Laporan Utama: Moge Tanggung Kuasai Panggung

Laporan Utama: Moge Tanggung Kuasai Panggung

Bagi banyak pengendara, naik kelas dari motor harian 250 cc ke mesin yang lebih bertenaga adalah sebuah impian, simak liputannya

Infomalangraya.net/ News

Naufal Nur Aziz Effendi August 29th, 4:10 PM August 29th, 4:10 PM

Infomalangraya.net – Bagi banyak pengendara, naik kelas dari motor harian 250 cc ke mesin yang lebih bertenaga adalah sebuah impian.

Untungnya, pasar otomotif Indonesia saat ini menawarkan beragam pilihan di rentang 250 cc hingga 500 cc dengan harga yang masih ‘masuk akal’, yakni di rentang Rp 200 jutaan.

Segmen ini menjadi titik temu yang menarik antara performa high-end dengan value for money.

Motor di rentang 250–500 cc bukan sekadar alat transportasi, melainkan kendaraan lifestyle yang menawarkan fleksibilitas tinggi.

Segmentasinya terbagi dalam tiga kategori utama yakni sportbike, naked bike dan adventure.

Sportbike ditujukan bagi pengendara yang mencari sensasi racy di lintasan atau jalanan terbuka. Keunggulannya adalah aerodinamika dan tampilan yang agresif.

Sementara naked bike merupakan favorit penggunaan harian di perkotaan. Posisi berkendara yang lebih tegak memberikan kenyamanan ekstra tanpa mengorbankan performa mesin.

“Terakhir, adventure atau touring, pilihan utama bagi mereka yang gemar melakukan perjalanan jauh,” ungkap Michael D. Tanadhi, Department Head Sales & Promotion PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI).

Ia menambahkan dengan batasan harga di bawah Rp 200 juta atau lebih sedikit, konsumen memiliki akses ke berbagai pilihan dari pabrikan Jepang hingga Eropa.

 

“Rentang harga ini memungkinkan calon pembeli mendapatkan motor dengan spesifikasi yang sangat mumpuni,” jelasnya.

Hal yang sama juga dinyatakan jaringan motor Triumph, Robby Tamaro Yohannes, Head Of Sales PT Moto World International mengatakan pihaknya melihat potensi segmen di bawah 500 cc sangat positif, terutama di kondisi pasar saat ini.

“Kami tahu bahwa industri otomotif saat ini sedang menghadapi beberapa tantangan, sepert fluktuasi kurs, kenaikan biaya logistik, serta penyesuaian bahan bakar,” tambahnya.

Kondisi ini tentunya membuat bikers semakin selektif dalam memilih kendaraan premium seperti moge alias motor gede.

“Di sinilah kami melihat line-up 400 cc menjadi sangat relevan,” kata Robby.

“Konsumen tetap ingin miliki motor dengan karakter kuat, desain premium, kualitas engineering yang baik dan brand heritage yang jelas, tetapi dengan pilihan yang lebih accessible dan lebih rasional untuk digunakan di Indonesia,” sebutnya.

Untuk potensi penjualan motor di segmen menengah ini, Michael memprediksi tetap stabil.

“Banyak pemilik motor 150 cc yang mulai menabung untuk beralih ke mesin yang lebih besar untuk pengalaman berkendara yang lebih memuaskan,” jelasnya.

 

Yang juga perlu diperhatikan kebutuhan weekend.

“Tren riding santai di akhir pekan membuat permintaan akan motor yang nyaman untuk perjalanan jarak menengah tetap tinggi. Pilihannya di kelas medium ini,” bilangnya. (Isal, Naufal, Hend)

JEMBATAN KE MOTOR YANG LEBIH GEDE LAGI

Motor berkapasitas 250 cc hingga 500 cc bisa dibilang menjadi salah satu segmen yang cukup menarik di Indonesia.

