Kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang: Peluang Penguatan Kerja Sama Ekonomi
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan resmi perdananya ke Jepang pada hari Ahad (29/3/2026) waktu setempat. Kunjungan ini menarik perhatian para ekonom yang melihatnya sebagai kesempatan emas untuk memperkuat hubungan kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan Negeri Sakura.
Seorang ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menyampaikan bahwa Jepang telah menjadi mitra dagang utama Indonesia selama lebih dari setengah abad. Ia menekankan bahwa kerja sama dan hubungan ekonomi perdagangan harus terus ditingkatkan karena potensi besar yang dimiliki oleh Jepang dalam memajukan perdagangan luar negeri Indonesia.
Didik menjelaskan bahwa perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer atau saling melengkapi. Hal ini menciptakan keseimbangan yang saling menguntungkan, di mana kedua negara mendapatkan manfaat optimal untuk pengembangan cadangan devisa masing-masing.
Perbandingan dengan Mitra Dagang Lain
Dibandingkan dengan mitra dagang lain seperti Tiongkok, hubungan dagang Indonesia-Jepang memiliki sifat yang berbeda. Didik mengungkapkan bahwa perdagangan Indonesia dengan Tiongkok cenderung bersifat substitutif, yaitu saling menggantikan dan menegasi, sehingga mengarah pada persaingan yang merugikan pihak yang lebih lemah, dalam hal ini Indonesia.
Perdagangan dengan Tiongkok sering kali terjadi pada produk-produk yang sama, seperti pertanian, pangan, perkebunan, serta barang industri manufaktur seperti tekstil dan elektronik. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia karena harga produk Tiongkok yang lebih murah membuat industri dalam negeri kalah bersaing. Deindustrialisasi dini juga terjadi akibat tekanan dari persaingan dagang yang bersifat substitutif tersebut.
Indonesia dan Jepang menjajaki kerja sama sister park. – (Kemenhut)
Data Neraca Perdagangan
Data Kementerian Perdagangan RI menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 20.499 juta dolar AS terhadap Tiongkok pada tahun 2025. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar 3.141,1 juta dolar AS dengan Jepang pada tahun yang sama.
Didik menekankan bahwa meskipun ekonomi Jepang tumbuh lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain, skala ekonominya tetap sangat besar. Jepang merupakan salah satu ekonomi besar dunia bersama Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jerman, dan lainnya. Oleh karena itu, kunjungan Presiden Prabowo harus dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya sebagai diplomasi seremonial.
Potensi Kerja Sama yang Komplementer
Jepang mengimpor dari Indonesia berupa energi, batu bara, LNG, produk pertanian, dan perikanan. Sementara itu, ekspor Jepang ke Indonesia mencakup mesin, barang teknologi tinggi, dan investasi industri. Didik menjelaskan bahwa perdagangan komplementer ini lebih menguntungkan karena memperkuat value chain kedua negara, di mana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global.
Dampaknya, terjadi transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri, dan penguatan sektor manufaktur seperti otomotif dan elektronik.
Komitmen Indonesia dalam Transformasi Energi
Presiden Prabowo juga menyatakan komitmen Indonesia untuk melakukan transformasi ekonomi menyeluruh, memperkuat kemitraan strategis, serta mempercepat transisi menuju energi hijau. Dalam tiga tahun ke depan, Indonesia ingin mencapai 100 gigawatt energi surya. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Selain energi surya, Indonesia juga memiliki potensi besar dalam energi terbarukan lainnya, seperti panas bumi serta pengembangan bahan bakar nabati. Presiden menekankan bahwa Indonesia memiliki salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia dan tengah mempercepat produksi bahan bakar berbasis kelapa sawit, termasuk peningkatan campuran biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen, serta pengembangan bahan bakar berbasis etanol dan komoditas nabati lainnya.
Pentingnya Hubungan Ekonomi yang Rasional
Menyoroti dinamika global yang penuh ketidakpastian, Presiden Prabowo menekankan pentingnya menjaga hubungan ekonomi yang rasional di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin kompleks. Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara dengan karakter ekonomi terbuka untuk melakukan perdagangan dan kemitraan internasional.
Filosofi Indonesia adalah memiliki banyak teman dan sedikit musuh. Presiden menekankan bahwa hubungan Indonesia dengan Jepang sebagai mitra strategis harus terus diperkuat.
Reformasi dan Perlindungan Sumber Daya Alam
Presiden Prabowo juga menyatakan bahwa Indonesia tengah menjalankan reformasi nyata untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien. Transformasi strategis Indonesia mencakup transformasi ekonomi yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah, tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mendorong industrialisasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, Presiden menekankan pentingnya perlindungan sumber daya alam, termasuk hutan, yang tidak hanya berdampak bagi Indonesia tetapi juga dunia. Ia menyatakan bahwa hutan-hutan yang telah hancur harus direboisasi besar-besaran, bukan hanya untuk kebaikan Indonesia tetapi juga untuk kebaikan dunia.
