Peristiwa Teror yang Menimpa Ketua BEM UGM

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mendapat serangan teror setelah mengirimkan surat ke UNICEF terkait kasus kematian seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak mampu membeli alat tulis. Kasus ini menarik perhatian publik dan membuat DPR RI turun tangan.

Awal Mula Kasus Kematian Anak SD di NTT

Kasus kematian seorang bocah SD di NTT menjadi perhatian besar setelah ia meninggal dunia karena tidak mampu membeli alat tulis yang harganya hanya Rp 10 ribu. Kejadian ini menyentuh hati Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM, yang kemudian mengambil inisiatif untuk menyuarakan isu ini melalui media sosial dan mengirimkan surat resmi kepada UNICEF.

Dalam suratnya, Tiyo menulis:

“Apa dunia yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena tidak mampu membeli pena dan buku?”

Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, melainkan akibat dari kegagalan sistemik dan kegagalan negara dalam melindungi warga paling rentan. Tiyo meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.

Kronologi Teror yang Diterima Tiyo Ardianto

Setelah mengirimkan surat tersebut, Tiyo justru mendapat pesan ancaman dan teror dari nomor asing. Pesan-pesan tersebut berisi kata-kata mengancam seperti “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr”, “Banci”, dan “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Serangan digital sistematis mulai menghujani ponsel Tiyo sejak Senin (9/2/2026). Setidaknya enam nomor asing terpantau terus-menerus mencoba menghubungi Ketua BEM UGM tersebut, namun ia memilih untuk tidak merespons demi menjaga keamanan dirinya.

Selain itu, Tiyo juga mengalami intimidasi fisik berupa penguntitan langsung oleh dua pria misterius bertubuh tegap. Kedua sosok tersebut dilaporkan sengaja membuntuti dan mengambil foto Tiyo dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi. Saat berusaha dikejar untuk diidentifikasi, para penguntit tersebut langsung menghilang dengan cepat.

Tiyo meyakini bahwa seluruh rangkaian teror ini merupakan reaksi atas surat resmi terkait isu kemanusiaan yang dikirimkan BEM UGM ke UNICEF pada Jumat (6/2/2026).

Tanggapan DPR RI

Melihat ketua BEM UGM diteror usai mengirim surat aduan kepada UNICEF, DPR RI ikut buka suara. Hilman Mufidi, anggota Komisi X DPR RI, mengecam keras intimidasi yang menimpa aktivis mahasiswa tersebut.

Bagi Hilman, intimidasi ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan sebuah ancaman serius bagi kebebasan berpendapat.

“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman.

Hilman menegaskan bahwa keberanian Tiyo dalam bersuara bukanlah sebuah pelanggaran, melainkan manifestasi nyata dari kebebasan berpendapat yang secara konstitusional sah dan dilindungi sepenuhnya oleh hukum di Indonesia.

“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” tegas Politisi Fraksi PKB ini.

Hilman juga memberikan imbauan kepada seluruh elemen masyarakat agar menahan diri dalam menyikapi setiap dinamika yang berkembang.

“Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror,” tandas Hilman.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version