Kelas ini kerap disebut sebagai “jembatan” bagi pengendara yang ingin naik kelas ke motor gede (moge), namun belum siap langsung ke kapasitas mesin 700-800 cc ke atas, apalagi lebih dari 1.000 cc.

Di segmen medium ini, performa yang ditawarkan sudah jauh lebih bertenaga dibanding motor 150 cc hingga 250 cc pada umumnya.

Meski begitu, karakter motornya masih relatif mudah dikendalikan, bobotnya tidak terlalu berat, serta biaya operasional seperti pajak dan perawatan cenderung lebih terjangkau dibanding moge besar.

Ahmad Muhibbudin, General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM), menjelaskan bahwa pasar motor di atas 1.000 cc memang lebih terbatas, baik dari sisi model maupun volume penjualannya.

“Tentu move (penjualan) motor di atas 1.000 cc lebih sedikit karena secara model juga relatif tidak sebanyak segmen 250-600 cc. Secara price motor 1.000 cc ke atas juga lebih mahal (ketimbang motor 250-600 cc),” ujarnya saat dihubungi OTOMOTIF, Jumat (19/6/2026).

 

Dengan kondisi tersebut, segmen 250 cc hingga 500 cc menjadi pilihan yang lebih realistis bagi banyak konsumen yang ingin merasakan sensasi berkendara moge.

Selain faktor harga, struktur pajak juga turut memengaruhi dinamika pasar di kelas ini.

Komponen seperti bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ikut menentukan banderol akhir sebuah motor, terutama untuk model yang masih diimpor utuh.

“Tentu ini memengaruhi harga jual. Konsumen di segmen ini punya pertimbangan tersendiri untuk memilih motor yang disukai, sesuai hobi, dan preferensi masing-masing,” tambah pria yang akrab disapa Muhib tersebut.

Artinya, meski harga menjadi faktor penting, keputusan pembelian di segmen ini tidak sepenuhnya rasional. Unsur gaya hidup, hobi, hingga karakter motor tetap menjadi pertimbangan utama.

Adapun di kelas ini, AHM memiliki dua lini produk yang bermain di segmen medium, di antaranya Honda Rebel 500 dan Honda CB500X. Saat ini, Honda Rebel 500 dibanderol Rp 209,352 juta.

Sementara Honda CB500X dijual dengan harga Rp 207,085 juta (OTR Jakarta).

PASRAH KENA TARIF PAJAK MOGE

Tarif pajak moge salah satu komponen penting dalam menentukan harga jual. Ada beberapa komponen pajak yang berbeda terkait dengan motor gede ini.

 

Yakni Pajak Pertambangan Nilai (PPN) dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM). Bicara pajak, penjual dan pembeli sama-sama pasrah ikut aturan yang berlaku meski kena biaya gede.

Untuk PPN daftar barang yang terdampak pajak penambahan nilai (PPN) 12 persen mulai 1 Januari 2025.

Bila mengacu pada aturan tersebut, untuk sepeda motor, berdasarkan PMK No. 141 Tahun 2021 itu, tidak semua sepeda motor dikategorikan barang mewah dan dibebankan PPnBM.

Berdasarkan Pasal 22 dan 23, sepeda motor yang dikategorikan mewah adalah motor dengan mesin lebih dari 250 cc sampai dengan 500 cc, serta motor 500 cc ke atas.

Berdasarkan aturan itu, motor dengan isi silinder lebih dari 250 cc sampai 500 cc dikenakan PPnBM sebesar 60 persen.

Sedangkan moge dengan mesin 500 cc ke atas dikenakan PPnBM sebesar 95 persen.

Sementara untuk PPN, sebagai produk yang terkena tarif PPnBM, maka motor gede dikenakan tarif baru yakni 12 persen.

Sementara untuk motor di bawah kapasitas 250 cc yang tidak terkena tarif PPnBM masih menggunakan tarif lama yakni 11 persen.

Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 07/XXXVI 25 Juni 2026

Copyright Infomalangraya.net2026

Related Article

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version