Peristiwa Ledakan Kapal Tunda di Selat Hormuz
Pada Jumat (6/3/2026), terjadi ledakan di kapal tunda yang dinaiki oleh tiga Warga Negara Indonesia (WNI) dan empat ABK lainnya. Kejadian ini menyebabkan tiga dari mereka hilang dan satu orang selamat, namun masih dalam perawatan medis. Saat ini, belum ada informasi pasti mengenai hubungan ledakan tersebut dengan konflik antara Iran dengan Israel-AS.
Lokasi dan Kondisi Kapal
Ledakan terjadi di Selat Hormuz, sebuah jalur laut strategis yang telah ditutup oleh Iran sejak perang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Pada Minggu (1/3/2026) sore, sebuah kapal tanker bernama Skylight yang berbendera Palau diserang oleh drone Iran saat melintas di wilayah tersebut. Meski Iran sebelumnya telah memperingatkan akan menutup Selat Hormuz dan menyerang kapal yang melewati jalur itu, tidak jelas apakah ledakan yang menimpa kapal tunda Musaffah 2 memiliki kaitan langsung dengan konflik tersebut.
Kronologi Kejadian
Perahu tunda Musaffah 2, yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA), berlayar di Selat Hormuz antara perairan UEA dan Oman pada Jumat (6/3/2026) pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Kapal ini diawaki tujuh orang, termasuk empat ABK asal Indonesia, serta tiga orang dari India dan Filipina. Dalam proses persiapan towing, terjadi ledakan yang mengakibatkan tiga ABK Indonesia hilang dan satu lainnya luka-luka.
Penjelasan Duta Besar RI untuk UEA
Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk UEA, Judha Nugraha, menyampaikan bahwa informasi pertama tentang kejadian ini diterima oleh KBRI pada tanggal 6 Maret pukul 9 pagi. Menurut saksi mata yang juga seorang WNI, kapal Musaffah 2 berangkat dari wilayah UEA untuk melakukan towing terhadap sebuah kapal kontainer yang mengalami kerusakan. Kapal tunda ini tiba di lokasi pada tanggal 6 Maret pukul 2 dini hari.
Judha menjelaskan bahwa ledakan terjadi saat proses persiapan towing sedang berlangsung. Ia menyebutkan bahwa kapal Musaffah 2 berawak tujuh ABK yang berasal dari Indonesia, India, dan Filipina. Dari jumlah tersebut, empat ABK adalah WNI, dengan tiga di antaranya masih hilang dan satu lainnya dalam kondisi selamat.
Kondisi ABK yang Selamat
Satu ABK asal Indonesia yang selamat masih menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami luka bakar sekitar 20 persen. KBRI Abu Dhabi telah berkoordinasi dengan otoritas UEA dan pihak perusahaan kapal sejak awal kejadian. Selain itu, KBRI Muscat juga turut terlibat dalam koordinasi, mengingat lokasi kejadian berada di wilayah perairan Oman.
Proses Pencarian dan Koordinasi
Tim KBRI Muscat sudah berada di Khasab, tempat ABK yang selamat berada. Proses pencarian bagi tiga ABK Indonesia lainnya terus dilakukan bersama otoritas setempat. Sampai saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai nasib para korban yang hilang.
Kesimpulan
Peristiwa ledakan di Selat Hormuz yang menimpa kapal tunda Musaffah 2 menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia dan komunitas maritim internasional. Dengan situasi politik yang memanas akibat konflik antara Iran dengan Israel-AS, keamanan jalur laut semakin menjadi perhatian utama. Kementerian Luar Negeri RI terus memantau perkembangan dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga negara Indonesia yang terlibat dalam insiden ini.




