Infomalangraya.net.CO.ID, PONTIANAK — Masih percaya bahwa IPK tinggi otomatis membuat HRD jatuh cinta? Maaf ya, itu mitos lama. Dunia kerja hari ini tidak lagi hanya bertanya, “IPK kamu berapa?” tapi lebih ke, “Kamu bisa apa?”

Banyak anak muda masih terjebak dalam mindset lama kuliah, lulus, wisuda, selesai. Padahal realitasnya, setelah toga dilepas, pertanyaan sebenarnya baru dimulai. Punya skill apa? Pernah mengelola project apa? Bisa kerja tim? Mengerti tools digital? Atau cuma jago teori dan screenshot nilai A?

Inilah kenapa kuliah hari ini tidak boleh cuma soal ijazah. Ijazah itu penting, iya. Namun, tanpa skill digital yang relevan, nilainya cuma menjadi pelengkap map lamaran. Sekarang lihat saja kebutuhan industri. Hampir semua sektor sudah terdigitalisasi.

UMKM butuh digital marketing. Perusahaan butuh data analyst. Instansi butuh sistem informasi yang rapi. Konten kreator tumbuh di mana-mana. Bahkan bisnis kecil pun butuh orang yang mengerti spreadsheet, desain, editing, hingga manajemen media sosial.

Masalahnya, banyak mahasiswa santai di semester awal dengan pikiran, “Nanti juga belajar” lalu semester akhir panik karena CV kosong. Kuliah yang relevan itu harusnya membuat mahasiswa akrab dengan project nyata. Bukan cuma presentasi di kelas, tapi membuat produk.

Bukan cuma diskusi teori, tapi praktik menggunakan tools yang memang digunakan di dunia kerja. Skill seperti analisis data, pembuatan konten digital, pengelolaan sistem informasi, hingga kemampuan komunikasi profesional itu bukan bonus. Itu kebutuhan.

Di sinilah kampus harus berani berubah. Kampus tidak bisa lagi cuma menjadi tempat datang, duduk, dengar, lalu pulang. Kampus harus menjadi tempat latihan sebelum benar-benar masuk ke arena.

Semangat itu mulai terasa lewat pendekatan pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang telah terakreditasi Unggul, mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami konsep, tapi juga mengerjakan proyek yang relevan dengan kebutuhan industri digital.

Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam kegiatan organisasi, pelatihan, sertifikasi, hingga pengembangan ide bisnis. Karena dunia kerja tidak hanya butuh orang pintar, tapi orang yang siap. Siap kerja, siap adaptasi, siap belajar hal baru.

Realitasnya sederhana, perusahaan hari ini lebih tertarik pada lulusan yang bisa menunjukkan portofolio daripada sekadar transkrip nilai. Punya pengalaman mengelola media sosial? Pernah membuat sistem sederhana? Terlibat dalam riset terapan? Itu jauh lebih “berbicara”.

Generasi muda sering bilang ingin sukses cepat. Tapi sukses itu bukan soal cepat, melainkan soal siap. Dan kesiapan itu dibangun selama kuliah.

Jika masih menganggap kuliah cuma soal datang, absen, dan lulus tepat waktu, mungkin memang saatnya evaluasi. Karena di luar sana, persaingan tidak menunggu kamu siap. Ia berjalan terus.

Kuliah bukan hanya tentang mendapatkan ijazah untuk dipajang di dinding rumah. Kuliah adalah proses membentuk skill digital, pola pikir adaptif, dan mental profesional yang benar-benar digunakan di dunia kerja.

Jadi, pertanyaannya sederhana: kamu mau lulus cuma bawa ijazah atau bawa kemampuan yang membuat kamu dicari?

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version