Ringkasan Berita:

  • Zeliaze Gallery di Lampung Selatan sukses mengembangkan produk fesyen etnik Lampung hingga pasar internasional.
  • Galeri ini menghadirkan inovasi batik bertapis yang memadukan kain batik dengan ornamen khas Lampung.
  • Produk yang dihasilkan mencakup kain tapis, tas, hingga aksesori dengan harga mencapai puluhan juta rupiah.

Infomalangraya.net, Lampung Selatan –Sejumlah kain tersusun rapi di tembok ruangan Zeliaze Gallery mempertontonkan motif tekstil dengan ciri khas Lampung, Sabtu (29/8/2026).

Berbagai produk berbasis kain tradisional Lampung ada di galeri yang berlokasi di Way Hui, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan tersebut.

Zeliaze Gallery, tumbuh menjadi salah satu usaha fashion etnik yang terus mengembangkan produk khas Lampung hingga menembus pasar internasional.

Kepala Toko Zeliaze Gallery, Fajrien Cantika (24), menceritakan perjuangan panjang usaha yang awalnya bergerak di bidang batik Pekalongan sejak 2015.

“Awalnya kita di batik. Dari 2015 sampai 2016, ibu mendirikan batik Pekalongan. Setelah itu ibu beralih ke tapis,” ujar Cantika Sabtu (29/8/2026).

Ketertarikan terhadap tapis kemudian berkembang menjadi sebuah usaha yang lebih serius. Hingga pada 2020, Zeliaze Gallery resmi berdiri sebagai galeri yang menghadirkan berbagai produk berbasis kain tradisional Lampung.

Kini, sekitar enam tahun berjalan, Zeliaze Gallery tidak hanya menjual kain tapis. Beragam produk turunan seperti tas, aksesori, suvenir, hingga busana turut diproduksi dengan mengedepankan sentuhan etnik Lampung.

Hadirkan Inovasi Batik Bertapis

Salah satu inovasi yang menjadi daya tarik Zeliaze Gallery adalah batik bertapis. Produk tersebut memadukan kain batik dengan ornamen tapis Lampung sehingga menghasilkan tampilan yang lebih elegan sekaligus tetap membawa identitas budaya daerah.

Produk batik bertapis ini mulai dikembangkan sekitar dua tahun terakhir dan menjadi salah satu produk yang best seller.

Konsep tersebut lahir dari keinginan untuk membuat kain tradisional tampil lebih modern dan mudah digunakan dalam berbagai kesempatan.

“Supaya batik terlihat semakin wah dan elegan. Jadi tidak hanya motif batiknya, tetapi ada sedikit ornamen tapis, seperti pucuk rebung dan motif siger,” kata Cantika.

Tidak berhenti pada batik Pekalongan, Zeliaze Gallery juga mengembangkan batik Lampung dengan pewarna alam yang kemudian diberi sentuhan tapis.

Menariknya, pewarna alami yang digunakan antara lain berasal dari bahan-bahan lokal seperti kulit jengkol dan kayu tingi.

Inovasi tersebut menjadi salah satu produk yang cukup diminati pelanggan karena menawarkan karakter yang berbeda dari kain batik maupun tapis pada umumnya.

Produksi Puluhan Kain Setiap Bulan

Seluruh proses pembuatan kain hingga pengerjaan tapis dilakukan melalui rumah produksi.

Dalam satu bulan, produksi kain dapat mencapai sekitar 20 hingga 25 kain, tergantung pesanan dan tingkat kerumitan motif.

Untuk kain tapis, harga yang ditawarkan berada di kisaran Rp2,5 juta hingga Rp10 juta untuk motif-motif modern. Sementara kain dengan motif klasik dan langka dapat mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta.

Adapun batik bertapis dibanderol mulai sekitar Rp1,5 juta hingga Rp8 juta, tergantung motif, tingkat kerapatan, serta jenis benang yang digunakan.

