Tradisi Bubur Muhdhor di Masjid Muhdhor Tuban
Di tengah keramaian bulan Ramadan, masyarakat Tuban khususnya warga Kelurahan Sidomulyo memiliki tradisi unik yang telah berlangsung selama lebih dari 80 tahun. Tradisi ini adalah penyajian bubur Muhdhor, sebuah hidangan khas Timur Tengah yang hanya tersaji selama bulan suci tersebut. Proses pembuatannya melibatkan partisipasi aktif para pengurus masjid dan warga sekitar.
Sejarah dan Perkembangan Bubur Muhdhor
Bubur Muhdhor pertama kali dimasak sebagai bentuk kepedulian terhadap fakir miskin yang sedang berpuasa. Namun, seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat. Saat ini, bubur tersebut dibagikan kepada umum, baik untuk berbuka puasa maupun untuk keperluan kebersamaan di masjid.
Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1937 dan hingga kini masih dipertahankan dengan penuh semangat oleh masyarakat Tuban. Menurut Agil Bunamay, takmir masjid, banyak daerah lain mulai beralih ke makanan instan karena proses memasak bubur Muhdhor membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar.
Proses Pembuatan Bubur Muhdhor
Setiap hari selama Ramadan, pengurus masjid bersama warga sekitar mengumpulkan bahan-bahan utama seperti daging kambing sekitar 10 kilogram, beras 30 kilogram, kelapa 20 butir, serta berbagai rempah-rempah seperti kayu manis. Bahan-bahan ini disiapkan oleh ibu-ibu setempat sebelum akhirnya dimasak.
Proses memasak bubur Muhdhor memakan waktu sekitar tiga jam. Selama itu, sang juru masak harus terus mengaduk adonan bubur di kuali agar tekstur yang diinginkan tercapai. Pemrosesan ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena rasa dan kualitas bubur sangat bergantung pada kesabaran dan ketelitian.
Antrean dan Minat Masyarakat
Menjelang azan Magrib, antrean panjang terlihat memenuhi area masjid. Warga sekitar bahkan dari luar Kecamatan Tuban rela mengantri dan berdesak-desakan hanya untuk menikmati sepiring bubur Muhdhor. Salah satu warga, Ahmad Basori (61), mengatakan bahwa ia selalu antre sejak pukul 16.00 WIB demi mendapatkan bubur tersebut.
Ahmad menyebutkan bahwa bubur Muhdhor memiliki cita rasa yang kaya akan rempah-rempah dan cukup mengenyangkan. Ia juga menilai bahwa bubur ini baik untuk kesehatan karena mengandung banyak rempah-rempah alami.
Jumlah Porsi dan Distribusi
Dalam sekali memasak, bubur Muhdhor dapat menghasilkan sekitar 400 hingga 500 porsi. Hidangan ini nantinya akan dibagikan kepada masyarakat dan sebagian digunakan untuk menu berbuka puasa bersama di masjid Muhdhor selama bulan Ramadan.
Kesimpulan
Bubur Muhdhor bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga simbol tradisi dan kebersamaan yang kuat dalam masyarakat Tuban. Dengan rasa yang khas dan proses pembuatan yang memakan waktu, bubur ini menjadi salah satu daya tarik utama di Masjid Muhdhor selama bulan Ramadan. Meski banyak daerah lain beralih ke makanan instan, masyarakat Tuban tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya mereka.





