Teknologi Tepat Guna untuk Pengrajin Gula Semut di Banyumas

Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkenalkan teknologi inovatif berupa alat evaporator dan kristalisator kepada para perajin gula semut di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Inisiatif ini dilakukan dalam rangka program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset yang bertujuan meningkatkan kualitas produk gula semut agar lebih seragam dan siap diekspor.

Teknologi yang dikembangkan sejak tahun 2009 ini dirancang khusus untuk industri rumah tangga maupun UMKM penghasil komoditas gula semut. Harganya berkisar antara Rp25 juta hingga Rp35 juta, tergantung pada spesifikasi kapasitas yang diminta. Alat ini tidak hanya mengotomatisasi proses produksi, tetapi juga menjaga keseragaman mutu dengan menggabungkan intuisi pengrajin lokal dengan pengukuran ilmiah seperti pH dan Brix.

Kerja Sama yang Kuat

Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk PT Integral Mulia Cipta (IMC), Koperasi Integrasi Petani Organik (KOPIPO), serta mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia. Ketua tim peneliti, Dr. Sri Rahayoe S.T.P., M.P., menjelaskan bahwa kehadiran teknologi ini bukan untuk menggantikan pengalaman para pengrajin, tetapi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil produksi.

“Kami mengombinasikan feeling mereka dengan pengukuran ilmiah seperti pH dan Brix sehingga hasilnya bisa lebih optimal,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, para pengrajin dapat mempertahankan keunikan produk sambil memenuhi standar ekspor.

Proses Produksi yang Lebih Efisien

Proses pembuatan gula semut saat ini masih banyak bergantung pada tungku kayu bakar dan pengadukan manual. Hal ini menyebabkan variasi dalam ukuran partikel dan warna gula semut. Dengan hadirnya alat kristalisator, proses krusial ini dapat dilakukan menggunakan sistem putaran mesin dengan kecepatan stabil dan terukur.

Selain itu, para peserta pelatihan juga diberikan materi tentang sanitasi, higiene, dan keamanan pangan. Mereka diajarkan cara mengukur kualitas nira kelapa menggunakan parameter seperti pH. Nira yang baik harus memiliki pH minimal enam agar tidak terfermentasi.

Edukasi dan Pemahaman Dasar

Pengrajin juga dibekali pemahaman tentang pentingnya penggunaan media wadah yang bersih dan tertutup rapat. Imbauan ini sangat esensial terutama saat musim hujan, di mana risiko kontaminasi bakteri meningkat. Selain itu, mereka juga diajarkan cara merawat peralatan produksi agar awet dan efisien.

Teknologi ini telah dikembangkan selama lebih dari 15 tahun oleh tim peneliti UGM. Berbagai model dan kapasitas alat telah diuji coba di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan dan Riau. Tujuan utamanya adalah memastikan hasil penelitian benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Lokasi dan Kolaborasi

Penunjukan Cilongok sebagai lokasi kegiatan ini bukan tanpa alasan. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat sentra produksi gula kelapa dan gula semut terbesar di Banyumas. Banyak pengrajin di kawasan ini menjadi pemasok utama rantai gula semut untuk mencukupi kebutuhan ekspor PT IMC.

Kolaborasi dengan PT IMC bermula pada tahun 2021 setelah perusahaan tersebut membaca jurnal publikasi riset UGM. Dari sana, lahir kolaborasi konkret untuk menerapkan teknologi tersebut langsung di level petani.

Kerja Sama Internasional

UGM juga menggandeng Universiti Putra Malaysia sebagai mitra internasional. Perguruan tinggi ini memberikan materi tentang standardisasi praktik terbaik pengolahan turunan buah kelapa yang sudah diterapkan di Malaysia. Modul ini diharapkan dapat memperluas wawasan para pengrajin.

Biaya dan Replikasi

Harga pembuatan alat evaporator dan kristalisator berkisar antara Rp25 juta hingga Rp35 juta. Nominal ini merupakan biaya produksi tanpa laba, karena alat ini didekasikan khusus untuk masyarakat. Diharapkan teknologi ini dapat direplikasi dan diduplikasi kepada anggota jejaring KOPIPO yang jumlahnya sekitar 2.500 orang.

Tim peneliti ingin memastikan para pengrajin uji coba benar-benar fasih menggunakan alat ini. “Kami ingin prototipe ini benar-benar berhasil dulu. Feeling para produsen harus bisa menyatu dengan teknologi,” ujar Sri.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version