Kue Kering NW: Warisan Keluarga yang Tetap Melekat di Hati Konsumen
Di balik pagar seng yang tampak biasa, tersembunyi sebuah rumah produksi kue legendaris yang telah berdiri selama 46 tahun. Lokasi rumah produksi tersebut berada di Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Meski tidak memiliki papan nama besar atau spanduk menarik, aroma mentega dan cokelat yang menggugah selera dapat tercium bahkan dari luar pagar.
Rumah produksi kue ini dikelola oleh Nilam Wahyuni (24), seorang generasi ketiga dari keluarga yang telah menjalankan bisnis ini sejak tahun 1980. Ia mengatakan bahwa usaha ini telah turun dari kakeknya, kemudian ke orang tua, dan kini ia yang memegang kendali. “Ini adalah warisan keluarga yang harus saya jaga,” ujarnya.
Di dalam ruang produksi, suasana terasa hangat dan penuh semangat. Enam karyawan bekerja secara manual untuk mencetak adonan kue dengan presisi. Mereka membentuk adonan satu per satu menjadi kepingan kue yang sempurna. Di meja lain, seorang pegawai fokus mengoperasikan mesin pres plastik untuk menyegel kemasan, sementara yang lainnya menata kue ke dalam cup kecil.
Selama bulan Ramadhan, permintaan kue kering meningkat drastis. Salah satu pesanan yang mencuri perhatian adalah pesanan kue kacang seberat 100 kilogram untuk kebutuhan arisan di Tanjungpandan. “Mereka hanya memesan satu jenis, yaitu kue kacang, tapi jumlahnya sangat besar,” ujar Nilam.
Kue kacang menjadi primadona dari 19 varian kue kering yang diproduksi oleh NW. Teksturnya yang renyah namun lumer di mulut membuat pelanggan tetap memesan dalam jumlah besar. Di bagian dalam rumah produksi, terdapat dua pemanggang besar berbahan bakar gas. Alat ini merupakan komponen utama dalam proses produksi, mampu memanggang tiga loyang besar atau delapan loyang kecil secara bersamaan.
Hawa panas dari oven sering kali menyambar ke ruangan, namun para karyawan tetap bekerja dengan cepat tanpa mengeluh. “Bulan puasa ini kita harus kejar target pesanan sebelum lebaran,” tambah Nilam.
Pada hari biasa, Nilam juga memproduksi kue basah seperti bakpia atau bolen untuk dititipkan di toko-toko. Namun, selama Ramadhan, seluruh energi rumah produksi dialokasikan untuk memenuhi pesanan kue kering. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp80.000 hingga Rp160.000 per kilogram, dengan pelanggan yang cukup setia, mulai dari warga lokal hingga luar daerah.
Nilam memilih tidak memasang spanduk atau banner di depan rumahnya. Ia lebih mempercayai tradisi lama yang mengandalkan loyalitas pelanggan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun. “Yang datang ke sini rata-rata sudah langganan tiap tahun. Mereka sudah tahu alamatnya,” katanya.
Selain cara konvensional, Nilam juga memanfaatkan media sosial Facebook untuk mengunggah produk-produknya. Menurutnya, teknologi adalah alat untuk memperluas jangkauan usaha. “Sejak pakai medsos, jangkauan kita jadi lebih luas. Orang-orang jadi tahu dari review pelanggan lain, lalu mereka datang untuk mencoba sendiri,” ujarnya.
Meski penjualan meningkat, Nilam tetap mengingat masa sulit saat pandemi melanda beberapa tahun silam. Saat itu, usahanya terdampak akibat larangan penerimaan tamu yang membuat pesanan merosot tajam. Kini, keteguhan hatinya membawa merek NW kembali bangkit. Ia tetap memastikan bahan-bahan yang digunakan terjaga kualitasnya agar rasa autentik dari puluhan tahun silam tidak berubah.
Nilam berharap, makin laris, makin maju, dan NW bisa dikenal lebih banyak orang. “Saya ingin usaha ini bertahan selama mungkin,” tutupnya.




