Latihan Militer Iran dan Rusia di Laut Oman

Iran dan Rusia akan mengadakan latihan angkatan laut di Laut Oman dan bagian utara Samudra Hindia pada hari Kamis (19/2/2026). Lokasi latihan ini dilaporkan sangat dekat dengan posisi kapal induk AS USS Abraham Lincoln, yang disiagakan untuk mengancam Iran. Latihan ini terjadi beberapa hari setelah Garda Revolusi Iran melakukan latihan militer di Selat Hormuz.

Tujuan utama dari latihan ini adalah untuk menciptakan konvergensi dan koordinasi dalam langkah-langkah bersama untuk melawan aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan maritim serta memerangi terorisme mariti. Seorang komandan angkatan laut Iran, Hassan Maghsoodloo, menyampaikan pernyataan tersebut.

Data pelacakan publik yang diterbitkan oleh Institut Angkatan Laut Amerika Serikat menunjukkan bahwa USS Abraham Lincoln mungkin berada di sekitar lokasi latihan tersebut. Seorang pejabat senior Kremlin juga telah memperingatkan bahwa angkatan laut Rusia dapat dikerahkan untuk menghentikan negara-negara Barat menyita kapal-kapal Rusia sebagai bagian dari sanksi terhadap pengiriman minyak negara tersebut dan apa yang disebut “armada bayangan” Moskow.

Nikolai Patrushev, seorang pembantu Kremlin yang bertanggung jawab atas pelayaran dan sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, mengatakan bahwa Rusia perlu mengirimkan pesan yang kuat – khususnya ke Inggris, Prancis dan negara-negara Baltik. Ancaman ini dilayangkan menyusul sejumlah pembajakan kapal yang dilakukan AS dan sekutu di NATO atas kapal-kapal minyak dari Venezuela dan Iran yang disebut menuju China dan Iran.



Video pembajakan yang dilakukan pasukan Angkatan Laut AS terhadap tanker Venezuela, Rabu (10/12/2025). (X/Jaksa Agung AS Pam Bondi)

Mantan kepala Intelijen Militer IDF Amos Yadlin menyatakan bahwa konfrontasi militer antara AS dan Iran dapat dimulai dalam beberapa hari mendatang. “Pekan lalu saya terbang ke Konferensi Keamanan Munich. Sekarang saya akan berpikir dua kali untuk terbang [ke luar negeri dari Israel] akhir pekan ini,” kata Yadlin kepada Channel 12.

Kemarin, ketika perunding AS dan Iran mengadakan pembicaraan untuk kedua kalinya, data pelacakan penerbangan sumber terbuka menunjukkan bahwa militer AS telah memindahkan puluhan jet tempur ke Timur Tengah dalam sehari. Amerika telah mengerahkan dua kapal induk ke wilayah tersebut. Yang pertama – USS Abraham Lincoln, dengan hampir 80 pesawat – diposisikan sekitar 700 km dari pantai Iran pada Ahad, menurut gambar satelit.



Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. – (Wikimedia Commons)

Lokasinya menempatkan setidaknya selusin jet tempur F‑35 dan F‑18 AS dalam jarak serangan. Kapal intuk kedua, USS Gerald Ford dikirim pada akhir pekan. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei pada hari Selasa memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang AS. “Kapal perang tentu merupakan senjata yang berbahaya, namun yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” ujarnya.

Perundingan Nuklir Antara AS dan Iran

Jalannya perundingan… Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa “kemajuan baik” telah dicapai dalam perundingan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat, seiring dengan peringatan Washington bahwa tindakan militer tetap menjadi pilihan jika diplomasi gagal.

Pembicaraan tersebut, yang dimediasi oleh Oman, diadakan di kota Jenewa, Swiss, pada Selasa dengan latar belakang meningkatnya kekuatan militer kedua belah pihak di kawasan Teluk. “Pada akhirnya, kami dapat mencapai kesepakatan luas mengenai serangkaian prinsip panduan, yang menjadi landasan kami akan bergerak maju dan mulai mengerjakan teks kesepakatan potensial,” kata Araghchi kepada televisi pemerintah setelah pembicaraan.

“Kemajuan yang baik” telah dicapai, dibandingkan dengan putaran sebelumnya di Oman awal bulan ini,” katanya. “Kami sekarang memiliki jalur yang jelas ke depan, yang menurut saya positif.” Dia mengakui akan memerlukan waktu untuk mempersempit kesenjangan antar kedua negara.



Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi di Muscat, Oman, 6 Februari 2026. – (Kemenlu Iran/WANA via Reuters)

Di Washington, DC, Wakil Presiden AS JD Vance juga menunjukkan bahwa negaranya lebih menyukai diplomasi, namun memberikan gambaran yang lebih beragam. “Dalam beberapa hal, semuanya berjalan baik; mereka sepakat untuk bertemu setelahnya,” kata Vance dalam wawancara dengan Fox News. “Tetapi di sisi lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa batasan yang belum mau diakui dan diselesaikan oleh Iran,” kata Vance kepada program The Story with Martha MacCallum. “Kami akan terus mengupayakannya. Namun tentu saja, presiden berhak mengatakan kapan menurutnya diplomasi telah mencapai tujuan alaminya,” kata Vance.

Iran selama bertahun-tahun telah meminta keringanan dari sanksi besar yang diberlakukan AS, termasuk larangan yang diberlakukan Washington terhadap negara lain untuk membeli minyaknya. Teheran mengatakan pihaknya ingin pembicaraan yang sedang berlangsung fokus pada program pengayaan uraniumnya, dan menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi Iran sambil menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya. Washington telah menuntut Iran untuk tidak melakukan pengayaan uranium di wilayahnya, dan berupaya memperluas ruang lingkup perundingan ke isu-isu non-nuklir, seperti persediaan rudal Teheran. Iran mengatakan pihaknya tidak akan menerima pengayaan uranium pada titik nol dan kemampuan rudalnya tak bisa dikompromikan.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version