan pengawasan di lapangan. Ia menjelaskan bahwa temuan seperti roti menghitam dan telur yang rusak disebut sebagai kesalahan teknis yang terjadi saat produksi maupun distribusi. Laporan kejadian tersebut telah disampaikan secara berjenjang ke pemerintah pusat untuk evaluasi dan penentuan sanksi.
Selain itu, pihak SPPG juga membeberkan struktur anggaran MBG yang selama ini menjadi sorotan publik. Dari total Rp15.000 per porsi makan besar, tidak seluruhnya digunakan untuk bahan baku. Rinciannya, Rp3.000 dialokasikan untuk operasional dapur seperti listrik, air dan distribusi, Rp2.000 untuk biaya sewa mitra, sehingga tersisa Rp10.000 untuk bahan baku makanan. Sementara untuk porsi kecil (kelas 3 SD ke bawah), total anggaran Rp13.000 dengan pembagian Rp3.000 operasional, Rp2.000 sewa mitra, dan Rp8.000 bahan baku.
Langkah Perbaikan dan Koordinasi dengan Kejaksaan
Untuk memperketat pengawasan, SPPG HST juga telah berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah guna melakukan pendampingan terhadap program strategis nasional tersebut. Korwil memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia pun meminta masyarakat dan pihak sekolah terus memberikan masukan demi perbaikan kualitas layanan MBG di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Wabup HST Minta Jangan Pakai Telur Selama Ramadan
Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), H Gusti Rosyadi Elmi, meminta agar menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan tidak menggunakan telur sebagai lauk utama. Ia menegaskan, khusus selama puasa, telur ditiadakan dari seluruh menu MBG dan diganti dengan variasi lauk lainnya agar tidak hanya telur yang disajikan setiap hari. Menu diminta lebih beragam dengan tetap memperhatikan nilai gizi bagi para penerima manfaat.
Wabup juga mengingatkan, apabila tetap memaksakan penggunaan telur, maka operasional SPPG bisa saja diliburkan sementara. Selain itu, Wabup meminta seluruh SPPG agar berbelanja bahan baku di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kestabilan pasokan sekaligus mendukung perputaran ekonomi masyarakat lokal.
Tips Aman Konsumsi MBG
Konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang aman menjadi sorotan penting, terutama dengan adanya laporan kasus keracunan makanan. Berikut adalah tips aman konsumsi MBG:
- Cek Kondisi Kemasan dan Aroma (Fisik): Pastikan segel utuh dan cium aroma makanan. Jika tercium bau asam, tengik, atau tidak sedap, segera jangan dimakan.
- Periksa Tekstur: Waspada jika sayuran berlendir atau lauk pauk terasa berlendir/tidak segar.
- Perhatikan Waktu Konsumsi (Maksimal 2 Jam): Makanan disarankan untuk segera disantap, idealnya maksimal 2 jam setelah dimasak.
- Higiene Sebelum Makan (Cuci Tangan): Pastikan anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum membuka dan memakan makanan MBG.
- Simpan dengan Benar Jika Tidak Langsung Dimakan: Jika makanan tidak langsung disantap, segera simpan di dalam lemari es atau chiller.
- Periksa Tanda-Tanda Keracunan: Segera hentikan konsumsi jika terasa mual, pusing, sakit perut, atau muntah setelah menyantap makanan tersebut.
- Laporkan Jika Temukan Kejanggalan: Laporkan segera kepada guru atau pengawas sekolah jika menemukan makanan dengan kualitas buruk.
