Sejarah dan Keunikan Kupat Keteg, Kuliner Khas Gresik
Kupat Keteg adalah salah satu kuliner tradisional yang berasal dari Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Makanan ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan masa Kerajaan Giri Kedaton pada abad ke-15. Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat, Kupat Keteg juga memiliki makna religius yang mendalam, terutama dalam perayaan malam selawe dan Lebaran Ketupat.
Asal Usul Kupat Keteg dari Masa Kerajaan Giri Kedaton
Dari catatan sejarah, Kupat Keteg telah ada sejak ratusan tahun lalu. Pada masa Kerajaan Giri Kedaton, makanan ini sering disajikan dalam acara keagamaan seperti malam ke-25 Ramadan atau malam selawe. Selain itu, Kupat Keteg juga menjadi bagian dari tradisi peninggalan Sunan Giri dan sering dihidangkan bagi para peziarah yang datang ke kawasan makamnya.
Keberadaannya yang berakar pada budaya lokal menjadikannya sebagai simbol identitas masyarakat Gresik. Proses pembuatannya pun penuh makna, karena melibatkan bahan-bahan alami yang memiliki nilai spiritual.
Bahan Unik: Air Keteg yang Menjadi Ciri Khas
Salah satu hal yang membedakan Kupat Keteg dengan ketupat biasa adalah bahan utamanya. Kupat Keteg dibuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan air keteg. Air ini berasal dari sumur tua di Bukit Giri, yang mengandung endapan minyak mentah. Warna air keteg biasanya kehijauan atau kekuningan dan memberikan cita rasa gurih yang khas.
Proses memasak Kupat Keteg membutuhkan waktu cukup lama, yaitu sekitar empat hingga lima jam. Sebelum digunakan, air keteg biasanya diendapkan terlebih dahulu agar lebih jernih. Selain itu, Kupat Keteg juga dibungkus dengan daun janur, daun gebang, atau daun lontar, yang membentuk selongsong ketupat.
Rasa Gurih dan Cara Penyajian Khas
Kupat Keteg dikenal memiliki rasa gurih dan sedikit asin, yang berasal dari penggunaan air keteg dalam proses memasaknya. Berbeda dengan ketupat biasa yang disajikan dengan opor atau gulai, Kupat Keteg justru disantap dengan cara sederhana. Biasanya, kupat yang telah dipotong-potong disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah cair, mirip dengan sajian jajanan pasar seperti kue lupis.
Kombinasi rasa gurih dari ketan dan manis dari gula merah menciptakan sensasi rasa yang unik dan khas. Hal ini menjadikan Kupat Keteg tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai pengalaman sensorik yang menyentuh.
Tradisi Lebaran dan Daya Tarik Wisata Religi

Kupat Keteg menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Gresik, terutama saat momen Ramadan. Selain disajikan pada malam selawe, makanan ini juga kerap hadir saat Lebaran Ketupat atau tujuh hari setelah Idul Fitri.
Keberadaannya yang dekat dengan kawasan makam Sunan Giri menjadikan Kupat Keteg juga sebagai daya tarik wisata religi. Banyak peziarah yang menjadikannya sebagai makanan favorit serta oleh-oleh khas saat berkunjung ke Gresik.
Diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Kupat Keteg kini tidak hanya dikenal sebagai kuliner tradisional, tetapi juga telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Pada 22 Februari 2026, Kupat Keteg resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) oleh Kementerian Kebudayaan.
Penetapan ini menjadi bentuk pengakuan atas nilai sejarah, budaya, serta filosofi yang terkandung di Kupat Keteg. Selain itu, penetapan WBTBI ini diharapkan dapat mendorong pelestarian budaya lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Gresik ke tingkat yang lebih luas.
Mulai Langka karena Keterbatasan Bahan
Di balik keunikan dan popularitasnya, Kupat Keteg kini menghadapi tantangan dalam pelestariannya. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan air keteg yang hanya bisa diperoleh dari sumur tua di Bukit Giri. Sumber air keteg di Bukit Giri kini semakin berkurang dan debitnya kecil, sehingga masyarakat tidak dapat memproduksi Kupat Keteg dalam jumlah besar.
Selain itu, jumlah pembuat Kupat Keteg juga semakin sedikit, bahkan di beberapa wilayah hanya tersisa segelintir orang yang masih mempertahankan tradisi ini. Akibatnya, kuliner ini tidak selalu tersedia setiap hari dan biasanya hanya dapat ditemukan pada saat momen tertentu.
Simbol Tradisi dan Identitas Gresik
Lebih dari sekadar makanan, Kupat Keteg mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Gresik. Dari proses pembuatannya yang unik hingga perannya dalam tradisi keagamaan, Kupat Keteg menjadi simbol identitas daerah yang patut dilestarikan.
Dengan segala keunikan rasa dan nilai sejarahnya, Kupat Keteg tetap menjadi salah satu kuliner legendaris yang memperkaya khazanah budaya Indonesia, khususnya di Kabupaten Gresik.