Zeliaze Gallery juga menyediakan berbagai souvenir dengan harga yang lebih terjangkau, mulai dari sekitar Rp15 ribu hingga Rp2 juta.

Pelanggan bahkan dapat melakukan pemesanan secara custom. Mulai dari pemilihan motif, jenis tenunan, hingga penggunaan benang emas, kristal, maupun silver dapat disesuaikan.

Namun, pesanan khusus tentu membutuhkan waktu pengerjaan. Satu kain dapat membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan, terutama jika memiliki motif yang penuh dan tingkat pengerjaan yang lebih rumit.

Dari Lampung Menjangkau Pasar Dunia

Kekuatan produk lokal tersebut rupanya tidak hanya menarik perhatian konsumen dalam negeri.

Zeliaze Gallery telah mengirim produknya ke berbagai negara, mulai dari Rusia, Australia, Belanda hingga kawasan Makkah. Pengiriman ke luar negeri menjadi salah satu bukti bahwa kain tradisional Lampung memiliki peluang untuk diterima di pasar global.

“Terakhir kita ke Rusia. Ada ke Australia, Belanda, terus ke Makkah juga sudah pernah kirim,” tutur Cantika.

Untuk produk yang paling banyak diminati, kain tapis masih menjadi salah satu primadona. Selain itu, sejumlah souvenir seperti jam dinding dan tas juga disebut cukup laris.

Bertahan di Tengah Era Digital

Perjalanan bisnis selama enam tahun tentu tidak selalu berjalan mulus. Seperti industri fesyen pada umumnya, penjualan Zeliaze Gallery juga mengalami pasang surut.

Fajrien mengatakan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mempertahankan minat konsumen di tengah perubahan perilaku belanja yang semakin bergeser ke ranah digital.

Karena itu, Zeliaze Gallery sejak awal telah memanfaatkan penjualan secara online melalui instagram dan platform digital lainnya.

Ketika kondisi pasar sedang sepi, promosi melalui media sosial dan pembuatan konten menjadi salah satu strategi untuk kembali menarik perhatian konsumen.

“Kalau pasang surut, di saat kita lagi sepi, bagaimana caranya kita meramaikan lagi. Jadi bikin video yang online-online, bagaimana caranya customer tertarik lagi,” jelasnya.

Strategi digital tersebut menjadi penting karena pelanggan tidak lagi hanya datang langsung ke galeri. Produk harus diperkenalkan secara konsisten melalui platform digital agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Menjaga Kualitas Sebelum Produk Dipasarkan

Meski melayani pasar yang luas, termasuk konsumen dari luar negeri, Zeliaze Gallery berupaya menjaga kualitas produknya.

Sebelum dipajang dan ditawarkan kepada konsumen, setiap produk terlebih dahulu diperiksa dari sisi kerapian dan kelayakannya.

Hal itu dilakukan untuk memastikan produk yang sampai ke tangan pelanggan telah memenuhi standar yang ditetapkan galeri.

“Kita mementingkan selain produknya yang harus go international, kita lihat juga sebelum kita pajang, sebelum kita tampilkan, ini sudah layak belum. Kita cross-check lagi kerapihannya, kelayakannya,” ujar Cantika.

Menurutnya, perhatian terhadap detail tersebut turut membuat keluhan pelanggan relatif minim.

Omzet Bisa Capai Rp250 Juta Sebulan

Di tengah persaingan industri fesyen dan kondisi pasar yang fluktuatif, Zeliaze Gallery mampu mencatat omzet hingga sekitar Rp250 juta dalam satu bulan.

Namun, angka tersebut merupakan omzet kotor dan tidak selalu diperoleh setiap bulan karena penjualan mengalami kenaikan dan penurunan.

Bagi Zeliaze Gallery, perjalanan dari batik Pekalongan menuju tapis bukan sekadar perubahan produk. Perjalanan itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan kain tradisional Lampung dalam bentuk yang lebih modern tanpa kehilangan identitas budayanya.

(Infomalangraya.net/ Bintang Puji Anggraini)

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version