Tren Pasar Otomotif Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Kondisi politik global yang ditandai oleh konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi memberikan dampak signifikan terhadap penjualan mobil, baik secara global maupun di Indonesia. Berbagai tren utama menunjukkan adanya tantangan daya beli, pergeseran ke kendaraan listrik (EV), serta fluktuasi pasar akibat ketegangan politik.
Meskipun pasar otomotif secara keseluruhan mengalami penurunan, penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia justru menunjukkan peningkatan. Hal ini didorong oleh harga yang semakin terjangkau dan permintaan yang meningkat dari masyarakat. GAIKINDO mencatat sinyal positif pada Februari 2026, di mana penjualan mobil ritel sempat meningkat sebesar 6,9% dibandingkan periode sebelumnya.

Penjualan Mobil Listrik Meningkat Pesat
Penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia menunjukkan tren kenaikan pada Februari 2026. Berdasarkan data wholesales dari GAIKINDO, total distribusi mobil listrik dari pabrik ke dealer mencapai 12.272 unit dalam satu bulan. Angka tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sebanyak 10.236 unit.
Kenaikan ini menandakan permintaan kendaraan listrik di pasar domestik masih terus bertumbuh, sekaligus menunjukkan produsen mulai meningkatkan suplai untuk mengimbangi permintaan. Seiring dengan meningkatnya penjualan, kapasitas produksi kendaraan listrik juga ikut didongkrak. Data yang sama mencatat produksi BEV di dalam negeri mencapai 5.334 unit pada Februari 2026, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Perusahaan Pemain Utama di Pasar EV
Dari sisi merek, BYD menjadi pemain dengan penjualan tertinggi pada Februari 2026. Pabrikan asal Cina tersebut mencatat wholesales sebanyak 4.653 unit hanya dalam satu bulan. Secara kumulatif sejak Januari 2026, penjualan BYD sudah mencapai 9.532 unit.
Sementara itu, merek Jaecoo juga menunjukkan performa yang cukup menonjol. Salah satu modelnya, Jaecoo J5 Premium, mencatat penjualan sebanyak 2.926 unit pada Februari 2026. Jika dihitung secara kumulatif sejak awal tahun, total wholesales Jaecoo sudah mencapai 4.868 unit.
Di posisi berikutnya, Wuling Motors juga berhasil menembus angka penjualan di atas 1.000 unit dalam satu bulan. Pada Februari 2026, wholesales mobil listrik Wuling tercatat sebanyak 1.124 unit, dengan total kumulatif tahun berjalan mencapai 1.992 unit. Marketing Operation Director Wuling Motors, Ricky Christian, mengatakan peningkatan penjualan dari Januari ke Februari mencapai sekitar 20 persen.
Tren ini sejalan dengan pertumbuhan pasar otomotif nasional pada periode yang sama. Selain Wuling, merek Geely juga berhasil melampaui penjualan 1.000 unit pada Februari 2026. Pencapaian ini semakin memperketat persaingan di segmen kendaraan listrik yang saat ini semakin ramai di pasar otomotif Indonesia.
Solusi Mobilitas Hemat dan Berkelanjutan
“Harga BBM naik atau tidak, Geely tetap menghadirkan solusi mobilitas yang lebih hemat dan berkelanjutan,” jelas Constantinus Herlijoso, Sales & Channel Development Director Geely Auto Indonesia. Menurut Joso, untuk kebutuhan harian, kendaraan elektrifikasi seperti EV dan PHEV terbukti mampu menekan biaya operasional hingga 50%-70% dibandingkan kendaraan konvensional.
“Kami memahami bahwa setiap konsumen memiliki kesiapan yang berbeda dalam beralih ke elektrifikasi,” jelasnya. Karena itu, Geely menghadirkan pilihan teknologi yang fleksibel, mulai dari EV hingga PHEV, agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Didukung teknologi dan sistem keamanan baterai yang canggih, kendaraan elektrifikasi Geely kini mampu menempuh jarak cukup jauh. Geely EX5 dapat menempuh hingga 495 km, Geely EX2 mencapai 395 km, sementara Geely Starray EM-i memiliki jarak tempuh gabungan lebih dari 1.000 km dalam satu kali pengisian bensin dan daya. Seluruhnya telah dilengkapi teknologi fast charging, menjadikannya pilihan praktis untuk penggunaan harian maupun perjalanan jarak jauh.
Komitmen Terhadap Teknologi Elektrifikasi
Produsen Xpeng menilai, krisis energi terutama dari sisi minyak bumi memberikan indikasi pentingnya energi alternatif terbarukan. Salah satunya adalah BEV yang mana memberikan lebih banyak alternatif terhadap pasokan listriknya.
“Dari sisi biaya operasional (cost of ownership) dan biaya kepemilikan kendaraan (harga beli) yang ekonomis. Hal ini terkait pada perangkat penggerak kendaraan yang lebih compact dibandingkan kendaraan ICE (Internal Combustion Engine) dan juga hybrid,” jelas Hari Arifianto, Vice President (VP) Marketing Xpeng Indonesia.
Langkah Pemerintah dan Perusahaan Otomotif
Toyota Astra Motor (TAM) sangat mengapresiasi langkah pemerintah dalam menahan kenaikan harga BBM pasca kenaikan harga minyak mentah. “Sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional,” ungkap Philardi ‘Ogy’ Sobari, Head of Public Relations PT TAM. Hingga saat ini, menurut Ogy, pihaknya belum melihat adanya dampak langsung dari konflik tersebut terhadap kondisi di Indonesia.
“Sehingga dari sisi permintaan masyarakat, juga belum terlihat adanya pergeseran yang signifikan,” jelasnya. Namun demikian, untuk ke depannya, Toyota tetap berkomitmen untuk mengedepankan teknologi yang ramah terhadap penggunaan bahan bakar fosil.
“Hal ini diwujudkan melalui kehadiran berbagai teknologi elektrifikasi. Toyota terus mendukung langkah kolektif bersama pemerintah dan industri dalam mengurangi konsumsi BBM berbasis fosil,” jelas Ogy. Mulai dari Hybrid EV, Plug-In Hybrid EV, Battery EV, hingga pemanfaatan biofuel baik pada kendaraan diesel maupun gasoline.
PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) memastikan akan meluncurkan mobil hybrid terbaru di Tanah Air. Kendaraan tersebut, kata mereka, akan melakoni debutnya pada semester kedua tahun ini. Kepastian mobil hybrid Mitsubishi meluncur di Indonesia tahun ini disampaikan Atsushi Kurita Presiden Direktur PT MMKSI. Namun sayangnya, Atsushi Kurita belum mau membuka lebar infonya.
Sekadar diketahui, sebelumnya di Thailand, Mitsubishi telah meluncurkan Xpander Hybrid dan Xforce Hybrid dengan harga mulai dari 899.000 hingga 939.000 Baht (sekitar Rp 480-500 jutaan). Model ini menawarkan efisiensi bahan bakar tinggi, diklaim 20-22 km/liter untuk Xpander dan mengusung teknologi canggih seperti sistem Full Hybrid dan Active Yaw Control. Apakah tipe ini yang akan meluncur tahun ini? Kita lihat saja.





