Kredit Menganggur di Perbankan Masih Tinggi, Tapi Ada Harapan
Kondisi kredit menganggur atau undisbursed loan di industri perbankan Indonesia masih menjadi perhatian serius. Dari data Bank Indonesia (BI), posisi kredit menganggur pada awal tahun 2026 mencapai Rp 2.506,47 triliun, yang setara dengan 22,65% dari total kredit. Angka ini terus meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar Rp 2.439,2 triliun atau 22,12%.
Meskipun penyaluran kredit secara keseluruhan tumbuh tinggi, kenaikan jumlah kredit yang belum tersalurkan tetap menjadi tantangan bagi bank. Pada Januari 2026, penyaluran kredit perbankan meningkat sebesar 9,96% secara tahunan (year on year), naik dari pertumbuhan sebelumnya yang sebesar 9,69% yoy.
Alasan Kenaikan Kredit Menganggur
Menurut Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, kenaikan kredit menganggur disebabkan oleh kondisi likuiditas yang semakin baik dan banyaknya pipeline kredit yang sedang dalam proses analisis. Ia menjelaskan bahwa bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman karena adanya risiko yang perlu dianalisis secara mendalam.
“Memang, undisbursed loan-nya naik. Tapi ini wajar karena kondisi likuiditas perbankan juga semakin bertambah. Bank juga punya banyak pipeline, hanya saja masih melakukan kajian dan analisis sebelum menyalurkan pinjaman,” ujar Myrdal.
Ia menilai bahwa sejumlah bank mulai melirik sektor-sektor prioritas pemerintah. Namun, karena sebagian sektor tersebut relatif baru bagi perbankan, proses analisis risiko dan prospeknya menjadi lebih panjang.
“Banyak bank ingin masuk ke kredit program prioritas pemerintah, tapi itu bukan business as usual mereka. Jadi masih cenderung berhati-hati dan melakukan kajian mendalam,” jelasnya.
Peluang Ekspansi Kredit
Selain sektor prioritas pembangunan, Myrdal juga melihat peluang ekspansi kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meski pertumbuhan UMKM sempat melambat tahun lalu, saat ini ada potensi untuk kembali tumbuh.
Di sisi lain, tren suku bunga yang berpotensi menurun dinilai bisa menjadi katalis bagi percepatan penyaluran kredit. Penyesuaian bunga kredit secara bertahap dinilai dapat menarik permintaan pembiayaan baru.
“Kalau iklim suku bunga turun, meski bertahap, itu bisa menjadi pendorong bagi perbankan untuk lebih agresif menyalurkan kredit,” imbuhnya.
Perkembangan Kredit di Beberapa Bank
Beberapa bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih mencatatkan kenaikan pada kredit menganggurnya. Pada Januari 2026, posisi kredit menganggur BCA mencapai Rp 464,82 triliun, naik 8,81% yoy. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan bahwa BCA terus mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor, sambil mempertimbangkan prinsip kehati-hatian.
Di sisi lain, Bank Mandiri juga mencatatkan kenaikan kredit menganggur, yaitu sebesar Rp 284,36 triliun pada Januari 2026, naik 8,75% yoy. Sementara itu, penyaluran kredit Bank Mandiri meningkat 15,62% yoy mencapai Rp 1.511 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencatatkan lonjakan kenaikan kredit menganggur pada Desember 2025, yaitu sebesar 64,22% atau Rp 90,08 triliun. Di saat yang sama, penyaluran kredit BNI meningkat 15,95% yoy.
Stabilitas Kredit Menganggur di CIMB Niaga
Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui bahwa kredit menganggur CIMB Niaga terbilang stabil dan tidak ada pergerakan berarti. “Data kami stabil, mungkin karena pertumbuhan kredit baru juga relatif mild,” ujarnya.
Pihak CIMB Niaga lebih fokus pada penggunaan dari existing kredit daripada terus meningkatkan plafon kredit yang belum tentu dibutuhkan. Pada November 2025, kredit menganggur CIMB Niaga turun 2,95% menjadi Rp 107,55 triliun, dari Rp 110,81 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Di saat yang sama, penyaluran kredit CIMB Niaga mencapai Rp 162,21 triliun, tumbuh 6,36% yoy.





